- MSCI membekukan penyesuaian berkala saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk pada Mei 2026 karena harga saham konsisten di level gocap.
- Likuiditas saham yang rendah akibat harga stagnan memicu risiko GOTO dikeluarkan dari daftar MSCI Global Standard Indexes bulan Mei.
- Potensi keluarnya GOTO dari indeks MSCI dapat mengurangi minat investor asing terhadap saham perusahaan di pasar modal Indonesia.
Suara.com - Lembaga pemeringkat indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali mengomentari soal saham-saham Indonesia. Kali ini giliran saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) yang menjadi incaran MSCI dalam pembekuan proses penyesuaian berkala atau rebalancing.
Saat ini, GOTO masuk dalam MSCI Global Standard Indexes, sejak Mei 2023. Dengan adanya pembekuan rebalancing itu, emiten transportasi online dan e-commerce itu bakal hengkang indeks itu.
Mengutip laporannya, Kamis, 28 Mei 2026, alasan MSCI membekukan rebalancing saham GOTO ini, karena harga sahamnya yang selalu di level minimum Rp 50 per saham atau gocap.
Dengan level itu, MSCI menilai likuiditas saham GOTO rendah memicu masalah replikasi. Maka dari itu, MSCI membekukan dalam peninjauan indeks pada Mei 2026.
![Investor perlu mencari strategi investasi baru setelah Rebalancing MSCI. [Gemini AI]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/13/31530-msci.jpg)
"Adapun, kebijakan ini berlaku untuk MSCI Global Investable Market Indexes maupun indeks non-market capitalization weighted lainnya, seperti MSCI Factor, Sustainability & Climate, Thematic, dan Capped Indexes," tulis MSCI dalam laporannya.
Untuk diketahui, saham GOTO telah berada di batas minimun atau gocap sejak 13 Mei 2026. Sedangkan, mulai dari 2 Januari hingga saat ini atau year-to-date, saham GOTO juga telah ambles 21,88 persen dari harga Rp 69 per lembar saham.
Harga saham GOTO juga jauh dibandingkan saat IPO yang sebesar Rp 338 per lembar saham. Sementara, GOTO paling tinggi diperdagangkan di level Rp 404 per lembar saham.
Prospek Saham GOTO
Dengan penundaan rebalancing MSCI ini, akan menjadi ancaman saham GOTO. Apalagi, jika ke depan GOTO akan terlempar dari Indeks MSCI, di mana potensi investor asing akan kabur lebih besar.
Pasalnya, jika terhempas, saham GOTO tidak lagi menjadi rekomendasi para manajer investasi asing.
Analis dari KB Valbury Sekuritas, Atikah Tri Andriyanti dalam risetnya 26 Mei 2026 lalu, menilai kinerja keuangan GOTO tengah membaik, tercermin raihan laba bersih pertamanya pada kuartal pertama tahun 2026, sebesar Rp 258 miliar.
Selain itu EBITDA secara Grup tercatat Rp 907 miliar atau naik 131,0 persen secara tahunan, di mana jauh melampaui target setahun penuh sebesar Rp 3,3 triliun secara tahunan.
Adapun, bisnis utama GOTO yaitu berbasis layanan juga kuat di mana EBITDA segmen tersebut tumbuh 40,0 persen secara tahunan menjadi Rp 439 miliar.
"Namun, Pemerintah dilaporkan telah menyetujui pembatasan komisi platform ojek online sebesar 8 persen. Kami memperkirakan hal ini dapat mengurangi tingkat komisi bersih bisnis utama sebesar 170 bps menjadi 17,2 persen dan membebani pendapatan bisnsin hingga 35,7 persen pada proyeksi tahun 2026," ucap Atikah dalam risetnya.
Di sisi lain, bisnis sektor keuangan melalui GoPay melonjak, di mana EBITDA melonjak 674,5 persen YoY menjadi Rp 364 miliar. Lalu, portofolio pinjaman mencapai Rp 9,9 triliun dengan kualitas portofolio yang terjaga, di mana kredit macet NPL lebih dari 90 hari stabil di 0,8 persen dan rasio pinjaman lancar dipertahankan di 92,0 persen.
"Profil NPL yang stabil mencerminkan penjaminan kredit berbasis data GoPay, yang didukung oleh data ekosistem tertutup, akuisisi peminjam selektif, eksposur tenor pendek, dan penagihan yang disiplin," imbuhnya.
Atikah tetap merokemendasikan saham GOTO dalam status beli, dengan target harga Rp 58 per lembar saham.
"Kami menegaskan kembali rekomendasi Beli kami dengan target harga Rp 58 per saham yang menyiratkan potensi kenaikan 16,2 persen," katanya.
Namun, Atikah mengingatkan ada risiko utama terhadap rekomendasinya yakni, persaingan yang semakin ketat, tekanan regulasi terhadap tingkat penerimaan pinjaman, potensi peningkatan kredit macet di tengah pertumbuhan pinjaman yang pesat, dan tekanan penjualan yang berkelanjutan dari pemegang saham pra-IPO dan para pendiri.
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.