- Harga minyak mentah dunia cenderung stabil di Asia pada Selasa, 11 Mei, setelah sempat mengalami kenaikan signifikan.
- Harapan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran memudar akibat penolakan keras Presiden Trump terhadap proposal Tehran.
- Konflik tersebut memicu kekhawatiran global terhadap kelancaran distribusi pasokan minyak melalui jalur krusial Selat Hormuz di masa depan.
Suara.com - Harga minyak mentah bergerak relatif stabil di perdagangan di Asia pada Selasa 11 Mei, setelah mencatatkan lonjakan hampir 3 persen pada sesi sebelumnya.
Harga minyak stabil karena Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menyatakan rencana gencatan senjata dengan Iran kini berada dalam kondisi "kritis" (on life support), yang membuat harapan akan berakhirnya konflik kembali pupus.
Mengutip dari Investing.com, harga minyak Brent naik tipis 0,3 persen ke angka 104,52 dolar AS per barel pada pukul 00.15 GMT (07.15 WIB). Sementara West Texas Intermediate (WTI) AS naik 0.3 persen menjadi 98,33 dolar AS per barel.
Sentimen pasar saat ini masih diselimuti kekhawatiran bahwa konflik yang telah berjalan selama 10 pekan akan semakin menghambat pasokan minyak global
Kondisi ini semakin diperburuk setelah Presiden Donald Trump menolak mentah-mentah tanggapan terbaru Tehran atas proposal damai yang didukung AS, dan menyebutnya "sama sekali tidak dapat diterima".
Trump bahkan secara blak-blakan menggambarkan jawaban Tehran seperti "sampah" dan menambahkan bahwa upaya gencatan senjata kini berada di titik nadir.
![Donald Trump [The White House]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/27/67083-donald-trump.jpg)
Di sisi lain, pihak Iran membela posisinya pada hari Senin dengan menyatakan bahwa tuntutan mereka sangat sah.
Fokus utama Tehran adalah mengakhiri perang, mencabut blokade angkatan laut AS, serta memulihkan kembali aktivitas ekspor minyak mereka.
Selain itu, Tehran juga menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang, penghapusan sanksi ekonomi, serta pengakuan atas kedaulatan penuh mereka terhadap Selat Hormuz.
Pernyataan-pernyataan keras tersebut kembali memicu kekhawatiran global mengenai masa depan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Selat ini merupakan jalur logistik krusial yang dilewati oleh hampir seperlima pasokan minyak dan bahan bakar dunia.
Padahal, harga minyak sempat merosot tajam pada pekan lalu karena pasar terlanjur berekspektasi bahwa Washington dan Tehran mendekati terobosan diplomatik. Namun, harapan tersebut seketika buyar setelah pernyataan terbaru Trump keluar.
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, turut memperingatkan pekan ini bahwa seandainya Selat Hormuz langsung dibuka kembali saat ini, normalisasi arus minyak mentah global tetap akan memakan waktu berbulan-bulan.
Kini, para investor juga tengah mencermati rencana pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing akhir pekan ini. Pertemuan tersebut diproyeksikan akan ikut membahas resolusi konflik Iran, masalah perdagangan, serta ketahanan energi global.