- BBCA anjlok 4,43% dan ditutup di level Rp4.850 per saham.
- Harga BBCA menyentuh titik terendah dalam 52 minggu terakhir.
- Koreksi tajam memicu perdebatan: ancaman baru atau peluang beli?
Suara.com - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menjadi sorotan pasar setelah ditutup di level Rp4.850 per saham pada perdagangan Senin (8/6/2026). Harga tersebut menandai penurunan 4,43% atau terkoreksi 225 poin dalam sehari dan sekaligus membawa BBCA menyentuh level terendah dalam 52 minggu terakhir.
Penurunan tajam ini membuat harga saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut menjadi perbincangan di kalangan investor. Bahkan, secara simbolis, harga satu lembar saham BBCA kini disebut-sebut lebih murah dibanding harga segelas Teh Poci yang dijual sebesar Rp5.000 per gelas.
Data perdagangan menunjukkan BBCA dibuka pada level Rp4.950, sempat menyentuh posisi tertinggi Rp5.050, sebelum akhirnya tertekan hingga menyentuh level terendah harian sekaligus terendah satu tahun di Rp4.850.
Meski harga sahamnya merosot tajam, fundamental BCA masih tergolong kuat. Emiten perbankan dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp591,91 triliun itu saat ini diperdagangkan pada rasio price to earnings (P/E) 10,28 kali, jauh lebih rendah dibanding valuasi historisnya dalam beberapa tahun terakhir.
Koreksi BBCA juga terjadi di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham domestik. Aksi jual investor asing, kekhawatiran perlambatan ekonomi global, serta meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan menjadi faktor yang mendorong pelemahan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
Di sisi lain, sejumlah pelaku pasar menilai anjloknya harga BBCA hingga ke level terendah setahun bisa menjadi momentum bagi investor jangka panjang untuk mulai mencermati peluang akumulasi. Pasalnya, BCA selama ini dikenal sebagai salah satu bank dengan kualitas aset dan profitabilitas terbaik di industri perbankan nasional.
Meski demikian, investor tetap diimbau mencermati perkembangan sentimen pasar dan pergerakan dana asing sebelum mengambil keputusan investasi.