- Guru Besar UI Ratu Ayu Dewi Sartika menciptakan sirup emulsi minyak sawit merah untuk menekan stunting di Indonesia.
- Produk hasil riset BPDP KS ini terbukti klinis menurunkan risiko Bayi Berat Lahir Rendah bagi ibu hamil.
- Inovasi ini berpotensi menjadi suplemen pendukung program Makan Bergizi Gratis guna mencapai kedaulatan pangan nasional yang mandiri.
Suara.com - Guru Besar Departemen Gizi Universitas Indonesia (UI) Ratu Ayu Dewi Sartika berhasil menciptakan terobosan produk turunan minyak sawit merah (Red Palm Oil) berbentuk sirup emulsi.
Sirup Sawit Merah ini dinilainya efektif memutus rantai stunting langsung dari hulu, serta berpotensi menjadi amunisi komplementer bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah.
Lewat riset yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS), sirup ini terbukti secara klinis mampu menekan risiko kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) secara signifikan.
Dalam paparannya, Ratu Ayu menjelaskan bahwa stunting dan wasting tidak hanya mengintai balita, tetapi juga banyak terjadi pada anak-anak usia sekolah. Hal ini menjadi titik temu krusial dengan program strategis pemerintah saat ini, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Di usia sekolah, kebutuhan vitamin A sangat penting untuk tumbuh kembang, sekaligus menekan angka stunting dan wasting yang masih marak di kalangan anak sekolah kita. Di sinilah ada peluang besar bagi minyak sawit merah untuk masuk mendukung skema MBG," ujar Ratu Ayu dalam diskusi yang digelar di Kantor BPDP, Jakarta, dikutip Kamis (16/7/2026).
Ratu Ayu menambahkan, jika MBG berfokus pada pemenuhan gizi anak sekolah di hilir, maka inovasi sirup sawit merah ini hadir sebagai jaring pengaman utama di sisi hulunya, yaitu pada periode emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sejak bayi dalam kandungan.
![Guru Besar Departemen Gizi Universitas Indonesia (UI), Ratu Ayu Dewi Sartika (kiri) dalam acara diskusi yang digelar di Kantor BPDP Kemenkeu, Jakarta, Rabu (16/7/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/16/78439-guru-besar-departemen-gizi-universitas-indonesia-ui-ratu-ayu-dewi-sartika.jpg)
Hasil risetnya menunjukkan bahwa ibu hamil yang tidak mendapatkan suplemen sirup sawit merah ini memiliki risiko 4 kali lipat lebih besar untuk melahirkan bayi BBLR—yang merupakan prediktor utama stunting—dibandingkan ibu yang mengonsumsinya.
Formulasi sirup emulsi dipilih agar zat gizi makro dan mikro di dalamnya tidak rusak. Selama ini, pemanfaatan sawit merah pada produk makanan seperti margarin atau mayones kerap mengalami penurunan kadar beta-karoten akibat proses pemanasan yang tinggi.
Dengan formula sirup ini, konsumsi cukup 1 hingga 2 sendok obat per hari sudah mampu memenuhi tambahan kebutuhan vitamin A bagi ibu hamil sebesar 300–350 mikrogram dari total kebutuhan 850 mikrogram per hari.
Intervensi pangan lokal berbasis sawit ini terbukti secara klinis memiliki efektivitas yang setara dengan intervensi medis komersial.
Riset yang kini telah berproses di Jurnal Internasional Scopus Q2 tersebut diharapkan dapat segera menjadi fondasi bukti klinis (evidence-based) bagi perumusan kebijakan nasional.
Integrasi inovasi sawit merah ini, baik untuk ibu hamil maupun sebagai komplementer penguat gizi dalam program MBG, dinilainya sangat cocok dengan implementasi Asta Cita kelima, yaitu menuju kemandirian ekonomi dan kedaulatan pangan nasional tanpa ketergantungan pada bahan baku suplemen impor.