Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.615.000
Beli Rp2.470.000
IHSG 5.999,038
LQ45 587,746
Srikehati 290,482
JII 351,378
USD/IDR 17.937

Selat Hormuz Dibuka Lagi, Pelaku Logistik Minta Tetap Waspadai Gangguan Rantai Pasok Global

Dythia Novianty, Fakhri Fuadi Muflih

Rabu, 24 Juni 2026 | 09:05 WIB
Selat Hormuz Dibuka Lagi, Pelaku Logistik Minta Tetap Waspadai Gangguan Rantai Pasok Global
Ilustrasi Selat Hormuz oleh AS (freepik)
baca 10 detik
  • Amerika Serikat dan Iran menyepakati pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz pada pertengahan Juni 2026 demi stabilitas perdagangan.
  • Kesepakatan tersebut memberikan akses melintas gratis bagi kapal niaga selama 60 hari setelah sempat tertutup sejak Februari 2026.
  • Kerusakan infrastruktur energi di kawasan Teluk menghambat pemulihan distribusi minyak sehingga potensi volatilitas harga masih tetap berlanjut.

Suara.com - Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai kembali bergerak setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan pada pertengahan Juni 2026. 

Kondisi tersebut memunculkan optimisme terhadap stabilitas perdagangan energi global, setelah jalur strategis tersebut sempat terganggu akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, pelaku logistik mengingatkan pulihnya arus kapal tanker belum sepenuhnya menghilangkan risiko terhadap rantai pasok global. 

Pasalnya, sejumlah infrastruktur energi di kawasan Teluk masih membutuhkan waktu untuk kembali beroperasi secara normal.

Senior Vice President International Federation of Freight Forwarders Associations (FIATA), sekaligus Ketua Dewan Pembina DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yukki Nugrahawan Hanafi, mengatakan pemulihan aktivitas pelayaran merupakan kabar positif bagi dunia usaha, namun situasi tetap perlu dicermati secara menyeluruh.

"Kembalinya pelayaran tentu kabar baik bagi dunia usaha. Tetapi kita perlu melihat situasi ini secara lebih komprehensif. Tantangan saat ini bukan hanya soal keamanan jalur pelayaran, melainkan juga kondisi infrastruktur energi yang rusak akibat konflik di kawasan Timur Tengah," jelas Yukki kepada wartawan, Rabu (24/6/2026).

Berdasarkan memorandum kesepahaman yang disepakati kedua negara, Iran memberikan izin bagi kapal niaga untuk melintasi Selat Hormuz tanpa biaya selama 60 hari. 

Sebelumnya, penutupan jalur tersebut sejak akhir Februari 2026 menyebabkan hampir 600 kapal dan sekitar 20.000 pelaut tertahan di kawasan Teluk.

Gangguan itu berdampak pada sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, sekaligus memicu kenaikan biaya logistik, premi asuransi, dan tarif pengiriman internasional.

baca juga

Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. 

Sekitar seperlima perdagangan minyak global serta sebagian besar ekspor gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk melewati kawasan tersebut.

"Bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia, stabilitas Selat Hormuz berhubungan langsung dengan ketersediaan energi, biaya logistik, inflasi, serta daya saing industri," tambah Yukki.

Saat konflik memanas, harga minyak mentah dunia sempat melonjak. Harga minyak Brent tercatat bertahan di kisaran 106 dolar AS per barel sebelum akhirnya turun ke level sekitar 77 dolar AS per barel. 

Selain itu, pelaku usaha juga menghadapi kenaikan war risk premium, perubahan rute pelayaran, hingga meningkatnya biaya transportasi internasional.

Menurut Yukki, terdapat satu aspek yang sering luput dari perhatian, yakni perbedaan kecepatan pemulihan antara jalur pelayaran dan fasilitas energi.

"Berbeda dengan jalur pelayaran yang dapat dibuka kembali relatif cepat setelah keamanan membaik, pemulihan fasilitas energi membutuhkan waktu jauh lebih panjang," ucap Yukki.

Di tengah dinamika politik dan krisis energi global, memastikan pasokan energi yang stabil bukan hanya sekadar tantangan teknis, tetapi juga bagian dari menjaga stabilitas ekonomi. (Foto Ist)
Ilustrasi logistik. (Foto Ist)

Kilang minyak, dia menambahkan,terminal ekspor, fasilitas penyimpanan, hingga infrastruktur LNG yang terganggu memerlukan perbaikan, investasi, serta pengujian operasional sebelum dapat beroperasi optimal.

Kekhawatiran tersebut sejalan dengan temuan sejumlah lembaga energi internasional. Rystad Energy memperkirakan nilai kerusakan infrastruktur energi di kawasan Teluk mencapai 58 miliar dolar AS.

Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) mencatat lebih dari 40 aset minyak dan gas mengalami kerusakan akibat konflik.

Sebagian fasilitas tersebut diperkirakan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk pulih karena keterbatasan peralatan dan tenaga ahli.

"Artinya, meskipun kapal tanker sudah kembali melintas, kapasitas produksi dan distribusi energi global belum tentu langsung pulih sepenuhnya," ujar Yukki.

Menurutnya, kondisi ini berpotensi menjaga volatilitas harga energi dalam jangka menengah dan tetap menekan biaya mata rantai pasok dunia.

Ia menilai, kondisi tersebut menjadi pengingat bagi Indonesia untuk terus memperkuat ketahanan logistik nasional melalui percepatan industrialisasi dan hilirisasi, peningkatan kapasitas penyimpanan energi, penguatan konektivitas multimoda, serta diversifikasi sumber pasokan energi dan bahan baku strategis.

Yukki melihat, Indonesia senantiasa tetap perlu membangun kesadaran bahwa ketahanan energi, infrastruktur, dan rantai pasok global harus dibangun. 

"Di tengah ketidakpastian geopolitik yang semakin kompleks, kemampuan suatu negara menjaga keberlangsungan rantai pasoknya akan menjadi penentu utama daya saing dan ketahanan ekonominya di masa depan," pungkas Yukki.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Selat Hormuz Dibuka, Bahlil Sebut Indonesia Tetap Lanjutkan Kontrak Impor Minyak

Selat Hormuz Dibuka, Bahlil Sebut Indonesia Tetap Lanjutkan Kontrak Impor Minyak

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 20:15 WIB

Rupiah Menguat dan IHSG Terbang, Apakah Damai AS-Iran Jadi Titik Balik Ekonomi RI?

Rupiah Menguat dan IHSG Terbang, Apakah Damai AS-Iran Jadi Titik Balik Ekonomi RI?

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 18:11 WIB

Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Harga Pertamax Turun?

Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Harga Pertamax Turun?

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 14:11 WIB

Harga Minyak Mentah Terjun Bebas ke Level Terendah, Analis: Ekspektasi Oversupply

Harga Minyak Mentah Terjun Bebas ke Level Terendah, Analis: Ekspektasi Oversupply

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 07:23 WIB

Pemerintah Batal Naikkan Harga Minyakita

Pemerintah Batal Naikkan Harga Minyakita

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 17:48 WIB

Mendag Tegaskan Amerika Serikat Negara Tujuan Ekspor Terpenting

Mendag Tegaskan Amerika Serikat Negara Tujuan Ekspor Terpenting

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 13:57 WIB

Terkini

Kapal Mulai Keluar Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melemah

Kapal Mulai Keluar Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melemah

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 10:30 WIB

LPS Pastikan Keamanan Tabungan, Ratusan Juta Rekening Dijamin hingga Rp2 Miliar

LPS Pastikan Keamanan Tabungan, Ratusan Juta Rekening Dijamin hingga Rp2 Miliar

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 10:07 WIB

Zulhas Respons Keluhan Mitra MBG, Janji Libatkan dalam Perumusan Kebijakan

Zulhas Respons Keluhan Mitra MBG, Janji Libatkan dalam Perumusan Kebijakan

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 10:01 WIB

Kurs Rupiah Hari Ini: Dolar AS Tembus Rp17.995, Pasar Waspadai Kebijakan The Fed

Kurs Rupiah Hari Ini: Dolar AS Tembus Rp17.995, Pasar Waspadai Kebijakan The Fed

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 09:50 WIB

DSI Diminta Jadi Operator Bisnis, Bukan Regulator Baru

DSI Diminta Jadi Operator Bisnis, Bukan Regulator Baru

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 09:50 WIB

Sinergi Mengemaskan Indonesia, Pegadaian - Pupuk Kaltim Kolaborasi Demi Pertumbuhan Berkelanjutan

Sinergi Mengemaskan Indonesia, Pegadaian - Pupuk Kaltim Kolaborasi Demi Pertumbuhan Berkelanjutan

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 09:37 WIB

IHSG Menghijau Lagi Dibuka ke Level 6.000, TPIA dan ASII Mulai Dibeli Asing

IHSG Menghijau Lagi Dibuka ke Level 6.000, TPIA dan ASII Mulai Dibeli Asing

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 09:16 WIB

Waktunya Beli, Harga Emas Antam Dua Hari Nggak Berubah Masih Rp2.665.000/Gram

Waktunya Beli, Harga Emas Antam Dua Hari Nggak Berubah Masih Rp2.665.000/Gram

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 09:03 WIB

Emiten Konstruksi PPRE Catatkan Pendapatan Rp3,9 Triliun Sepanjang 2025

Emiten Konstruksi PPRE Catatkan Pendapatan Rp3,9 Triliun Sepanjang 2025

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 08:56 WIB

Belajar ke Inggris, Menteri LH Bidik Sampah Jadi Komoditas Bernilai Ekonomi

Belajar ke Inggris, Menteri LH Bidik Sampah Jadi Komoditas Bernilai Ekonomi

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 08:52 WIB