- Nilai tukar Rupiah melemah ke level Rp17.855 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 22 Juni 2026 pagi.
- Pelemahan Rupiah dipicu ketidakpastian investor terkait perdamaian AS-Iran serta adanya sentimen negatif dari prospek suku bunga The Fed.
- Kondisi mata uang Asia bervariasi dengan Rupiah bersama mata uang Filipina, Thailand, dan Hong Kong yang turut melemah.
Suara.com - Rupiah masih belum menunjukkan perlawanan terhadap dolar Amerika Serikat pada pagi ini. Mata uang Garuda belum bangkit dan masih level Rp17.800.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah Selasa 22 Juni 2026 ke level Rp17.855 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini melemah 12 poin atau 0,07 persen dari hari sebelumnya yang ada di Rp17.845 per dolar AS.
Dalam hal ini, Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa kondisi ini disebabkan investor yang belum yakin terhadap perdamaian Amerika Serikat dan Iran.
"Rupiah diperkirakan masih akan melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat oleh ketidakyakinan investor pada pembicaraan damai AS-Iran," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia mengatakan, pelemahan rupiah ini juga dipengaruhi oleh tekanan suku bunga. Hal ini memberikan sentimen negatif pada mata uang Garuda.
"Adanya prospek suku bunga the Fed juga memberikan tekanan pada rupiah. Range 17800-17900," katanya.
![Ilustrasi mata uang asing. [Pixabay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/01/80320-ilustrasi-mata-uang-asing.jpg)
Pelemahan rupiah juga terjadi pada peso Filipina yang ambruk 0,35 persen.Lalu, baht Thailand melemah 0,02 persen dan dolar Hong Kong yang melemah 0,001 persen terhadap dolar AS.
Sedangkan mayoritas mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS pagi ini. Ringgit Malaysia mencatat penguatan terbesar yakni 0,30 persen, disusul won Korea yang menguat 0,15 persen.
Diikuti dolar Taiwan menguat 0,15 persen, dolar Singapura menguat 0,02 persen. Lalu ada yen Jepang menguat 0,02 persen yuan China menguat 0,01 persen terhadap dolar AS.