- Industri penerbangan nasional mengkaji penerapan skema bagasi berdasarkan jumlah koper atau piece concept bagi penumpang pesawat.
- Konsep ini dinilai memberikan kepastian lebih baik serta memudahkan penumpang dalam memahami ketentuan bagasi selama perjalanan.
- Penerapan skema tersebut berpotensi meningkatkan efisiensi operasional maskapai melalui penataan proses penanganan bagasi yang lebih terukur.
Suara.com - Wacana penerapan skema bagasi pesawat berdasarkan jumlah koper atau piece concept kembali mencuat dan dinilai layak dikaji oleh industri penerbangan nasional.
Konsep ini disebut mampu memberikan kepastian yang lebih baik bagi penumpang dibandingkan sistem bagasi berbasis total berat yang selama ini diterapkan.
Pengamat transportasi udara Gatot Raharjo mengatakan tren perjalanan udara terus berubah sehingga maskapai perlu mengevaluasi apakah skema bagasi berbasis berat masih menjadi pendekatan yang paling relevan bagi seluruh segmen penumpang.
"Kalau kita melihat tren global, pengaturan bagasi di industri penerbangan memang tidak lagi hanya bicara soal berapa kilogram yang boleh dibawa. Di sejumlah maskapai internasional, pendekatan piece concept telah diterapkan sebagai salah satu sekma pengaturan bagasi, dimana penumpang diberikan kepastian dalam bentuk jumlah koper atau koli, dengan batas berat tertentu per piece," ujar Gatot di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Menurutnya, model bagasi berbasis jumlah koper lebih mudah dipahami karena penumpang mengetahui sejak awal berapa koper yang dapat dibawa, bukan hanya batas total berat bagasi.
Ia menilai konsep tersebut berpotensi memberikan nilai tambah, terutama bagi penumpang keluarga, wisatawan, maupun pelaku perjalanan dinas yang membutuhkan kepastian sebelum tiba di bandara.
"Dalam konteks pengalaman penumpang, piece concept berpotensi memberikan kepastian yang lebih baik bagi penumpang sejak awal perjalanan. Penumpang tahu bahwa yang dihitung bukan sekadar total kilogram, tetapi juga jumlah koper. Ini penting karena di lapangan, aturan berbasis berat kadang masih membuka ruang miskomunikasi," katanya.
Selain memberikan kemudahan bagi penumpang, Gatot menilai skema one piece baggage allowance juga berpotensi meningkatkan efisiensi operasional maskapai.
Dengan jumlah dan berat koper yang lebih terukur, proses mulai dari check-in, pemilahan bagasi, hingga ground handling dapat berlangsung lebih tertata.
"Dengan jumlah dan berat koper yang lebih terukur proses penanganan bagasi berpotensi menjadi lebih tertata dan sederhana, terutama pada penerbangan dengan tingkat keterisian tinggi," pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Rusmiati menilai konsep one piece baggage allowance merupakan salah satu opsi kebijakan yang layak dipertimbangkan oleh maskapai, seiring perubahan kebutuhan dan pola perjalanan masyarakat.
"Kami melihat hal tersebut jadi salah satu opsi kebijakan bagasi yang mungkin dapat dipertimbangkan oleh maskapai, selama implementasinya mampu menjawab kebutuhan penumpang khususnya mereka yang melakukan perjalanan jarak jauh atau berlibur dalam durasi yang lebih panjang. Dalam konteks tersebut, konsep bagasi berbasis piece baggage menjadi salah satu alternatif yang patut dipertimbangkan," bebernya.
Namun, Rusmiati mengingatkan bahwa penerapan skema tersebut juga perlu memperhitungkan aspek operasional maskapai, termasuk konsumsi bahan bakar dan efisiensi biaya.
"Hal-hal seperti ini biasanya akan menjadi pertimbangan utama maskapai dalam menentukan kebijakan," pungkasnya.