- Produk tembakau alternatif lebih efektif bantu beralih dibanding terapi koyo/permen.
- Produk alternatif hasilkan uap (aerosol), bukan asap pembakaran mengandung tar.
- Kunci sukses beralih adalah konsistensi dan perubahan pola perilaku secara bertahap.
Suara.com - Berhenti merokok bukan perkara mudah. Banyak perokok dewasa yang gagal karena mencoba berhenti total secara tiba-tiba (cold turkey). Namun, riset terbaru dari Universitas Oxford, Inggris, membawa kabar segar bagi mereka yang ingin mencari cara lebih efektif untuk beralih dari kebiasaan merokok.
Penelitian bertajuk "Electronic cigarettes for smoking cessation: An overview of systematic reviews and evidence and gap map" yang dirilis Maret 2026 ini mengungkapkan bahwa produk tembakau alternatif memiliki potensi efektivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan metode konvensional.
Metode konvensional yang dimaksud meliputi terapi pengganti nikotin (koyo atau permen karet nikotin) hingga sekadar penyuluhan perilaku.
"Faktanya, hasil berbagai meta-analisis yang kami pelajari menunjukkan secara jelas dan konsisten bahwa produk tembakau alternatif efektif membantu orang beralih dari kebiasaan merokok," ujar Dr. Angela Difeng Wu, Peneliti Senior Universitas Oxford dalam keterangannya, dikutip Kamis (30/4/2026).
Salah satu poin krusial dalam riset tersebut adalah mengenai profil risiko. Produk tembakau alternatif—seperti vape, produk tembakau yang dipanaskan, hingga kantong nikotin—bekerja dengan cara menghasilkan aerosol atau uap air, bukan asap hasil pembakaran yang mengandung tar berbahaya.
Hal ini dianggap membantu perokok mengurangi kebiasaan lama secara perlahan. Transisi ini dinilai lebih "manusiawi" dan mudah dijalani bagi tubuh yang sudah terbiasa dengan asupan nikotin selama bertahun-tahun.
Menanggapi temuan ini, Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (AKVINDO), Paido Siahaan, menekankan bahwa teknologi hanyalah alat bantu. Kemenangan sesungguhnya ada pada niat dan konsistensi si pengguna.
"Keberhasilan proses beralih ini pada dasarnya tidak hanya ditentukan oleh produk yang digunakan, tetapi sangat bergantung pada konsistensi individu dalam mengubah kebiasaan," kata Paido.
Menurut Paido, perokok harus mengenali pemicu (trigger) seperti stres atau tekanan sosial saat nongkrong. Produk alternatif hadir untuk mengisi kekosongan asupan nikotin agar keinginan kembali ke rokok konvensional bisa ditekan, terutama di fase awal yang paling kritis.
Bagi perokok yang ingin mulai beralih, Paido menyarankan pendekatan step-by-step alias bertahap. Perubahan drastis seringkali berujung pada kegagalan atau efek yoyo.
"Tidak perlu langsung berhenti total. Mulailah dengan menggantikan satu momen merokok dalam rutinitas harian dengan produk alternatif. Pendekatan kecil namun konsisten seringkali lebih efektif dan berkelanjutan," tutupnya.