- Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.721 per dolar AS pada Jumat, 22 Mei 2026 akibat ketidakpastian kebijakan domestik.
- Investor merespons rencana pemusatan tata kelola ekspor komoditas melalui BUMN serta menantikan pengumuman indeks MSCI pada bulan Juni mendatang.
- Data ekonomi Amerika Serikat yang tangguh menahan ekspektasi pelonggaran moneter, meskipun optimisme kesepakatan perdamaian sempat menahan penguatan dolar AS.
Suara.com - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dipengaruhi ketidakpastian kebijakan domestik. Nilai tukar rupiah pada Jumat pagi (22/5/2026) bergerak melemah 10 poin atau 0,06 persen menjadi Rp17.677 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.667 per dolar AS.
Sementara pada Jumat siang, nilai tukar rupiah bergerak menjadi Rp17.721 per dolar AS. Josua memperkirakan rupiah akan berkisar Rp17.600-Rp17.725 per dolar AS.
“Rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS, dipengaruhi oleh ketidakpastian kebijakan domestik,” kata Josua.
Investor disebut mulai mengantisipasi kebijakan baru terkait proses tata kelola ekspor yang akan memusatkan transaksi ekspor untuk beberapa komoditas di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Selain itu, investor turut beralih ke aset lain menjelang pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada bulan Juni mendatang.
Dia menyampaikan bahwa penguatan dolar AS menyusul rilis sejumlah indikator ekonomi AS yang positif.
Melihat dari sisi pasar tenaga kerja, Klaim Pengangguran Awal AS untuk pekan yang berakhir pada 16 Mei 2026 turun menjadi 209 ribu dari 212 ribu, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 210 ribu, yang mengimplikasikan pasar tenaga kerja AS yang ketat.
Sementara itu, dari sektor riil menunjukkan data Preliminary S&P Global PMI Manufaktur secara tak terduga naik menjadi 55,3 pada Mei 2026 dari 54,5 sebelumnya, melebihi ekspektasi 53,8 dan menandakan ketahanan di sektor manufaktur AS di tengah ketidakpastian global.
Rilis data ini menunjukkan bahwa ekonomi AS tetap tangguh, sehingga mengurangi ekspektasi pelonggaran moneter oleh The Fed.
“Namun, kemudian pada sesi tersebut, penguatan dolar AS tertahan karena optimisme mengenai potensi kesepakatan perdamaian muncul kembali setelah pemerintah Iran menyatakan bahwa proposal terbaru dari AS telah mulai menjembatani kesenjangan antara kedua pihak,” ujar Josua.