Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.091,386
LQ45 606,516
Srikehati 297,102
JII 361,308
USD/IDR 18.082

126.000 Orang Kena PHK Massal, Pemerintah Diminta Tangani Serius

M Nurhadi

Kamis, 30 Juli 2026 | 12:02 WIB
126.000 Orang Kena PHK Massal, Pemerintah Diminta Tangani Serius
ARSIP (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/hp.
baca 10 detik
  • Apindo mencatat sebanyak 126.000 tenaga kerja mengalami pemutusan hubungan kerja di Indonesia sepanjang periode Januari hingga Mei 2026.
  • Data resmi Kementerian Ketenagakerjaan melaporkan angka korban pemutusan hubungan kerja yang jauh lebih rendah yaitu hanya mencapai 23.470 orang.
  • Konflik geopolitik global dan lonjakan ongkos produksi memaksa dunia usaha melakukan efisiensi yang memicu gelombang pemutusan hubungan kerja massal.

Suara.com - Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia kembali menunjukkan tren yang mengkhawatirkan pada paruh pertama tahun 2026.

Laporan dari kalangan pengusaha dan serikat pekerja menunjukkan angka yang jauh melebihi catatan resmi pemerintah, mengindikasikan adanya tekanan berat pada struktur industri nasional.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan bahwa sebanyak 126.000 tenaga kerja telah kehilangan pekerjaan selama periode Januari hingga Mei 2026. Angka ini merujuk pada data kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan yang berstatus nonaktif akibat PHK.

Sejalan dengan itu, klaim pencairan Jaminan Hari Tua (JHT) yang disebabkan oleh PHK telah menyentuh angka 50.000 klaim pada rentang waktu yang sama.

Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani, menegaskan bahwa fenomena ini adalah buntut dari himpitan beban yang ditanggung dunia usaha, mulai dari meroketnya ongkos produksi hingga lesunya serapan pasar.

"Kami selalu sampaikan PHK itu masalah di hilirnya. Yang kita harus lihat adalah apa penyebab PHK dan masalah di hulunya itu apa," ungkap Shinta.

Ia menyoroti pentingnya langkah pemerintah untuk mengendalikan hambatan investasi (debottlenecking) agar guncangan global tidak terus memakan korban tenaga kerja.

Kesenjangan Data dengan Pemerintah

Menariknya, realita yang dicatat pengusaha berbanding terbalik dengan publikasi resmi Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker). Kemnaker melaporkan jumlah pekerja yang ter-PHK pada Januari-Mei 2026 hanya sebanyak 23.470 orang. Angka dari Kemnaker ini tercatat lima kali lebih rendah dibandingkan temuan Apindo.

baca juga

Berdasarkan publikasi kementerian tersebut, sebaran wilayah dengan kasus PHK tertinggi bertumpu di Pulau Jawa dan sebagian Kalimantan serta Sumatera. Berikut adalah rincian data versi pemerintah:

Jawa Barat mencatatkan kasus tertinggi dengan 6.727 orang.

Banten menyusul dengan 3.782 pekerja yang terdampak.

Jawa Timur melaporkan sebanyak 2.851 kasus.

DKI Jakarta mencatat angka PHK sebesar 2.436 orang.

Kalimantan Selatan memiliki 2.314 pekerja yang dirumahkan.

Jawa Tengah melaporkan hilangnya pekerjaan bagi 2.205 orang.

Kalimantan Timur mencatatkan 2.204 kasus PHK.

Sumatera Utara mengonfirmasi 1.651 tenaga kerja terdampak.

Sulawesi Selatan mencatat angka sebesar 1.387 orang.

Sumatera Selatan melaporkan 1.172 kasus pekerja ter-PHK.

Terkait disparitas ini, Presiden Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI), Saeful Tavip, memandang bahwa data Apindo cenderung lebih merepresentasikan kondisi riil.

Ia beralasan asosiasi pengusaha memiliki kedekatan akses dengan perusahaan, sementara banyak entitas bisnis yang tidak melaporkan pemangkasan karyawannya kepada dinas ketenagakerjaan setempat.

Sebagai catatan, tren PHK di Indonesia terus merangkak naik setiap tahunnya. Pada tahun 2022, angka PHK berada di 25.114 orang, lalu melonjak ke 64.855 orang pada 2023.

Tren ini terus memburuk pada 2024 (77.965 orang), 2025 (88.519 orang), dan kini telah meledak hingga 126.000 kasus hanya dalam lima bulan pertama 2026.

Lonjakan drastis tahun ini dinilai memiliki benang merah dengan dinamika ekonomi dan keamanan global. Menurut Saeful Tavip, konflik geopolitik di Timur Tengah—khususnya ketegangan AS-Israel dengan Iran—telah memicu lonjakan biaya logistik. Hal ini memaksa korporasi untuk melakukan penyesuaian biaya secara agresif.

Bentuk efisiensi tersebut kerap berujung pada eksodus pabrik. Banyak industri memindahkan operasinya ke negara pesaing seperti Vietnam yang menawarkan ekosistem perizinan dan regulasi upah yang lebih ramah bagi investor. Sebagian lainnya memilih relokasi ke daerah dengan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) yang lebih murah di dalam negeri.

Selain itu, modernisasi sektor manufaktur turut menekan penyerapan tenaga kerja manusia. Di industri otomotif, transisi dari kendaraan berbasis BBM menuju kendaraan listrik (EV) serta masifnya penggunaan robotika mulai menyingkirkan peran pekerja manual.

Kondisi ini dibenarkan oleh Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, yang menyebut sektor padat karya sebagai korban terbesar. Sektor yang menyerap mayoritas tenaga kerja berpendidikan menengah ke bawah ini dinilai terus kehilangan daya saing kompetitifnya sejak pengesahan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003.

Sebagai langkah mitigasi menatap paruh kedua 2026, kalangan serikat pekerja mendesak pemerintah untuk proaktif mengawasi kesehatan finansial perusahaan. OPSI juga menuntut adanya pelonggaran regulasi investasi, penurunan harga gas industri, serta optimalisasi subsidi energi untuk meredam tekanan biaya produksi yang bermuara pada PHK massal

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Maraknya PHK di Emiten, Perusahaan Wajib Transparan ke Investor

Maraknya PHK di Emiten, Perusahaan Wajib Transparan ke Investor

Bisnis | Kamis, 30 Juli 2026 | 07:42 WIB

Premi Asuransi Kesehatan Terancam Naik? Ini Penjelasan Resmi OJK

Premi Asuransi Kesehatan Terancam Naik? Ini Penjelasan Resmi OJK

Bisnis | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:11 WIB

Efek Domino Penutupan PT Samwon: Runtuhnya Rantai Ekonomi dan Harapan Warga Jepara

Efek Domino Penutupan PT Samwon: Runtuhnya Rantai Ekonomi dan Harapan Warga Jepara

Your Say | Minggu, 26 Juli 2026 | 11:05 WIB

Margin Keuntungan Anjlok Parah Porsche Siapkan Gelombang PHK Massal Ribuan Pekerja

Margin Keuntungan Anjlok Parah Porsche Siapkan Gelombang PHK Massal Ribuan Pekerja

Otomotif | Jum'at, 24 Juli 2026 | 19:10 WIB

Buruh Tembakau Ancam Demo di Kemenkes Buntut Aturan Rokok Baru

Buruh Tembakau Ancam Demo di Kemenkes Buntut Aturan Rokok Baru

Bisnis | Kamis, 23 Juli 2026 | 15:45 WIB

Pengusaha Tembakau Tolak Aturan Turunan PP 28/2024, Dinilai Ancam Industri dan Penerimaan Negara

Pengusaha Tembakau Tolak Aturan Turunan PP 28/2024, Dinilai Ancam Industri dan Penerimaan Negara

Bisnis | Kamis, 23 Juli 2026 | 14:35 WIB

Terkini

Berbeda dengan Persib, Nasib Persija di Piala Presiden 2026 di Ujung Tanduk

Berbeda dengan Persib, Nasib Persija di Piala Presiden 2026 di Ujung Tanduk

Bola | Kamis, 30 Juli 2026 | 12:07 WIB

Miro Baldo Bento Striker Ganas Timnas Indoensia Kelahiran Timor Leste, Apa Kabarnya Sekarang?

Miro Baldo Bento Striker Ganas Timnas Indoensia Kelahiran Timor Leste, Apa Kabarnya Sekarang?

Bola | Kamis, 30 Juli 2026 | 12:07 WIB

Abdul Wahid Divonis Dua Tahun Penjara, Bayar Uang Pengganti Rp1,45 Miliar

Abdul Wahid Divonis Dua Tahun Penjara, Bayar Uang Pengganti Rp1,45 Miliar

Riau | Kamis, 30 Juli 2026 | 12:06 WIB

Kenapa Sunscreen Anessa Mahal? Ini 5 Alasan dan Produknya yang Paling Laris

Kenapa Sunscreen Anessa Mahal? Ini 5 Alasan dan Produknya yang Paling Laris

Lifestyle | Kamis, 30 Juli 2026 | 12:04 WIB

126.000 Orang Kena PHK Massal, Pemerintah Diminta Tangani Serius

126.000 Orang Kena PHK Massal, Pemerintah Diminta Tangani Serius

Bisnis | Kamis, 30 Juli 2026 | 12:02 WIB

Terlibat Adu Banteng di Simpang Baleharjo, Prajurit TNI AD Alami Patah Tulang

Terlibat Adu Banteng di Simpang Baleharjo, Prajurit TNI AD Alami Patah Tulang

Jatim | Kamis, 30 Juli 2026 | 12:02 WIB

4 Tablet SIM Card Murah untuk Kerja dan Hiburan, Internetan Lancar Tanpa Bergantung Wi-Fi

4 Tablet SIM Card Murah untuk Kerja dan Hiburan, Internetan Lancar Tanpa Bergantung Wi-Fi

Tekno | Kamis, 30 Juli 2026 | 12:01 WIB

KPK Tetapkan 4 Tersangka OTT Pemalang, Ada Bupati dan Oknum Internal KPK

KPK Tetapkan 4 Tersangka OTT Pemalang, Ada Bupati dan Oknum Internal KPK

News | Kamis, 30 Juli 2026 | 12:00 WIB

500 Tukik Penyu Kembali ke Laut, Wisata Konservasi Bali Makin Diminati

500 Tukik Penyu Kembali ke Laut, Wisata Konservasi Bali Makin Diminati

Foto | Kamis, 30 Juli 2026 | 12:00 WIB

Meningkatnya Halal Lifestyle dan Kesadaran Bebas Riba di Kalangan Gen Z

Meningkatnya Halal Lifestyle dan Kesadaran Bebas Riba di Kalangan Gen Z

Your Say | Kamis, 30 Juli 2026 | 12:00 WIB

×