- IHSG anjlok 1,89 persen pada 8 Juli 2026 akibat aksi jual asing dan potensi penurunan status pasar modal.
- Pernyataan geopolitik Presiden Trump memicu volatilitas Wall Street serta kekhawatiran kenaikan inflasi akibat lonjakan harga minyak mentah.
- Bursa saham Asia bergerak bervariasi dengan indeks Kospi Korea Selatan anjlok signifikan, sementara indeks Hang Seng mencatatkan penguatan.
Suara.com - Kombinasi dari memanasnya tensi geopolitik global dan sentimen negatif domestik sukses menekan pasar saham Indonesia. Pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok signifikan sebesar 1,89 persen atau terpangkas 113,12 poin ke level 5.873,37.
Kejatuhan indeks saham domestik ini dipicu oleh aksi jual investor asing yang diperparah oleh kekhawatiran pasar terkait potensi penurunan status (downgrade) pasar modal Indonesia oleh S&P Dow Jones Indices dari kategori pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar perintis (frontier market).
Sinyal Membingungkan Trump Guncang Wall Street
Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) bergerak fluktuatif setelah Presiden Donald Trump memberikan pernyataan yang membingungkan terkait status perang dengan Iran.
Indeks S&P 500 sempat merosot hingga 1,1 persen setelah Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata sementara telah "berakhir".
Namun, indeks berhasil memangkas pelemahan menjadi 0,3 persen di akhir perdagangan setelah Trump mengklarifikasi bahwa pertempuran baru-baru ini bukan berarti kembalinya perang skala penuh.
Secara kumulatif, indeks Dow Jones Industrial Average merosot hingga 576 poin atau jatuh 1,1 persen. Sebaliknya, indeks Nasdaq yang padat teknologi berhasil membalikkan keadaan dari zona merah dan ditutup menguat tipis 0,2 persen.
Retorika Trump ini dinilai menjadi ancaman baru bagi perekonomian dunia. Jika perang terus berlanjut, terdapat risiko pemblokiran Selat Hormuz yang merupakan jalur urat nadi pengiriman minyak mentah dari Teluk Persia ke seluruh dunia.
Hal ini dikhawatirkan dapat memicu kembali lonjakan inflasi global, yang pada gilirannya akan memaksa Bank Sentral AS (The Fed) dan bank sentral dunia lainnya untuk menaikkan suku bunga acuan. Suku bunga yang tinggi berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menekan harga aset investasi.
Lonjakan Harga Minyak dan Saham yang Terdampak
Sektor komoditas energi merespons keras situasi ini. Harga minyak mentah jenis Brent meroket 5,2 persen ke level USD 78,02 per barel dan sempat menyentuh angka USD 80.
Lonjakan ini dinilai mencemaskan karena harga minyak baru saja mendingin ke level sebelum perang, meski posisinya masih di bawah puncaknya yang sempat menyentuh USD 120 per barel.
Di Wall Street, saham-saham sektor perumahan menjadi industri yang memimpin kejatuhan akibat kekhawatiran kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) yang akan mengerek bunga KPR. Saham Builders FirstSource terjun 5.4 persen, diikuti PulteGroup yang turun 5,4 persen, dan D.R. Horton yang merosot 4,6 persen.
Emiten dengan beban biaya bahan bakar tinggi juga berguguran, seperti American Airlines yang jatuh 4 persen dan operator kapal pesiar Carnival yang terkoreksi 3,9 persen. Penurunan bursa saham AS ini sedikit tertahan oleh stabilitas saham-saham raksasa di industri kecerdasan buatan (AI) yang berhasil bangkit dari tekanan aksi jual dalam beberapa pekan terakhir.
Pergerakan Kontras Bursa Saham Asia
Di kawasan Asia, bursa saham bergerak bervariasi dengan volatilitas tinggi:
Korea Selatan: Indeks Kospi ditutup anjlok 5,3 persen, melanjutkan tren fluktuasi tajam akibat pergeseran sentimen pasar terhadap saham-saham sektor AI yang mendominasi bursa Seoul.
Hong Kong: Indeks Hang Seng tampil anomali dengan melonjak 3 persen. Penguatan ini dipimpin oleh startup AI asal China, Zhipu (Z.ai / Knowledge Atlas Technology), yang sahamnya melesat 13,4 persen.