- Konflik perang antara Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu setelah upaya perundingan damai mengalami kegagalan total.
- Presiden Trump menuntut penghentian ambisi nuklir Iran, sementara Teheran mencari dukungan diplomatik ke Rusia pada Senin (27/4/2026).
- Blokade jalur pelayaran di Teluk menyebabkan kenaikan harga minyak dunia serta memicu pelemahan pada bursa saham Amerika Serikat.
Suara.com - Upaya untuk mengakhiri perang selama dua bulan antara Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu pada awal pekan ini.
Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa bola kini berada di tangan Teheran jika ingin merundingkan penghentian konflik, sementara Menteri Luar Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mendarat di Rusia untuk mencari dukungan dari Presiden Vladimir Putin.
Harapan untuk menghidupkan kembali upaya perdamaian meredup pada Sabtu lalu setelah Trump membatalkan kunjungan utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad.
Di tengah kebuntuan ini, harga minyak dunia merangkak naik dan bursa saham AS melemah pada perdagangan Asia hari Senin (27/4/2026), seiring masih terblokadenya jalur pelayaran vital di Teluk.
Pantauan Redaksi Suara.com pada Senin (27/4/2026) siang, harga minyak mentah WTO bergerak di kisaran US$ 96.27 per barel. Menguat sangat tinggi setelah sempat stabil di angka US$82.
Sementara, harga minyak Brent kembali mencapai level di atas US$ 100, tepatnya US$ 107.63 per barel.
Trump Ngambek Tuntut Iran
Dalam wawancara dengan Fox News pada hari Minggu, Trump menyatakan kesiapannya untuk berdialog, namun dengan syarat yang kaku. Ia menegaskan tidak akan ada pertemuan jika Iran tidak melepaskan ambisi nuklirnya.
"Jika mereka ingin bicara, mereka bisa datang atau menelepon kami. Anda tahu, ada telepon. Kami punya jalur komunikasi yang bagus dan aman," ujar Trump. "Kesepakatannya sangat sederhana: Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Jika tidak, tidak ada alasan untuk bertemu."
Hal ini cukup kontras dengan AS yang hingga kini masih terus getol mengembangkan senjata nuklir.
Konflik yang dipicu oleh serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu ini telah menewaskan ribuan orang, memicu inflasi global, dan mengganggu pertumbuhan ekonomi dunia.
Manuver Diplomatik Iran ke Moskow
Setelah melakukan pembicaraan maraton melalui mediator di Pakistan dan Oman, Menlu Iran Abbas Araqchi terbang ke Rusia pada Senin pagi.
Duta Besar Iran di Rusia, Kazem Jalali, menyebut kunjungan ini sebagai bagian dari "jihad diplomatik" untuk menghadapi ancaman eksternal.
Jalali menegaskan bahwa Iran dan Rusia berada dalam "front persatuan" melawan kekuatan totaliter dunia dan dominasi Barat. Posisi Rusia dianggap krusial bagi Teheran yang saat ini tengah menghadapi tekanan militer dan blokade pelabuhan oleh Washington.