- Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberlakukan kembali blokade maritim dan pungutan biaya di Selat Hormuz terhadap perdagangan Iran.
- Kebijakan tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia serta menyebabkan koreksi signifikan pada bursa saham global dan Asia.
- IHSG mencatat performa positif di tengah ketegangan geopolitik, didukung oleh prospek stabil ekonomi Indonesia dari lembaga pemeringkat S&P.
Suara.com - Eskalasi geopolitik di kawasan Teluk kembali menjadi motor utama volatilitas pasar keuangan global. Pengumuman sepihak dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai pemberlakuan kembali blokade maritim terhadap perdagangan Iran langsung memicu efek berantai.
Langkah strategis ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia secara signifikan, yang pada gilirannya memicu kekhawatiran baru terkait ancaman inflasi global.
Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa Washington akan mengambil peran penuh sebagai pengawal Selat Hormuz.
Aspek mengejutkan dari kebijakan ini adalah rencana pengenaan biaya restribusi sebesar 20 persen bagi semua kargo yang melintasi jalur pelayaran vital tersebut sebagai biaya operasional keamanan.
Respons pasar terhadap ketegangan ini sangat instan; harga minyak mentah jenis WTI melesat 9,4 persen ke level US$ 78 per barel, sementara Brent melonjak 9,6 persen hingga bertengger di posisi US$ 83 per barel.
Akibat situasi tersebut, bursa saham AS (Wall Street) kompak mengakhiri perdagangan di zona merah. Indeks S&P 500 terpangkas 0,79 persen dan Dow Jones Industrial Average melemah 0,26 persen.
Koreksi terdalam dirasakan oleh indeks Nasdaq Composite yang anjlok 1,55 persen akibat tekanan hebat pada sektor teknologi.
Saham produsen semikonduktor seperti Sandisk ambles 12 persen, diikuti oleh SK Hynix yang turun 9 persen, Intel merosot 6 persen, Seagate Technology berkurang 5 persen, serta Micron dan AMD yang masing-masing melemah 4 persen.
Kondisi variatif juga menjalar ke pasar ekuitas regional Asia. Sentimen dari Teluk diperberat oleh langkah Iran yang mengklaim telah menutup akses Selat Hormuz.
Situasi ini membuat para pelaku pasar mulai mengantisipasi potensi pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif oleh Bank Sentral AS menjelang pidato perdana Ketua Fed Kevin Warsh di depan Kongres. Investor juga mengantisipasi rilis data inflasi tahunan AS bulan Juni yang diperkirakan melambat tipis dari posisi 4,2 persen.
Pergerakan indeks di Asia bergerak dua arah. Di Jepang, indeks Nikkei 225 terpangkas 1,9 persen dan Topix turun 0,7 persen. Koreksi parah melanda bursa Korea Selatan dengan indeks Kospi yang jatuh hingga 9 persen dan Kosdaq turun 4,5 persen.
Sebaliknya, penguatan tipis berhasil dicatatkan oleh indeks Hang Seng Hong Kong sebesar 0,16 persen, Taiex Taiwan 0,06 persen, dan ASX 200 Australia 0,03 persen.
Prospek IHSG dan Analisis Teknikal Domestik
Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sebelumnya mampu menorehkan performa positif dengan penguatan sebesar 1,92 persen.
Kendati demikian, laju kenaikan ini masih dibayangi oleh aksi jual bersih oleh investor asing (net foreign sell) yang mencapai nilai sekitar Rp 413 miliar. Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi target utama pelepasan aset oleh asing, antara lain BBCA, MAPI, ASII, TINS, dan DEWA.