Harga LNG Naik, INDEF Ingatkan Pemerintah Mitigasi Risiko PHK Industri

Dythia Novianty, Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Jum'at, 26 Juni 2026 | 11:47 WIB
Harga LNG Naik, INDEF Ingatkan Pemerintah Mitigasi Risiko PHK Industri
Ilustrasi PHK. [Unpslash]
baca 10 detik
  • Abra Talattov dari INDEF menyatakan kenaikan harga LNG industri dipicu dinamika geopolitik dan penurunan pasokan gas pipa domestik.
  • Penurunan pasokan gas pipa hingga 2026 memaksa industri menggunakan LNG yang lebih mahal sebagai alternatif sumber energi.
  • Pemerintah perlu memitigasi risiko PHK dan memperbaiki tata kelola gas nasional melalui kebijakan alokasi serta harga khusus.

Suara.com - Kepala Pusat Energi dan Pangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov, menilai kenaikan harga gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) bagi pelanggan industri harus dilihat secara proporsional.

Menurutnya, penyesuaian harga tersebut merupakan dampak dari dinamika geopolitik global serta berlakunya formula harga yang merujuk pada pasar energi dunia.

Abra menjelaskan, tren kenaikan harga ini juga dipicu oleh menyusutnya pasokan gas pipa domestik untuk sektor industri dalam tiga tahun terakhir.

Data menunjukkan pasokan gas pipa industri turun 16 persen dari 479 BBTUD pada 2024 menjadi 400 BBTUD pada 2025, dan kembali merosot 18 persen menjadi 327 BBTUD pada 2026.

Penurunan ini disebabkan oleh faktor alamiah (natural decline) serta kebijakan prioritas alokasi gas bumi yang lebih mendahulukan sektor kelistrikan.

"Ketika pasokan gas pipa menurun, sementara kebutuhan industri tetap tinggi, maka harus ada sumber alternatif agar kegiatan produksi tidak terganggu. LNG menjadi salah satu opsi untuk menutup kekurangan pasokan tersebut," kata Abra lewat keterangannya yang dikutip pada Jumat (26/6/2026).

Ilustrasi kilang LNG. [Ist]
Ilustrasi kilang LNG. [Ist]

Meskipun harga LNG domestik saat ini naik ke kisaran 21–25 dolar AS per MMBTU, Abra menilai angka tersebut masih relatif kompetitif dibandingkan dengan harga LNG industri di beberapa negara Asia Tenggara lainnya.

Kendati demikian, Abra mengingatkan pemerintah untuk memitigasi dampak kenaikan ini agar tidak menekan biaya produksi pabrik yang berisiko memicu pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Kita tidak boleh menutup mata bahwa kenaikan harga gas, terutama bagi industri yang menggunakan LNG atau gas non-HGBT, dapat menekan biaya produksi," ujar Abra.

baca juga

Pada industri tertentu, dia menambahkan, tekanan ini bisa berdampak terhadap utilisasi pabrik, arus kas, daya saing, bahkan risiko PHK.

"Maka mitigasi terhadap industri dan tenaga kerja harus menjadi prioritas, tetapi solusinya jangan sampai menciptakan tekanan baru bagi rantai pasok gas nasional," ungkapnya.

Di sisi lain, Abra menilai posisi badan usaha penyalur gas (midstream) tidak memiliki fleksibilitas penuh dalam menentukan harga jual. Hal ini karena komponen harga hulu, biaya infrastruktur, dan margin niaga hilir telah diatur ketat oleh regulasi pemerintah.

Guna mengatasi persoalan ini, Abra memberikan beberapa rekomendasi.

Di antaranya pemerintah perlu mengoptimalkan harga LNG hulu melalui penerapan harga khusus domestik (ceiling price) dan penguatan kontrak jangka panjang guna menghindari volatilitas harga spot.

Selain itu, pemerintah harus mempercepat realokasi pasokan gas domestik dengan mengevaluasi porsi ekspor serta memprioritaskan alokasi untuk industri lokal tanpa mengganggu kontrak berjalan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Demi Peningkatan Layanan pada Masyarakat, Pertamina Harus Jadi Lokomotif Ketahanan Energi Nasional

Demi Peningkatan Layanan pada Masyarakat, Pertamina Harus Jadi Lokomotif Ketahanan Energi Nasional

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 10:30 WIB

Tak Hanya Listrik, Limbah Panas Bumi Disulap Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Tak Hanya Listrik, Limbah Panas Bumi Disulap Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 07:59 WIB

Minat Investor pada Energi Bersih Buka Peluang Proyek Panas Bumi Peroleh Pendanaan Jangka Panjang

Minat Investor pada Energi Bersih Buka Peluang Proyek Panas Bumi Peroleh Pendanaan Jangka Panjang

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 09:45 WIB

Emiten HGII Tebar Dividen Buat Pemegang Saham, Berapa Besarannya?

Emiten HGII Tebar Dividen Buat Pemegang Saham, Berapa Besarannya?

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 09:03 WIB

Mengapa Pertalite Mau Dihapus?

Mengapa Pertalite Mau Dihapus?

Bisnis | Sabtu, 13 Juni 2026 | 10:26 WIB

Industri Manufaktur Didesak Beralih ke Energi Hijau, Jangan Tunggu Sampai Kalah Saing

Industri Manufaktur Didesak Beralih ke Energi Hijau, Jangan Tunggu Sampai Kalah Saing

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 18:50 WIB

Terkini

Dorong Parliamentary Threshold 6 Persen, Said Abdullah Sebut PDIP Konsisten Sejak Awal

Dorong Parliamentary Threshold 6 Persen, Said Abdullah Sebut PDIP Konsisten Sejak Awal

News | Kamis, 24 September 2026 | 18:29 WIB

Mengapa Reward Harian dalam Game Bisa Membuat Pemain Lebih Hemat?

Mengapa Reward Harian dalam Game Bisa Membuat Pemain Lebih Hemat?

Jatim | Kamis, 24 September 2026 | 18:29 WIB

Korupsi Pengadaan Lahan Rorotan, Yoory Pinontoan Cs Didakwa Rugikan Negara Rp80 Miliar

Korupsi Pengadaan Lahan Rorotan, Yoory Pinontoan Cs Didakwa Rugikan Negara Rp80 Miliar

News | Kamis, 24 September 2026 | 18:26 WIB

Niti Rumat: Ketika Kurator Seni Rupa Tak Hanya Pameran, tapi Juga Merawat Sejarah

Niti Rumat: Ketika Kurator Seni Rupa Tak Hanya Pameran, tapi Juga Merawat Sejarah

Your Say | Kamis, 24 September 2026 | 18:25 WIB

Heran Eks Dirjen PHU Tak Akui BAP di Sidang Kasus Haji, Hakim: Mungkin Penyidiknya Halu

Heran Eks Dirjen PHU Tak Akui BAP di Sidang Kasus Haji, Hakim: Mungkin Penyidiknya Halu

News | Kamis, 24 September 2026 | 18:22 WIB

Jokowi Jawab Gugatan Pendidikan Gibran di MK: Mengapa Singgung Paket C?

Jokowi Jawab Gugatan Pendidikan Gibran di MK: Mengapa Singgung Paket C?

Sumsel | Kamis, 24 September 2026 | 18:19 WIB

Cegah Spekulasi Liar, DPR Minta Imipas Buka-bukaan Soal Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong

Cegah Spekulasi Liar, DPR Minta Imipas Buka-bukaan Soal Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong

News | Kamis, 24 September 2026 | 18:18 WIB

Bukan Buat Perang, Ini Alasan RI Butuh Kapal Induk

Bukan Buat Perang, Ini Alasan RI Butuh Kapal Induk

Your Say | Kamis, 24 September 2026 | 18:15 WIB

Kuliah Gratis di PTN Dinilai Bisa Bikin PTS Kolaps, Pemerintah Diminta Siap-siap

Kuliah Gratis di PTN Dinilai Bisa Bikin PTS Kolaps, Pemerintah Diminta Siap-siap

News | Kamis, 24 September 2026 | 18:14 WIB

REDMI Note 17 Pro Max 5G Bawa Baterai 10.000mAh, Bonus Kuota XL 1.000GB

REDMI Note 17 Pro Max 5G Bawa Baterai 10.000mAh, Bonus Kuota XL 1.000GB

Tekno | Kamis, 24 September 2026 | 18:14 WIB

×