- PT Prodia Diagnostic Line Tbk melakukan IPO untuk memperluas jangkauan bisnis dan meningkatkan kapasitas operasional industri diagnostik nasional.
- Perseroan menawarkan 522,9 juta saham baru senilai Rp120 per lembar untuk menghimpun dana sebesar Rp62,75 miliar.
- Kinerja keuangan perusahaan mencatat kenaikan laba bersih signifikan sebesar 70,7 persen menjadi Rp16,9 miliar sepanjang tahun 2025.
Suara.com - PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) optimistis dapat memperkuat posisi di industri alat kesehatan nasional melalui penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO).
IPO PRDL ini menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan bisnis, meningkatkan kapasitas operasional, serta mendukung pengembangan industri diagnostik in vitro di Indonesia yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan menjanjikan.
Direktur Utama PRDL, Cristina Sandjaja, mengatakan perseroan merupakan pionir produsen reagen kimia dengan pengalaman produksi selama 14 tahun sejak Agustus 2012.
Saat ini PRDL memiliki lebih dari 1.083 stock keeping unit (SKU) produk aktif yang telah menjangkau 38 provinsi dan 370 kabupaten/kota di Indonesia.
"Produk PRDL telah digunakan oleh lebih dari 7.600 pelanggan yang terdiri atas sekitar 7.000 puskesmas, 300 rumah sakit, 317 dinas kesehatan kabupaten/kota, serta berbagai institusi kesehatan lainnya," katanya di Gedung BEI, Kamis (9/7/2026).
Selain itu, lini produk utama perseroan memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 70 persen sehingga memperkuat daya saing di tengah meningkatnya kebutuhan alat kesehatan nasional.
![Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (27/1/2026). [Suara.com/Rina]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/27/69191-bursa-efek-indonesia-bei-jakarta.jpg)
Dalam aksi korporasi ini, PRDL menawarkan sebanyak 522,9 juta saham baru atau setara 30 persendari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO dengan harga final Rp120 per saham. Dengan demikian, perseroan berpotensi menghimpun dana sekitar Rp62,75 miliar dari pasar modal.
Dana hasil IPO akan dimanfaatkan untuk memperluas jaringan bisnis, meningkatkan kapasitas operasional, serta memperkuat kontribusi perusahaan terhadap pengembangan industri alat kesehatan dalam negeri.
Prospek industri alat kesehatan juga dinilai masih sangat besar. Pemerintah mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar Rp244 triliun pada 2026 dan menargetkan program skrining kesehatan nasional yang menjangkau 140 juta penduduk.
Dukungan lebih dari 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia serta meningkatnya fokus terhadap deteksi dini penyakit menjadi peluang bagi industri diagnostik in vitro untuk terus berkembang.
"Kami melihat peluang pertumbuhan yang masih sangat besar, terutama pada fasilitas kesehatan primer yang belum seluruhnya terjangkau. Dengan kualitas produk kami yang unggul, kapasitas produksi yang besar, jaringan distribusi yang luas serta nilai TKDN produk kami yang tinggi, kami optimistis dapat memperluas penetrasi pasar sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam penguatan pelayanan kesehatan nasional," bebernya.
Dari sisi kinerja keuangan, PRDL mencatat pemulihan yang solid menjelang pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia. Sepanjang 2025, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp74,4 miliar, meningkat 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Laba bersih PRDL juga melonjak 70,7 persen menjadi Rp16,9 miliar, sementara EBITDA naik 66,9 persen menjadi Rp29,2 miliar, mencerminkan peningkatan profitabilitas sekaligus efisiensi operasional perusahaan.
Berdasarkan prospektus yang mengacu pada laporan keuangan audit 2025, dengan harga penawaran final tersebut PRDL menawarkan price to earnings ratio (PER) tahun buku 2025 sebesar 8,61 kali, yang dinilai kompetitif dibandingkan emiten lain di sektor kesehatan dengan mempertimbangkan tren pertumbuhan kinerja perseroan.
Melalui IPO PRDL, perseroan berharap dapat memperkuat perannya sebagai bagian dari ekosistem Prodia dalam menghadirkan solusi diagnostik berkualitas, mendorong pengambilan keputusan klinis yang lebih akurat, serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat Indonesia melalui inovasi, produk berstandar tinggi, dan layanan yang berkelanjutan.