- Pemerintah menetapkan cuti bersama pada 15 Mei 2026, menyebabkan Bursa Efek Indonesia libur selama empat hari berturut-turut.
- IHSG merosot 1,98% ke posisi 6.723 pada 13 Mei 2026 akibat aksi jual masif terkait rebalancing indeks MSCI.
- Pelemahan nilai tukar rupiah ke level Rp17.600 per dolar AS memicu kekhawatiran kenaikan harga barang kebutuhan pokok masyarakat.
Suara.com - Pemerintah secara resmi menetapkan hari Jumat, 15 Mei 2026, sebagai hari cuti bersama dalam rangka memperingati Hari Kenaikan Yesus Kristus.
Kebijakan libur nasional dan cuti bersama ini berlaku secara menyeluruh bagi instansi pemerintahan, lembaga pendidikan, hingga pelaku di industri finansial, termasuk pasar modal dalam negeri.
Sementara, hari ini, Minggu 17 Mei 2026 adalah hari libur reguler. Bagi para pelaku pasar dan investor yang memantau aktivitas operasional di Bursa Efek Indonesia (BEI), perdagangan saham dipastikan sedang berhenti untuk sementara waktu.
Hari ini, Minggu (17/5/2026), aktivitas bursa masih dalam masa libur akhir pekan, mengakhiri rangkaian libur panjang (long weekend) yang berlangsung sejak pertengahan pekan.
Jadwal Operasional BEI Pasca Libur Panjang
Berdasarkan pengumuman resmi yang dirilis oleh otoritas bursa, BEI menghentikan sementara aktivitas perdagangan dalam rangka memperingati Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus yang jatuh pada Kamis, 14 Mei 2026. Penutupan tersebut berlanjut pada Jumat, 15 Mei 2026, sejalan dengan keputusan cuti bersama dari pemerintah.
Berhentinya aktivitas transaksi selama dua hari kerja berurutan ditambah libur akhir pekan membuat pasar saham domestik jeda selama empat hari penuh. Perdagangan saham di BEI dijadwalkan akan kembali dibuka normal pada Senin, 18 Mei 2026.
Bagi para investor yang bersiap melakukan transaksi esok hari, jadwal perdagangan saham akan dimulai sesuai regulasi biasa. Sesi I akan berlangsung pada pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan Sesi II pada pukul 13.30 hingga 15.49 WIB.
IHSG Babak Belur Menjelang Jeda Libur
Meskipun para pelaku pasar menikmati libur panjang, kondisi pasar saham domestik justru sedang diselimuti awan mendung. Tepat sebelum libur dimulai, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah sangat tajam pada perdagangan Rabu (13/5/2026).
IHSG mencatatkan penurunan drastis hingga 135 poin atau terkoreksi 1,98%, yang melemparkan indeks ke posisi 6.723. Angka penutupan ini menjadi catatan minor karena mencerminkan level terendah baru IHSG dalam kurun waktu lebih dari satu tahun terakhir.
Koreksi dalam ini dipicu oleh kepanikan pasar setelah adanya keputusan rebalancing dari MSCI Global Standard Indexes. Penghapusan sejumlah saham berkapitalisasi besar (big cap) dari indeks acuan internasional tersebut memicu aksi jual masif.
Beberapa saham yang menjadi motor utama pelemahan indeks antara lain PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatama Sentosa Tbk (DSSA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Tidak hanya itu, tekanan juga meluas ke saham-saham big cap lain seperti MORA, MLPT, dan AALI.
Ditinjau dari performa sektoral, sektor material dasar menjadi klaster yang paling menderita dengan kejatuhan mencapai 4,43%. Sektor infrastruktur mengekor di zona merah dengan penurunan 2,72%.
Sektor-sektor strategis lainnya seperti energi, teknologi, keuangan, serta konsumer baik primer maupun nonprimer juga kompak tertekan. Meski begitu, sektor transportasi berhasil melawan arus dengan melonjak signifikan sebesar 4,89%, ditemani sektor industri yang menguat 1,26%.
Aksi Jual Investor Asing Tembus Rp1,53 Triliun
Perubahan komposisi pada indeks MSCI terbukti memberikan dampak psikologis dan riil yang besar bagi pergerakan dana di pasar modal. Investor asing memanfaatkan momentum sebelum libur untuk menarik dana mereka dari bursa domestik secara masif.
Pada perdagangan Rabu (13/5), investor asing membukukan nilai jual bersih (net sell) yang sangat besar, mencapai Rp1,53 triliun di seluruh pasar Indonesia. Berikut adalah daftar saham-saham berkapitalisasi besar yang paling banyak dilepas oleh investor asing:
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Nilai jual bersih mencapai Rp273,55 miar.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): Nilai jual bersih mencapai Rp139,76 miar.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN): Nilai jual bersih mencapai Rp134,73 miar.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Nilai jual bersih mencapai Rp91,76 miar.
PT Bumi Resources Tbk (BUMI): Nilai jual bersih mencapai Rp85,88 miar.
Rupiah Melemah ke Rp17.600, Beban Biaya Hidup Mengancam
Kondisi pasar modal yang tertekan semakin diperparah oleh situasi di pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan rekor terlemah baru sepanjang sejarah. Hingga Jumat (15/5), kurs rupiah bertengger di level Rp17.600 per dolar AS.
Peta ekonomi makro ini memaksa masyarakat, khususnya kelas pekerja urban di kota-kota besar, untuk mulai bersiap mengencangkan ikat pinggang karena potensi kenaikan harga barang pokok sudah di depan mata.
Struktur ekonomi Indonesia saat ini masih memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap bahan baku impor, dengan porsi mencapai 70%.
Ketergantungan ini tersebar luas di sektor-sektor vital seperti industri kimia, elektronik, tekstil, obat-obatan, minyak dan gas, hingga industri kendaraan. Komoditas dan barang jadi dari sektor-sektor ini merupakan barang yang lazim ditemui di dalam laci, kamar, maupun dapur masyarakat sehari-hari.
Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya pengadaan bahan baku impor otomatis melonjak tajam karena transaksi internasional menggunakan mata uang dolar AS. Kondisi pelik ini diamini oleh Teuku Riefky, seorang peneliti makroekonomi dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM FEB UI).
"Ini membuat cost of production (biaya produksi) produsen domestik menjadi semakin mahal," kata Teuku Riefky.
Menghadapi tekanan biaya produksi ini, dunia usaha dihadapkan pada dua pilihan sulit: menaikkan harga jual ke konsumen atau memotong margin keuntungan perusahaan.
Namun, realita di lapangan sering kali memperlihatkan bahwa produsen cenderung mengambil opsi menaikkan harga atau menerapkan strategi penghematan dengan mengurangi porsi produk (shrinkflation).