- Harga minyak mentah dunia turun pada Rabu 13 Mei 2026 akibat sikap investor yang menanti perkembangan geopolitik.
- Kunjungan Presiden Donald Trump ke China untuk menemui Presiden Xi Jinping dijadwalkan berlangsung pekan ini di Beijing.
- Lonjakan harga minyak mentah memicu kenaikan inflasi di Amerika Serikat yang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global tahun ini.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia bergerak turun pada sesi perdagangan hari Rabu 13 Mei 2026, setelah sempat mencatatkan penguatan selama tiga sesi berturut-turut.
Penurunan ini terjadi di tengah sikap investor yang memilih wait and see memantau perkembangan gencatan senjata yang kian rapuh dalam perang Iran, serta rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke China untuk menggelar KTT krusial bersama Presiden Xi Jinping.
Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka merosot 82 sen atau 0,76 persen ke level 106,95 dolar AS per barel pada pukul 00.51 GMT (07.51 WIB).
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi 66 sen atau 0,65 persen ke posisi 101,52 dolar AS per barel.
Secara umum, kedua harga acuan minyak dunia tersebut terus bertengger di kisaran atau bahkan di atas level psikologis 100 dolar AS per barel sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari lalu, yang kemudian direspons Tehran dengan memblokade Selat Hormuz.
Padahal pada perdagangan Selasa kemarin, harga minyak sempat melonjak lebih dari 3 persen karena pupusnya harapan pasar akan gencatan senjata yang langgeng antara AS dan Iran.

Situasi buntu tersebut meredupkan peluang pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur logistik vital yang biasanya dilewati oleh hampir seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump pada hari Selasa menegaskan bahwa dirinya merasa tidak membutuhkan bantuan China untuk mengakhiri perang dengan Iran.
Pernyataan ini keluar meskipun prospek perdamaian semakin menipis dan Tehran justru kian memperketat kendalinya atas Selat Hormuz.
China sendiri sejauh ini tercatat sebagai pembeli minyak Iran terbesar, terlepas dari tekanan sanksi yang terus dilayangkan oleh pemerintahan Trump.
Sesuai jadwal, Trump akan bertemu dengan sejawatnya, Xi Jinping, di Beijing pada Kamis dan Jumat pekan ini.
"Melihat durasi gangguan dan besarnya potensi kehilangan pasokan, yang saat ini sudah menembus lebih dari 1 miliar barel, harga minyak kemungkinan besar akan tetap bertahan di atas 80 dolar AS per barel hingga akhir tahun ini," tulis lembaga konsultan Eurasia Group dalam nota analisisnya kepada klien.
Dampak perang dengan Iran pun mulai memukul perekonomian AS sebagai kekuatan ekonomi terbesar di dunia.
Lonjakan harga minyak mentah telah memicu kenaikan harga bahan bakar di tingkat konsumen, dan para ekonom memproyeksikan efek domino jilid dua akan semakin terasa dalam beberapa bulan ke depan.
Pada bulan April, indeks harga konsumen di AS melonjak tajam selama dua bulan berturut-turut, hingga mencatatkan kenaikan inflasi tahunan tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.