- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan kinerja positif penerimaan pajak Indonesia pada semester pertama tahun 2026 dalam rapat DPR.
- Penerimaan negara meningkat signifikan pada berbagai kategori pajak seperti PPh dan PPN yang mencerminkan ketahanan ekonomi domestik masyarakat.
- Sektor perdagangan menjadi pendorong utama pertumbuhan pajak nasional diikuti oleh industri pengolahan, pertambangan, serta sektor ekonomi penting lainnya.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan sejumlah penerimaan negara dari pajak untuk membuktikan kondisi ekonomi Indonesia masih kuat di semester pertama 2026.
Diketahui realisasi Pendapatan Negara mencapai Rp 1.459 triliun di semester pertama 2026. Angka ini setara 46,3 persen dari outlook APBN dan tumbuh 21,4 persen secara tahunan (yoy).
Dalam paparannya, Menkeu Purbaya memperlihatkan data penerimaan negara dari kategori Pajak Penghasilan (PPh) Badan, Deposit PPh Badan, PPh Orang Pribadi, PPh 21, Deposit PPh 21, PPh Final, PPh 22, PPh 26, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), hingga Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).
"Dari sisi jenis pajak, hampir seluruh kelompok penerimaan menunjukkan kinerja positif," katanya dalam Rapat Kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI yang disiarkan virtual, Selasa (7/7/2026).
Untuk kategori PPh Badan dan Deposit PPh Badan, penerimaan negara mencapai Rp 196,1 triliun atau meningkat 28,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).
Sedangkan kategori PPh Orang Pribadi, PPh 21, dan Deposit PPh 21 mendapatkan realisasi Rp 146,0 triliun atau naik 13,6 persen yoy. Ia menerangkan kalau kategori ini tumbuh kuat sejalan dengan meningkatnya profitabilitas dunia usaha dan penghasilan masyarakat.
Kemudian kategori PPh Final, PPh 22, dan PPh 26 mencatatkan realisasi Rp 159,9 triliun atau meningkat 1,4 persen yoy. Sementara kategori PPN dan PPnBM mengantongi Rp 380,0 triliun atau meningkat 42,2 persen yoy.
Purbaya mengatakan peningkatan itu mencerminkan konsumsi domestik yang tetap resilien. Adapun kategori terakhir Lainnya mencatatkan realisasi Rp 153,8 triliun atau meningkat 22,7 persen yoy.
"Jadi ini menunjukkan memang betul-betul ada perbaikan di perekonomian. Ke depan, Pemerintah akan terus memperkuat pengawasan kepatuhan berbasis risiko, optimalisasi pemanfaatan data, serta penyempurnaan administrasi perpajakan untuk menjaga momentum penerimaan pajak hingga akhir tahun," paparnya.
Rincian pajak dari lintas sektor
Purbaya juga menerangkan sumber pendapatan negara yang dikumpulkan dari pajak lintas sektor mulai dari perdagangan, industri pengolahan, pertambangan, pengangkutan dan pergudangan, konstruksi dan real estat, hingga jasa perusahaan.
Sektor perdagangan menjadi pendorong utama penerimaan pajak dengan kontribusi 25,6 persen serta mengalami pertumbuhan 45,9 persen yoy. Purbaya menerangkan ini dipengaruhi subsektor perdagangan besar BBM sejalan dengan kenaikan harga minyak bumi, serta meningkatnya tren belanja online di perdagangan daring.
Di bawahnya ada industri pengolahan dengan kontribusi 22,8 persen dan mengalami pertumbuhan 19,9 persen yoy. Ini ditopang oleh subsektor industri minyak kelapa sawit yang profitabilitasnya meningkat.
Lalu ada sektor pertambangan dengan kontribusi 9,3 persen dan pertumbuhan 22,8 persen yoy. Ini ditopang berkat pertumbuhan sektor pertambangan migas.
Di bawahnya ada sektor pengangkutan dan pergudangan dengan kontribusi 4,3 persen dan pertumbuhan 10,7 persen yoy. Selanjutnya konstruksi dan real estat dengan kontribusi 3,7 persen dan pertumbuhan 9,2 persen yoy.
Jasa perusahaan berkontribusi 3,2 persen dengan pertumbuhan 14,7 persen yoy. Terakhir ada kategori Lainnya dengan kontribusi 31,2 persen dan pertumbuhan 18,3 persen yoy.
"Sudut pertumbuhan yang lebih merata ini menjadi indikasi bahwa basis penerimaan negara semakin kuat dan tidak hanya bergantung pada satu sektor tertentu," tegas Purbaya.