- Bank Indonesia mencatat adanya dana nganggur atau undisbursed loan perbankan sebesar Rp2.551,42 triliun hingga Mei 2026.
- Penyaluran kredit perbankan nasional pada April 2026 tumbuh positif sebesar 9,98 persen yang didorong sektor investasi.
- Industri perbankan dinilai tangguh dengan likuiditas memadai serta rasio kecukupan modal mencapai 25,09 persen pada Maret 2026.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) mencatat masih ada dana nganggur yang belum digunakan oleh perbankan.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan ketersediaan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) masih sangat besar. Adapun total yang belum digunakan mencapai Rp2.551, triliun.
"Ketersediaan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) mencapai Rp2.551,42 triliun atau setara dengan 22,57 persen dari total plafon kredit yang tersedia," katanya dalam paparan RDG secara virtual, Rabu (20/5/2026).
Namun, dia memprakirakan pertumbuhan kredit sepanjang tahun 2026 akan tetap terjaga pada kisaran 8 hingga 12 persen.
Adapun, penyaluran kredit perbankan terus memperkuat akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional dengan capaian signifikan pada April 2026 yang tumbuh sebesar 9,98 persen secara tahunan (year on year/yoy).
"Angka ini menunjukkan tren peningkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2026 yang tercatat sebesar 9,49 persen secara tahunan," bebernya.

Tren positif pertumbuhan kredit ini didorong oleh peningkatan di berbagai kelompok penggunaan sektor usaha.
Secara rinci, kredit investasi mencatatkan lonjakan tertinggi sebesar 19,48 persen secara tahunan, disusul oleh kredit konsumsi yang tumbuh 6,13 persen, serta kredit modal kerja yang meningkat sebesar 6,04 persen pada April 2026.
Selain itu, kapasitas pembiayaan perbankan juga dinilai sangat memadai. Hal ini tecermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang berada di level 25,39 persen.
Dana Pihak Ketiga (DPK) sendiri masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat sebesar 11,39 persen secara tahunan pada April 2026.
Dari sisi biaya pinjaman, efisiensi suku bunga perbankan terus ditingkatkan untuk merangsang ekonomi. Pada April 2026, rata-rata suku bunga kredit tercatat sebesar 8,73 persen, sementara suku bunga deposito untuk jangka waktu satu bulan berada di level 4,16 persen.
Di tengah situasi geopolitik global, ketahanan perbankan nasional dilaporkan tetap kuat dalam memitigasi risiko dampak perang di Timur Tengah.
Kondisi ini ditandai dengan likuiditas yang memadai, kapasitas permodalan tinggi, dan risiko kredit yang tetap rendah.
Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada Maret 2026 berada di level 25,09 persen, yang sangat tangguh dalam menyerap risiko.
Sementara itu, risiko kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) secara agregat juga terjaga rendah, yakni sebesar 2,14 persen (bruto) dan 0,83 persen (neto) pada Maret 2026.
Hasil stress test yang dilakukan Bank Indonesia menunjukkan bahwa industri perbankan tetap kokoh menghadapi berbagai risiko rambatan global berkat kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga dengan baik.
Sebagai langkah antisipatif, Bank Indonesia berkomitmen terus memperkuat implementasi kebijakan makroprudensial yang akomodatif serta bersinergi dengan Pemerintah dan KSSK guna menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong penyaluran kredit yang lebih luas bagi masyarakat.