- Amerika Serikat dan Iran menyepakati pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz pada pertengahan Juni 2026 demi stabilitas perdagangan.
- Kesepakatan tersebut memberikan akses melintas gratis bagi kapal niaga selama 60 hari setelah sempat tertutup sejak Februari 2026.
- Kerusakan infrastruktur energi di kawasan Teluk menghambat pemulihan distribusi minyak sehingga potensi volatilitas harga masih tetap berlanjut.
Suara.com - Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai kembali bergerak setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan pada pertengahan Juni 2026.
Kondisi tersebut memunculkan optimisme terhadap stabilitas perdagangan energi global, setelah jalur strategis tersebut sempat terganggu akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, pelaku logistik mengingatkan pulihnya arus kapal tanker belum sepenuhnya menghilangkan risiko terhadap rantai pasok global.
Pasalnya, sejumlah infrastruktur energi di kawasan Teluk masih membutuhkan waktu untuk kembali beroperasi secara normal.
Senior Vice President International Federation of Freight Forwarders Associations (FIATA), sekaligus Ketua Dewan Pembina DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yukki Nugrahawan Hanafi, mengatakan pemulihan aktivitas pelayaran merupakan kabar positif bagi dunia usaha, namun situasi tetap perlu dicermati secara menyeluruh.
"Kembalinya pelayaran tentu kabar baik bagi dunia usaha. Tetapi kita perlu melihat situasi ini secara lebih komprehensif. Tantangan saat ini bukan hanya soal keamanan jalur pelayaran, melainkan juga kondisi infrastruktur energi yang rusak akibat konflik di kawasan Timur Tengah," jelas Yukki kepada wartawan, Rabu (24/6/2026).
Berdasarkan memorandum kesepahaman yang disepakati kedua negara, Iran memberikan izin bagi kapal niaga untuk melintasi Selat Hormuz tanpa biaya selama 60 hari.
Sebelumnya, penutupan jalur tersebut sejak akhir Februari 2026 menyebabkan hampir 600 kapal dan sekitar 20.000 pelaut tertahan di kawasan Teluk.
Gangguan itu berdampak pada sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, sekaligus memicu kenaikan biaya logistik, premi asuransi, dan tarif pengiriman internasional.
Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia.
Sekitar seperlima perdagangan minyak global serta sebagian besar ekspor gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk melewati kawasan tersebut.
"Bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia, stabilitas Selat Hormuz berhubungan langsung dengan ketersediaan energi, biaya logistik, inflasi, serta daya saing industri," tambah Yukki.
Saat konflik memanas, harga minyak mentah dunia sempat melonjak. Harga minyak Brent tercatat bertahan di kisaran 106 dolar AS per barel sebelum akhirnya turun ke level sekitar 77 dolar AS per barel.
Selain itu, pelaku usaha juga menghadapi kenaikan war risk premium, perubahan rute pelayaran, hingga meningkatnya biaya transportasi internasional.
Menurut Yukki, terdapat satu aspek yang sering luput dari perhatian, yakni perbedaan kecepatan pemulihan antara jalur pelayaran dan fasilitas energi.