- Amerika Serikat dan Iran menyepakati pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz pada pertengahan Juni 2026 demi stabilitas perdagangan.
- Kesepakatan tersebut memberikan akses melintas gratis bagi kapal niaga selama 60 hari setelah sempat tertutup sejak Februari 2026.
- Kerusakan infrastruktur energi di kawasan Teluk menghambat pemulihan distribusi minyak sehingga potensi volatilitas harga masih tetap berlanjut.
"Berbeda dengan jalur pelayaran yang dapat dibuka kembali relatif cepat setelah keamanan membaik, pemulihan fasilitas energi membutuhkan waktu jauh lebih panjang," ucap Yukki.

Kilang minyak, dia menambahkan,terminal ekspor, fasilitas penyimpanan, hingga infrastruktur LNG yang terganggu memerlukan perbaikan, investasi, serta pengujian operasional sebelum dapat beroperasi optimal.
Kekhawatiran tersebut sejalan dengan temuan sejumlah lembaga energi internasional. Rystad Energy memperkirakan nilai kerusakan infrastruktur energi di kawasan Teluk mencapai 58 miliar dolar AS.
Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) mencatat lebih dari 40 aset minyak dan gas mengalami kerusakan akibat konflik.
Sebagian fasilitas tersebut diperkirakan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk pulih karena keterbatasan peralatan dan tenaga ahli.
"Artinya, meskipun kapal tanker sudah kembali melintas, kapasitas produksi dan distribusi energi global belum tentu langsung pulih sepenuhnya," ujar Yukki.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi menjaga volatilitas harga energi dalam jangka menengah dan tetap menekan biaya mata rantai pasok dunia.
Ia menilai, kondisi tersebut menjadi pengingat bagi Indonesia untuk terus memperkuat ketahanan logistik nasional melalui percepatan industrialisasi dan hilirisasi, peningkatan kapasitas penyimpanan energi, penguatan konektivitas multimoda, serta diversifikasi sumber pasokan energi dan bahan baku strategis.
Yukki melihat, Indonesia senantiasa tetap perlu membangun kesadaran bahwa ketahanan energi, infrastruktur, dan rantai pasok global harus dibangun.
"Di tengah ketidakpastian geopolitik yang semakin kompleks, kemampuan suatu negara menjaga keberlangsungan rantai pasoknya akan menjadi penentu utama daya saing dan ketahanan ekonominya di masa depan," pungkas Yukki.