- Kepala Ekonom Bank Permata menyatakan nilai tukar Rupiah menembus Rp17.500 per dolar AS akibat tekanan geopolitik serta energi global.
- Pelemahan terjadi sejak Mei 2026 karena tingginya permintaan dolar untuk dividen dan kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan fiskal nasional.
- Meskipun rupiah tertekan, fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh dengan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen dan cadangan devisa yang mencukupi.
Suara.com - Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai tukar Rupiah terhadap dolar AS yang kini telah menembus level Rp17.500 dipicu oleh tekanan eksternal.
Lantaran, memburuknya konflik geopolitik AS-Iran serta lonjakan harga minyak dunia yang memicu kekhawatiran inflasi.
Kondisi ini memaksa investor memindahkan asset mereka ke tempat yang lebih aman (safe haven), sehingga menekan mayoritas mata uang Asia, termasuk Indonesia yang sangat sensitif terhadap pasokan energi global.
"Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar AS, dan rupiah jatuh tajam karena kenaikan harga minyak memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi, defisit fiskal, dan pasokan energi Indonesia," katanya saat dihubungi Suara.com, Jumat (15/5/2026).
Memasuki periode Mei 2026, mata uang Garuda tercatat mengalami pelemahan sekitar 0,8 persen secara bulanan (month-to-date) atau 2,9 persen secara kuartalan (quarter-to-date).
Selain sentimen global, penyebab rupiah melemah juga dipengaruhi faktor domestik, seperti tingginya permintaan dolar untuk pembayaran dividen pada kuartal II serta kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan fiskal nasional.
![Ilustarsi [Suara.com/Ist/MSCI-Gemini]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/03/29216-ilustrasi-msci-dan-ihsg.jpg)
Hal ini diperparah dengan adanya peringatan dari MSCI serta perubahan prospek peringkat Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch, yang membuat pasar terus menguji kredibilitas kebijakan ekonomi dalam negeri.
Meski demikian, Josua menegaskan bahwa pelemahan ini tidak serta-merta menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia yang rapuh.
Ia memaparkan sejumlah penyangga ekonomi yang masih kokoh, di antaranya pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 yang mencapai 5,61 persen dan tingkat inflasi April 2026 yang tetap terkendali pada angka 2,42 persen.
"Jadi, pelemahan rupiah kali ini bukan hanya soal Indonesia, tetapi bagian dari tekanan luas terhadap mata uang negara berkembang, terutama negara pengimpor energi," jelasnya.
Terkait kekhawatiran pasar mengenai kemungkinan rupiah menyentuh level Rp18.000, Josua menilai skenario tersebut bukanlah prediksi utama, namun risikonya kini semakin terbuka.
Level tersebut bisa saja tercapai jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut dan harga minyak tetap tinggi dalam waktu lama.
"Jika respons kebijakan moneter dan fiskal dianggap tidak meyakinkan oleh pasar, maka arus modal keluar dari pasar saham dan SBN berpotensi terus berlanjut," ujar Joshua.
Selain itu, cadangan devisa Indonesia pada April 2026 masih tergolong tinggi, yakni sebesar 146,2 miliar dolar AS atau setara dengan 5,8 bulan impor.
Bank Indonesia (BI) pun dinilai masih memiliki ruang intervensi yang cukup melalui pasar spot, DNDF, hingga pembelian SBN di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas. Namun, Josua mengingatkan agar pemerintah tidak bersikap terlalu defensif.