Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.685.000
Beli Rp2.530.000
IHSG 5.886,032
LQ45 586,842
Srikehati 288,489
JII 347,233
USD/IDR 17.977

Gegara Bau Asap, Perokok Mulai Berbondong-bondong Gunakan Vape

Achmad Fauzi

Jum'at, 12 Juni 2026 | 12:41 WIB
Gegara Bau Asap, Perokok Mulai Berbondong-bondong Gunakan Vape
Ilustrasi remaja menggunakan vape (Pexels/Muhamad Lutfi)
  • Perokok dewasa di Indonesia mulai beralih ke produk tembakau alternatif demi kenyamanan dan menghindari bau asap rokok.
  • Produk tembakau alternatif tidak melalui proses pembakaran sehingga menghasilkan paparan zat berbahaya yang lebih rendah bagi pengguna.
  • Penelitian ilmiah dan pengalaman konsumen menunjukkan bahwa beralih ke produk alternatif memberikan dampak kesehatan lebih baik secara signifikan.

Suara.com - Produk tembakau alternatif seperti rokok elektronik atau vape serta produk tembakau yang dipanaskan semakin diminati oleh perokok dewasa.

Salah satu alasan utama yang mendorong peralihan tersebut adalah keinginan untuk menghindari bau asap rokok yang menempel pada pakaian, rambut, kendaraan, hingga ruangan.

Ketua Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (AKVINDO), Paido Siahaan, mengatakan faktor kenyamanan menjadi pertimbangan utama bagi banyak konsumen saat memutuskan beralih dari rokok konvensional ke produk tembakau alternatif.

"Dari sisi konsumen, alasan utama mereka beralih ke produk tembakau alternatif adalah karena ingin mengurangi paparan asap rokok dan bau yang menempel. Konsumen menilai penggunaan produk tembakau alternatif terasa lebih bersih, lebih ringan, dan tidak terlalu mengganggu orang sekitar," ujar Paido di Jakarta, Jumat (11/6/2026).

Ilustrasi vape [freepik/master1305]
Ilustrasi vape [freepik/master1305]

Menurut Paido, semakin banyak perokok dewasa yang mencari pilihan produk yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah tidak adanya proses pembakaran tembakau yang menghasilkan asap dan tar seperti pada rokok konvensional.

Ia menjelaskan, tar yang dihasilkan dari pembakaran rokok selama ini dikenal sebagai salah satu senyawa karsinogenik yang dapat memicu kanker. Selain itu, asap hasil pembakaran juga kerap meninggalkan bau yang menempel dalam waktu lama pada lingkungan sekitar.

Paido menilai kondisi tersebut menjadi alasan mengapa minat terhadap produk tembakau alternatif terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

"Banyak pengguna menyampaikan bahwa bau rokok yang menempel di pakaian, rambut, kendaraan, atau ruangan menjadi salah satu alasan utama mereka mulai mencari alternatif. Dalam pengalaman konsumen, produk tembakau alternatif dianggap lebih nyaman karena tidak menghasilkan asap hasil pembakaran tembakau seperti rokok," tambahnya.

Pandangan tersebut turut didukung sejumlah penelitian yang membandingkan paparan udara dari produk tembakau alternatif dan rokok konvensional. Salah satunya adalah riset Universitas Chang'an, China, berjudul Characteristics of second-hand exposure to aerosols from e-cigarettes yang diterbitkan pada 2024.

Penelitian tersebut menemukan bahwa kandungan zat berbahaya dari aerosol atau uap vape lebih rendah dibandingkan asap rokok.

Meski tetap terdapat partikel yang dilepaskan ke udara, tingkat polutan di sekitar pengguna tercatat lebih rendah dibandingkan paparan asap yang berasal dari proses pembakaran tembakau.

Pengalaman beralih dari rokok konvensional ke produk tembakau alternatif juga dirasakan Rifqi, seorang pengguna vape. Ia mengaku merasakan perubahan kondisi fisik setelah tidak lagi mengonsumsi rokok seperti sebelumnya.

"Perubahan yang paling saya rasa jelas badan terasa lebih fit. Ternyata pembuktiannya ada di hasil medical check-up, hasil berubah jauh lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya saat masih merokok, ungkap Rifqi.

Menurut Rifqi, proses beralih dari rokok konvensional tidak hanya bergantung pada kemauan pribadi, tetapi juga dukungan dari lingkungan sekitar.

Selain itu, Rifqi mengaku aktif mencari berbagai informasi dan hasil penelitian untuk memahami produk yang digunakannya. Salah satu referensinya adalah hasil penelitian dari UK Health Security Agency yang menyebut profil risiko produk tembakau alternatif hingga 90 persen lebih rendah dibandingkan rokok.

Menurutnya, akses terhadap informasi berbasis riset menjadi faktor penting yang membantu perokok dewasa memahami berbagai pilihan yang tersedia sebelum memutuskan untuk beralih dari rokok konvensional.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bea Cukai Sita 8,9 Juta Batang Rokok Ilegal, Selamatkan Penerimaan Negara Rp8,66 Miliar

Bea Cukai Sita 8,9 Juta Batang Rokok Ilegal, Selamatkan Penerimaan Negara Rp8,66 Miliar

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 11:06 WIB

Siap-siap! Rokok Ilegal Bakal Merajalela Setelah Kebijakan Kemasan Polos

Siap-siap! Rokok Ilegal Bakal Merajalela Setelah Kebijakan Kemasan Polos

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 12:39 WIB

Industri Alternatif Rokok Dorong Edukasi Berbasis Sains

Industri Alternatif Rokok Dorong Edukasi Berbasis Sains

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 08:20 WIB

Terkini

IHSG Tembus Level 6.000 Lagi, Saham BUMI dan BRMS Diburu Investor

IHSG Tembus Level 6.000 Lagi, Saham BUMI dan BRMS Diburu Investor

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 12:35 WIB

Kemnaker Raih 2 Penghargaan Government Social Media Summit 2026

Kemnaker Raih 2 Penghargaan Government Social Media Summit 2026

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 11:37 WIB

Prabowo Mau Borong Rudal BrahMos dari India, Ekonom Ingatkan Risiko Utang Rp7 Triliun

Prabowo Mau Borong Rudal BrahMos dari India, Ekonom Ingatkan Risiko Utang Rp7 Triliun

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 11:19 WIB

Rupiah Melemah Jadi Alasan Tarif Pesawat Naik, Alvin Lie ke Menhub Dudy: Dia Melanggar Undang-undang

Rupiah Melemah Jadi Alasan Tarif Pesawat Naik, Alvin Lie ke Menhub Dudy: Dia Melanggar Undang-undang

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 11:10 WIB

BI Sebut Obat Kuat Ini Bikin Rupiah Mulai Menguat Lawan Dolar AS

BI Sebut Obat Kuat Ini Bikin Rupiah Mulai Menguat Lawan Dolar AS

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 11:02 WIB

Program 3 Juta Rumah, Kredit Perumahan Rp500 Miliar Dapat Penguatan Mitigasi Risiko

Program 3 Juta Rumah, Kredit Perumahan Rp500 Miliar Dapat Penguatan Mitigasi Risiko

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 10:54 WIB

Pengamat Sentil Menhub soal Wacana Kenaikan Tarif Pesawat: Mau Langgar Aturan?

Pengamat Sentil Menhub soal Wacana Kenaikan Tarif Pesawat: Mau Langgar Aturan?

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 10:52 WIB

Jaga Daya Beli Rakyat, Pemerintah Kaji Insentif setelah Harga Pertamax Naik

Jaga Daya Beli Rakyat, Pemerintah Kaji Insentif setelah Harga Pertamax Naik

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 10:39 WIB

Resmi Meluncur, JAM Coin Bidik 21 Juta Investor Kripto dan Garap Ekonomi Desa

Resmi Meluncur, JAM Coin Bidik 21 Juta Investor Kripto dan Garap Ekonomi Desa

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 10:37 WIB

Harga Minyak Dunia Lesu Setelah Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran

Harga Minyak Dunia Lesu Setelah Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 10:28 WIB