Bukan Buang Uang, Bea Cukai Ungkap Alasan Pabrik Sawit Dapat Fasilitas Khusus Kawasan Berikat

Dicky Prastya

Kamis, 30 Juli 2026 | 20:55 WIB
Bukan Buang Uang, Bea Cukai Ungkap Alasan Pabrik Sawit Dapat Fasilitas Khusus Kawasan Berikat
Ilustrasi sawit. [Suara.com/Dicky Prastya]
baca 10 detik
  • Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan membantah tudingan pemborosan insentif Kawasan Berikat bagi industri minyak kelapa sawit.
  • Kebijakan hilirisasi sawit yang diterapkan sejak 2001 di Kalimantan Tengah tersebut mencatat rasio manfaat ekonomi sebesar 1,47.
  • Insentif fiskal senilai Rp60,32 triliun menghasilkan total manfaat bagi negara sebesar Rp88,95 triliun serta efisiensi logistik.

Suara.com - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) membantah tudingan bahwa pemberian fasilitas Kawasan Berikat bagi industri minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil atau CPO) merupakan bentuk pemborosan insentif negara.

Bea Cukai mengungkapkan fasilitas khusus tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat daya saing dan menggenjot nilai tambah industri hilir sawit di pasar global.

Kepala Subdirektorat Tempat Penimbunan Berikat DJBC Kemenkeu, Yetty Yulianty menegaskan bahwa kebijakan ini bukan tanpa perhitungan matang. Langkah tersebut diambil sekaligus merespons suara kritis publik yang mempertanyakan urgensi pemberian insentif perpajakan dan kepabeanan untuk CPO, di mana mengandalkan bahan baku lokal.

"Pemberian insentif fasilitas Kawasan Berikat untuk pabrik CPO itu masih sangat relevan. Tujuannya jelas, kita ingin mendorong hilirisasi, bukan memberikan fasilitas ke pabrik hulu," ucap Yetty dalam media briefing Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang digelar di Hotel Mercure Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dikutip Kamis (30/7/2026).

Bea Cukai membeberkan kalkulasi cost-benefit ratio (rasio manfaat terhadap biaya) dari insentif yang dilepas negara. Hasil kajian menunjukkan angka 1,47, yang mengindikasikan bahwa setiap Rp1 biaya fiskal yang dialokasikan Pemerintah mampu menghasilkan Rp1,47 manfaat fiskal bagi perekonomian nasional.

Secara akumulatif, total nilai insentif fiskal yang diberikan—meliputi penangguhan bea masuk, pembebasan PPN, hingga Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI)—mencapai Rp60,32 triliun.

Kepala Subdirektorat Tempat Penimbunan Berikat DJBC Kemenkeu, Yetty Yulianty. [Dok. Kemenkeu]
Kepala Subdirektorat Tempat Penimbunan Berikat DJBC Kemenkeu, Yetty Yulianty. [Dok. Kemenkeu]

Angka tersebut terbayar tuntas oleh total manfaat fiskal yang kembali ke negara sebesar Rp88,95 triliun. Manfaat ini bersumber dari penambahan investasi baru, lonjakan penerimaan pajak pusat, bea keluar, pemanfaatan dana sawit, hingga penyerapan upah ribuan tenaga kerja di sektor pengolahan.

Yetty menambahkan, pemberian kemudahan ini bukan instrumen baru yang mendadak muncul, melainkan strategi yang sudah teruji selama seperempat abad.

"Sejak tahun 2001, kita sudah memberikan fasilitas Kawasan Berikat ini kepada 6 perusahaan CPO. Sekarang jumlahnya sudah berkembang menjadi 77 perusahaan," ungkapnya.

baca juga

Selain insentif fiskal, perusahaan penerima fasilitas juga menikmati efisiensi non-fiskal yang signifikan. Salah satunya adalah pemangkasan rantai logistik melalui pemeriksaan pabean yang dilakukan langsung di pabrik, sehingga barang tidak perlu mengendap lama di pelabuhan.

Dengan porsi ekspor CPO Indonesia yang menguasai 59,36 persen pasar dunia, Yetty menilai skema insentif terukur ini menjadi kunci agar produk turunan sawit Indonesia tidak kalah saing dari negara kompetitor seperti Malaysia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

BPDP Kucurkan Rp 1,3 T untuk Beasiswa, Tanggung Full Kuliah hingga Biaya Hidup Anak Petani Sawit

BPDP Kucurkan Rp 1,3 T untuk Beasiswa, Tanggung Full Kuliah hingga Biaya Hidup Anak Petani Sawit

Bisnis | Kamis, 30 Juli 2026 | 20:30 WIB

Tak Perlu Tunggu 2028, Pemerintah Didesak Segera Keluarkan MBG dari Anggaran Pendidikan

Tak Perlu Tunggu 2028, Pemerintah Didesak Segera Keluarkan MBG dari Anggaran Pendidikan

News | Kamis, 30 Juli 2026 | 20:15 WIB

Modus Terbongkar! Bea Cukai Gagalkan Ekspor 3,4 Ton Merkuri Disamarkan Keramik Senilai Rp17,5 Miliar

Modus Terbongkar! Bea Cukai Gagalkan Ekspor 3,4 Ton Merkuri Disamarkan Keramik Senilai Rp17,5 Miliar

News | Kamis, 30 Juli 2026 | 18:57 WIB

Istana Respons Putusan MK Soal Larangan MBG Pakai 20 Persen Anggaran Pendidikan

Istana Respons Putusan MK Soal Larangan MBG Pakai 20 Persen Anggaran Pendidikan

News | Kamis, 30 Juli 2026 | 18:45 WIB

Putusan MK soal Anggaran MBG Dinilai Masih Sisakan Celah hingga 2027

Putusan MK soal Anggaran MBG Dinilai Masih Sisakan Celah hingga 2027

News | Kamis, 30 Juli 2026 | 18:33 WIB

MK Putuskan Anggaran MBG Harus Dipisah dari Dana Pendidikan, Berlaku Paling Lambat APBN 2028

MK Putuskan Anggaran MBG Harus Dipisah dari Dana Pendidikan, Berlaku Paling Lambat APBN 2028

News | Kamis, 30 Juli 2026 | 17:37 WIB

Terkini

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:04 WIB

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:25 WIB

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:59 WIB

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:35 WIB

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:30 WIB

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:47 WIB

×