- Rupiah diprediksi melemah hingga Rp 18.000 per dolar AS.
- Dolar AS berpotensi menguat ke level indeks 101,700.
- Harga emas diperkirakan bergerak di Rp 2,55-2,79 juta per gram.
Suara.com - Nilai tukar rupiah dan emas diramal kompak turun pada perdagangan hari ini, Senin (22/06/2026). Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian ekonomi global disebut menjadi faktor utama tersebut.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan indeks dolar AS (USD Index) masih memiliki ruang penguatan hingga level 101,700 dari posisi saat ini di kisaran 99,200.
"Pergerakan USD kemungkinan besar akan berada di kisaran 99,200, kemudian resistennya itu adalah 101,700. Sepertinya indeks dolar ini akan kembali menguat," kata Ibrahim dalam riset yang diterima di Jakarta, Senin (22/6/2026).
Menguatnya dolar AS diperkirakan akan memberikan tekanan lanjutan terhadap rupiah. Bahkan, Ibrahim memproyeksikan mata uang Indonesia berpotensi kembali menyentuh level psikologis Rp 18.000 per dolar AS apabila tren penguatan dolar berlanjut.
Menurutnya, ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi membuat tekanan terhadap rupiah berpotensi berlangsung dalam jangka waktu yang lebih panjang.
"Kita melihat fundamentalnya itu resistensinya dalam minggu depan di Rp 17.600 sampai di Rp 18.000 karena melihat USD-nya ke 101,700," ujarnya.
Di sisi lain, harga emas juga diprediksi bergerak fluktuatif sepanjang pekan depan seiring dinamika pasar global. Ibrahim memperkirakan harga logam mulia berada dalam rentang Rp 2,55 juta hingga Rp 2,79 juta per gram.
Saat ini, harga emas dunia tercatat berada di level US$ 4.155 per troy ons. Sementara harga logam mulia dalam negeri ditutup di posisi Rp 2,668 juta per gram.
Apabila harga emas dunia mengalami koreksi pada awal pekan, level support pertama diperkirakan berada di US$ 4.088 per troy ons. Kondisi tersebut berpotensi menekan harga logam mulia domestik menjadi Rp 2,648 juta per gram atau turun sekitar Rp 20.000.
"Kemungkinan besar support pertama itu di 4.088, logam mulianya di 2.648.000, jadi ada penurunan Rp 20.000," jelasnya.
Lebih lanjut, ia memperkirakan level support kedua emas dunia berada di US$ 3.859 per troy ons. Jika skenario tersebut terjadi, harga logam mulia berpotensi turun hingga kisaran Rp 2,55 juta per gram.
Namun, peluang penguatan masih terbuka. Jika harga emas dunia melanjutkan kenaikan, level resistance pertama diperkirakan berada di US$ 4.243 per troy ons dengan harga logam mulia mencapai Rp 2,688 juta per gram.
Sementara itu, resistance kedua diproyeksikan berada di level US$ 4.465 per troy ons. Pada skenario tersebut, harga logam mulia berpotensi menembus Rp 2,79 juta per gram.
Dengan demikian, pergerakan pasar pekan depan diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi, baik pada nilai tukar rupiah maupun harga emas, seiring kuatnya pengaruh sentimen global terhadap pasar keuangan.