- Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang tertekan hingga level Rp17.500 akibat berbagai faktor eksternal dan domestik.
- Permintaan dolar AS meningkat karena kebutuhan korporasi, pembayaran utang luar negeri, dividen, serta keperluan ibadah haji masyarakat Indonesia.
- Bank Indonesia melakukan intervensi pasar dan optimalisasi instrumen moneter guna mengembalikan nilai tukar ke level fundamental ekonomi nasional.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) terus memastikan pergerakan nilai tukar rupiah agar stabil. Lantaran, mata uang Garuda mengalami tekanan hingga ke level Rp17.500.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa selain faktor eksternal berupa ketidakpastian global dan kenaikan harga minyak dunia.
Lalu, dinamika domestik juga turut memengaruhi stabilitas mata uang Garuda saat ini.
Destry menjelaskan bahwa lonjakan permintaan dolar AS di pasar domestik saat ini dipicu oleh faktor musiman, seperti kebutuhan korporasi untuk pembayaran Utang Luar Negeri (ULN) dan pembagian dividen.
Selain itu, meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk keperluan ibadah haji turut menjadi faktor pendorong naiknya permintaan dolar di dalam negeri.
"BI akan terus berkomitmen utk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF maupun NDF, dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah," jelasnya dalam jawaban tertulis yang diterima, Rabu (13/5/2026).
![Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan lelang perdana repo obligasi PT SMF merupakan capaian sejarah, karena BI sebelumnya hanya menerima repo dengan underlying surat berharga negara (SBN). [Suara.com/Rina Anggraeni]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/11/20/71917-deputi-gubernur-senior-bi-destry-damayanti.jpg)
Di tengah tekanan tersebut, Destry menekankan bahwa kepercayaan investor asing terhadap aset portofolio Indonesia masih menunjukkan tren positif.
Hal ini dibuktikan dengan masuknya aliran modal asing (inflows) ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencapai angka signifikan sebesar Rp61,6 triliun sepanjang bulan April.
Selain aliran modal, kondisi likuiditas valuta asing (valas) di pasar domestic juga dilaporkan masih sangat memadai.
Bank Indonesia optimis bahwa melalui langkah-langkah strategis yang telah disiapkan, pergerakan rupiah akan segera kembali ke level fundamental ekonomi yang mencerminkan kondisi riil pasar keuangan Indonesia.
"BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar Rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya," jelasnya.