- Reni Wulandari, perempuan pertama yang jabat Direktur Operasi SIG dengan 25 tahun pengalaman.
- SIG terapkan kesetaraan gender berbasis meritokrasi untuk dongkrak profit dan inovasi bisnis.
- Kebijakan inklusif SIG dukung talenta perempuan lewat fasilitas kerja dan perlindungan hukum.
Suara.com - Momentum Hari Kartini tahun 2026 menjadi potret nyata bagi emansipasi perempuan di sektor industri strategis tanah air. Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Reni Wulandari, Direktur Operasi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG). Ia membuktikan bahwa industri semen yang identik dengan "dunia laki-laki" kini bukan lagi penghalang bagi perempuan untuk memegang kendali pimpinan.
Reni merupakan profesional dengan rekam jejak mentereng selama lebih dari 25 tahun di industri semen. Menariknya, sebagian besar perjalanan kariernya justru ditempa di area operasi yang dikenal keras dan didominasi maskulinitas. Dedikasi tinggi membawanya mencetak sejarah sebagai perempuan pertama yang menduduki kursi Direktur Operasi di SIG sejak April 2023.
Lulusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro dan peraih gelar Magister Business Administration dari Swiss German University ini mengawali langkahnya dari posisi General Manager Pabrik Tuban hingga Pabrik Narogong di PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI). Kariernya terus melesat hingga menjabat Direktur Operasi PT Semen Gresik sebelum akhirnya dipercaya memimpin operasional seluruh grup SIG.
“Sejak hari pertama mengemban amanah, saya menerapkan pendekatan Visible-Felt Leadership. Kehadiran pemimpin dan interaksi langsung di lapangan sangat penting, terutama di area operasi,” ujar Reni kepada redaksi, Selasa (21/4/2026).
Penerima penghargaan The Most Extraordinary Women Business Leaders 2024 ini menegaskan bahwa kesetaraan gender di lingkungan SIG bukan sekadar jargon di atas kertas. Baginya, kesetaraan bukan didapat melalui debat, melainkan melalui pembuktian kompetensi.
“Bukan melalui argumentasi untuk memperoleh perlakuan setara, tetapi dengan menunjukkan bahwa kesetaraan gender mampu meningkatkan profitabilitas, inovasi, dan produktivitas melalui keberagaman perspektif,” tegasnya.
Senada dengan semangat Kartini, Direktur Human Capital SIG, Hadi Setiadi mengungkapkan bahwa perusahaan memiliki kebijakan Fair Employment Opportunity Policy. Kebijakan ini menjamin kesempatan yang adil bagi seluruh karyawan tanpa memandang gender, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB).
“Kami memastikan tidak ada diskriminasi. Seluruh proses rekrutmen hingga seleksi manajemen senior dilakukan secara transparan berdasarkan kualifikasi dan profesionalisme,” jelas Hadi.
Guna mendukung produktivitas karyawan perempuan, SIG menyediakan fasilitas penunjang seperti ruang laktasi, cuti melahirkan, hingga dispensasi haid. Tak hanya itu, wadah ‘Srikandi SIG’ dibentuk untuk memberdayakan talenta perempuan melalui berbagai program pengembangan.
“SIG juga menerapkan Respectful Workplace Policy untuk melindungi seluruh insan perusahaan dari segala bentuk pelecehan. Kami ingin menciptakan lingkungan kerja yang aman, kondusif, dan produktif bagi siapa saja,” pungkasnya.
Langkah SIG ini menjadi bukti nyata bahwa di tangan "Kartini modern" seperti Reni Wulandari, industri berat nasional mampu terus tumbuh dengan perspektif yang lebih inklusif dan kompetitif.