- Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.995 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin, 7 Juli 2026.
- Pelemahan dipicu ketidakpastian geopolitik Rusia-Ukraina, kondisi minyak dunia, serta kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
- Ekonomi domestik tertekan akibat peringatan Fitch Ratings terkait indikator makro dan defisit neraca perdagangan Indonesia sebesar 1,61 miliar dolar.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terkapar lemah terhadap dolar AS hingga penutupan, Senin, 7 Juli 2026. Bahkan, rupiah sempat ke level Rp18.000 per dolar AS.
Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah melemah 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp 17.995.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah imbas dari kondisi geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang kembali memanas.
Sementara, nilai tukar terpengaruh dari pulihnya pasokan minyak dunia.
"Di AS, data penggajian non-pertanian yang lebih lemah dari perkiraan untuk bulan Juni, yang menimbulkan pertanyaan tentang seberapa besar ruang gerak Fed untuk menaikkan suku bunga. Namun demikian, kerugian pada dolar dibatasi oleh ketidakpastian yang berkelanjutan atas kebijakan Fed yang agresif," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (6/7/2026).
![Mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/29/21678-nilai-tukar-rupiah.jpg)
Dari sisi dalam negeri, ia mengungkapkan, pasar merespon negatif, setelah Fitch Ratings memberikan pandangan terkait rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia, yang terlihat dari indicator pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, hingga arus modal keluar yang masif.
"Selain Fitch Ratings, pasar juga gelisah setelah neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026, sekaligus mengakhiri tren surplus selama 72 bulan beruntun," ucap Ibrahim.