- S&P Global Ratings mempertahankan prospek stabil utang Indonesia, sehingga memberikan sentimen positif bagi pergerakan pasar modal domestik.
- BRI Danareksa Sekuritas menetapkan target IHSG di level 7.200 karena menilai valuasi pasar saham saat ini terlalu pesimistis.
- Keputusan rating tersebut menjaga stabilitas IHSG di level psikologis 6.000 meskipun investor asing masih bersikap hati-hati berinvestasi.
Suara.com - Langkah lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings yang tetap mempertahankan prospek (outlook) stabil terhadap rating utang Indonesia dinilai efektif memberikan sentimen positif bagi pasar modal domestik.
Keputusan ini berhasil mengendurkan tekanan premi risiko yang belakangan ini menjadi beban bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Merespons angin segar dari sektor makro tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merilis riset terbaru yang tetap optimis mempertahankan target akhir jangka panjang IHSG berada di level 7.200.
Target optimis tersebut mencerminkan proyeksi rasio harga terhadap laba (Price to Earnings/PE) sebesar 10 kali, dengan estimasi pertumbuhan laba per saham (Earnings Per Share/EPS) sebesar 8 persen untuk periode mendatang.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan bersama Wilastita Muthia Sofi, memaparkan bahwa posisi valuasi bursa domestik saat ini yang berada pada PE 9,1 kali mencerminkan sikap pasar yang terlampau kekhawatiran.
"Kami memandang valuasi pasar saham saat ini terlalu pesimistis. Angka tersebut seolah-olah mengindikasikan adanya risiko penurunan peringkat kedaulatan yang lebih dalam atau prospek pertumbuhan laba korporasi yang negatif ke depan," urai tim analis dalam laporan risetnya, Selasa (14/7/2026).
Kombinasi data ini memperkuat tesis bahwa perbandingan potensi keuntungan terhadap risiko (risk-reward profile) yang ditawarkan oleh bursa saham Indonesia secara fundamental masih berada dalam kategori yang menarik bagi pemodal.
Penilaian serupa dikemukakan oleh Founder Republik Investor, Hendra Wardana. Menurutnya, kepastian rating utang Indonesia yang kokoh di level BBB dengan prospek stabil menjadi pendorong utama yang membawa indeks kembali menembus dan bertahan di level psikologis 6.000.
"Langkah S&P memberikan sinyal eksplisit kepada komunitas global bahwa kondisi fundamental ekonomi nasional dinilai kokoh. Hal ini tecermin dari kemampuan pembuat kebijakan dalam menjaga stabilitas fiskal, kesehatan sektor perbankan, hingga prospek pertumbuhan jangka menengah," papar Hendra.
Bagi pelaku pasar, kepastian tidak adanya penurunan peringkat ini meredakan kekhawatiran yang sempat membayangi bursa akibat meningkatnya ketidakpastian ekonomi makro global.
Kendati demikian, Hendra mencatat penguatan yang terjadi belum sepenuhnya didorong oleh aksi beli agresif dari pemodal internasional.
Sebagian investor asing terpantau masih memilih strategi wait and see dan bersikap hati-hati dalam mengalokasikan portofolio mereka.
Pada sesi penutupan perdagangan pasar spot, IHSG bertambah tipis 1,68 poin atau naik 0,03 persen dan parkir di level 6.039. Aktivitas perdagangan harian berlangsung dinamis dengan mencatatkan volume transaksi hingga 27,9 miliar lembar saham serta nilai perputaran modal mencapai Rp16,4 triliun.
Peta pergerakan saham memperlihatkan dominasi tren positif:
Saham Menguat: 439 emiten
Saham Melemah: 217 emiten
Saham Stagnan: 309 emiten
Untuk jajaran indeks sektoral, mayoritas bergerak ke zona hijau, di antaranya sektor energi, bahan baku, industri, properti, teknologi, transportasi, infrastruktur, serta konsumer baik siklikal maupun non-siklikal. Sebaliknya, hanya sektor keuangan yang menjadi penahan laju indeks karena terjerembab di zona merah.
Dari deretan pergerakan emiten, saham Insight Investment Management memimpin kelompok top gainers setelah melonjak 34,02 persen ke posisi Rp130.
Diikuti oleh PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR) yang melejit 25 persen ke level Rp260, serta PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) yang juga melesat 25 persen ke harga Rp340.
Di sisi lain, jajaran top losers ditempati oleh PT Niramas Utama Tbk (JELI) yang merosot 14,90 persen ke Rp1.085, PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) yang terkoreksi 14,85 persen menjadi Rp2.810, serta PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) yang melemah 13,89 persen ke posisi Rp93 per lembar saham.