- Fakultas Teknik UGM merenovasi Masjid Al-Mustadam pada 2019 karena kapasitas lama tidak mampu menampung seluruh jamaah kampus.
- Renovasi masjid tiga lantai didanai penuh oleh sumbangan jamaah, alumni, dan pihak CSR perusahaan.
- Kini masjid memiliki kapasitas 3.000 jamaah serta menyediakan fasilitas pendukung bagi mahasiswa untuk belajar dan berdiskusi bersama.
Masjid Tak Hanya Ibadah, Tapi juga Ruang Belajar Mahasiswa
Masjid Al-Mustadam memiliki desain yang menarik. Di lantai dasar, dibuat selasar luas yang sengaja dibuat untuk ruang bagi mahasiswa untuk berdiskusi atau mengerjakan tugas.
Selasar ini dilengkapi dengan colokan listrik, wifi, serta air minum. Sehingga, membuat mahasiswa semakin nyaman untuk mengerjakan tugas.

"Kemanfaatannya tidak hanya untuk ibadah sebenarnya. Di sana itu, ada lantai satu yang cukup terbuka begitu bisa dipakai untuk coworking space," ujar Sugeng.
"Biasanya yang mengerjakan anak-anak tugas kelompok yang menggambar dari arsitek saya lihat. Teman-teman dari geodesi juga banyak memanfaatkan itu, mengerjakan di situ," imbuhnya.
"Jadi enggak cuma ibadah, ya. Yang penting kalau pas waktu ibadah diminta untuk menyesuaikan," tuturnya menambahkan.
Mahasiswa Teknik Kimia, Muhammad Hanief, menjadi salah satu yang beberapa kali mengerjakan tugas di selasar Masjid Al-Mustadam. Ia merasa nyaman karena suasana dan fasilitas yang memadai.
Ia juga bisa istirahat sembari tiduran sambil menunggu jam kuliah berikutnya.

"Tadi sekalian turun, makan, terus nanti ada kelas tambahan. Di sini itu vibesnya tenang. Hawanya adem dan lingkungannya bersih. Wifinya juga masuk sini, ada listrik. Apalagi bisa sambil tidur-tiduran," ujar Hanief.
Sama halnya dengan Hanief, Khaizuran Delwyn sebagai mahasiswa juga memanfaatkan selasar Masjid Al-Mustadam untuk mengerjakan tugas sambil menunggu kelas berikutnya.
Istirahat di selasar pun memudahkan dirinya untuk beribadah ketika waktu salat telah tiba.

"Sebenarnya kalau mau nugas ada perpusatakan. Tapi kalau jam segini, ataupun orang-orang yang tidak ada kelas, tapi ada kelas lagi sampai dhuhur, pasti ramai di sana," ungkap Delwyn.
"Sebagai alternatif di sini. Di sini menurut saya juga adem. Di Fakultas Teknik kan juga ada coworking space, tapi kurang adem sih. Kalau di sini ada chargeran juga lebih banyak. Bisa nugas dan tidur juga. Kalau mau dhuhuran lebih gampang," imbuhnya.
Selain di selasar, beberapa mahasiswa juga tampak berada di lantai 2 hingga lantai 3 masjid untuk mengerjakan tugas bersama laptop kesayangan. Ini menjadi bukti kenyamanan dan kebermanfaatan lebih luas dari masjid tersebut.
Didukung oleh Pengurus Masjid Al-Mustadam
Walau banyak mahasiswa yang memanfaatkan masjid di luar kegiatan ibadah, pengurus Masjid Al-Mustadam tidak merasa keberatan sama sekali.
Lantai-lantai selalu dibersihkan demi kenyamanan. Kemudian, turut disediakan air minum apabila mahasiswa yang sedang istirahat atau mengerjakan tugas merasa haus.

"Kami tidak terganggu. Masjid ini pertama kebermanfaatannya semakin banyak, ya. Tak hanya menampung untuk salat. Kedua, sudah disediakan wifi untuk membantu mahasiswa mengerjakan tugas. Untuk istirahat juga nyaman," ujar salah satu pengurus Masjid Al-Mustadam, Dany Sitepu.
"Bahkan disediakan dispenser juga. Jadi, mereka nanti untuk minum sudah aman," lanjutnya.

Di setiap hari Jumat, juga disediakan 500 porsi makan untuk siapapun yang hadir di masjid. Pembagiannya adalah 100 untuk wanita sebelum Salat Jumat, kemudian 400 lainnya untuk jamaah laki-laki setelah salat.
"Masjidnya sekarang kan sering banget kegiatan Jumat Berkah. Sekalinya Jumat Berkah menyediakan 500 piring. Nanti ada kursi dan meja juga. Nanti 500 sudah kerja sama dengan pihak catering, mereka membawa ke sini sudah jadi," kata Deny.
"Itu 100 piring sebelum Jumatan khusus putri, nanti 400 itu setelah Jumatan untuk putra dan ini umum," lanjut pria yang sudah empat tahun membersihkan masjid tersebut.
Pada akhirnya, Masjid Al-Mustadam bukan cuma jadi tempat ibadah bagi warga Fakultas Teknik UGM. Masjid ini juga menjadi ruang singgah, tempat belajar, berdiskusi, beristirahat, hingga saling berbagi.
Dari tempat inilah terlihat bahwa sebuah masjid bisa hadir begitu dekat dengan kehidupan mahasiswa, bukan hanya untuk urusan spiritual, tetapi juga menjadi bagian dari keseharian mereka di kampus.