- Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar 90 juta dolar AS pada April 2026, turun tajam dari 3,32 miliar dolar AS pada Maret 2026 akibat lonjakan impor yang mencapai 31,28 persen secara bulanan.
- Nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai 25,30 miliar dolar AS, naik 12,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan tumbuh 21,98 persen secara tahunan.
- Sementara itu, nilai impor mencapai 25,21 miliar dolar AS, didorong kenaikan impor barang konsumsi, bahan baku, dan barang modal.
Suara.com - Lonjakan impor pada April 2026 menjadi sinyal meningkatnya aktivitas konsumsi dan produksi dalam negeri. Kenaikan permintaan bahan baku, barang modal, dan barang konsumsi mendorong impor Indonesia tumbuh signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Di sisi lain, kenaikan impor menekan kinerja neraca perdagangan. Surplus yang pada Maret 2026 mencapai 3,32 miliar dolar AS menyusut tajam menjadi 0,09 miliar dolar AS pada April 2026.
Meski demikian, Indonesia masih mempertahankan tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Kinerja ekspor yang tetap tumbuh menjadi penopang utama di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Menteri Perdagangan Budi Santoso atau Busan mengatakan, neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 mencatat surplus 0,09 miliar dolar AS. Surplus nonmigas sebesar 3,53 miliar dolar AS masih mampu menutup defisit migas sebesar 3,44 miliar dolar AS.

"Jika dilihat secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-April 2026 mencatatkan surplus sebesar 5,64 miliar dolar AS. Surplus tersebut terutama didorong oleh surplus nonmigas sebesar 14,16 miliar dolar AS dan defisit migas sebesar 8,52 miliar dolar AS. Namun, nilai surplus Januari-April 2026 tersebut lebih rendah dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 11,07 miliar dolar AS," ujar Busan kepada wartawan, Senin (8/6/2026).
Data utama neraca perdagangan Januari-April 2026:
- Surplus perdagangan: 5,64 miliar dolar AS
- Surplus nonmigas: 14,16 miliar dolar AS
- Defisit migas: 8,52 miliar dolar AS
- Penyumbang surplus terbesar: lemak dan minyak hewani/nabati (11,71 miliar dolar AS), bahan
- bakar mineral (8,34 miliar dolar AS), besi baja (5,71 miliar dolar AS)
- Penyebab defisit terbesar: mesin dan peralatan mekanis (9,87 miliar dolar AS), mesin dan
- perlengkapan elektrik (4,95 miliar dolar AS), plastik dan barang dari plastik (2,80 miliar dolar AS)
- Surplus nonmigas terbesar berasal dari Amerika Serikat (6,81 miliar dolar AS), India (4,44 miliar dolar AS), dan Filipina (2,77 miliar dolar AS)
- Defisit nonmigas terbesar berasal dari China (8,03 miliar dolar AS), Australia (3,05 miliar dolar AS), dan Argentina (0,73 miliar dolar AS)
Pada April 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai 25,30 miliar dolar AS atau naik 12,32 persen dibandingkan Maret 2026 dan tumbuh 21,98 persen secara tahunan.
Data ekspor April 2026:
- Nilai ekspor: 25,30 miliar dolar AS
- Naik 12,32 persen (bulanan)
- Naik 21,98 persen (tahunan)
- Ekspor nonmigas naik 13,66 persen
- Ekspor migas turun 9,81 persen
- Komoditas dengan kenaikan tertinggi: kopi, teh, dan rempah-rempah (54,44 persen), tembakau dan rokok (43,49 persen), kayu dan barang dari kayu (40,91 persen), lemak dan minyak hewani/nabati (38,71 persen)
Mendag Busan mengatakan peningkatan ekspor juga didorong membaiknya permintaan dari sejumlah negara mitra dagang.
"Tiga negara tujuan ekspor nonmigas dengan pertumbuhan tertinggi pada April 2026 adalah Uni Emirat Arab yang melonjak 305,21 persen, Afrika Selatan 288,40 persen, dan Belgia 117,84 persen dibandingkan bulan sebelumnya."
Secara kumulatif Januari-April 2026, total ekspor Indonesia mencapai 92,15 miliar dolar AS atau meningkat 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, nilai impor Indonesia pada April 2026 mencapai 25,21 miliar dolar AS, naik 31,28 persen dibandingkan Maret 2026 dan tumbuh 22,49 persen secara tahunan.
Data impor April 2026:
- Nilai impor: 25,21 miliar dolar AS
- Naik 31,28 persen (bulanan)
- Naik 22,49 persen (tahunan)
- Impor migas naik 45,09 persen
- Impor nonmigas naik 28,55 persen
Menurut Budi, lonjakan impor terjadi pada seluruh kelompok barang, mulai dari barang konsumsi, bahan baku dan penolong, hingga barang modal.
Secara kumulatif Januari-April 2026, nilai impor mencapai 86,51 miliar dolar AS atau tumbuh 13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Kenaikan impor barang modal didorong oleh meningkatnya impor beberapa komoditas utama, antara lain komputer, pesawat udara, mesin untuk proses elektroplating dan elektrolisis, mesin pengolah suhu, serta mobil listrik," pungkas Busan.