- Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta, Yazid Kanca Surya, menyatakan Indonesia perlu memperkuat mekanisme pembentukan harga domestik di Jakarta pada Rabu, 5 Agustus 2026.
- Penguatan mekanisme tersebut bertujuan menciptakan harga referensi komoditas yang kredibel bagi produsen minyak sawit terbesar di dunia guna menggantikan acuan harga internasional.
- Volume transaksi olein di PT Bursa Berjangka Jakarta mencapai 67.564 lot dengan nilai transaksi sekitar Rp6,85 triliun selama periode 28 Juni hingga 25 Juli 2026.
Suara.com - PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) menilai, Indonesia perlu memperkuat mekanisme pembentukan harga (price discovery) di pasar domestik untuk menciptakan harga referensi komoditas yang semakin kredibel dan mencerminkan kondisi pasar nasional.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia yang memiliki posisi strategis dalam perdagangan komoditas global.
Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX), Yazid Kanca Surya, mengatakan harga referensi yang kuat tidak dapat dibentuk melalui penetapan sepihak, melainkan harus lahir dari aktivitas perdagangan yang transparan, likuid, dan berlangsung secara berkesinambungan.
"Harga referensi dibangun melalui proses price discovery. Ketika transaksi berlangsung secara terbuka, melibatkan banyak pelaku pasar, dan dilakukan secara berkesinambungan, harga yang terbentuk akan semakin mencerminkan kondisi pasar yang sesungguhnya. Dari proses inilah lahir harga referensi yang kredibel," ujar Yazid di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Menurut Yazid, penguatan mekanisme price discovery menjadi semakin relevan karena selama ini pelaku usaha masih banyak menggunakan acuan harga internasional sebagai benchmark dalam transaksi komoditas, termasuk minyak sawit.
Padahal, sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun harga referensi domestik yang lebih kuat dan mampu merepresentasikan karakteristik pasar nasional.
Ia menjelaskan, pembentukan harga yang kredibel tidak dapat dipisahkan dari tingginya aktivitas perdagangan di bursa.
Semakin besar volume transaksi yang dilakukan melalui kontrak terstandarisasi dan tercatat secara transparan, semakin representatif pula harga yang terbentuk sebagai cerminan kondisi pasar.
Sebagai ilustrasi, perdagangan minyak sawit menunjukkan dinamika yang positif dalam beberapa pekan terakhir.
Pada pekan terakhir Juli 2026, harga acuan global olein yang mengacu pada FPOL Bursa Malaysia Derivatives (BMD) naik sebesar 3,52 persen, dari 1.135 dolar Amerika Serikat (AS) per ton menjadi 1.175 dolar AS per ton dibandingkan pekan sebelumnya.
Kenaikan tersebut didorong oleh penguatan harga minyak mentah Brent sebesar 4,23 persen, meningkatnya permintaan dari China, serta ekspektasi pasokan minyak sawit Indonesia yang lebih ketat.
Di tengah dinamika pasar tersebut, aktivitas perdagangan olein di JFX tetap menunjukkan likuiditas yang terjaga.
Sepanjang periode 28 Juni hingga 25 Juli 2026, volume transaksi olein mencapai 67.564 lot dengan nilai transaksi sekitar Rp6,85 triliun.
"Semakin aktif transaksi berlangsung, semakin banyak informasi pasar yang tercermin dalam harga. Bagi pelaku usaha, harga yang terbentuk melalui proses tersebut tidak hanya menjadi acuan dalam melakukan transaksi, tetapi juga menjadi dasar dalam mengelola risiko ketika pasar bergerak sangat dinamis," jelas Yazid.
Yazid menambahkan, tingginya volatilitas harga komoditas global membuat pelaku usaha menghadapi ketidakpastian yang semakin besar.
Pergerakan harga saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi pasokan, permintaan global, harga energi, hingga kebijakan perdagangan di berbagai negara.
![Jakarta Future Exchange. [jfx.co.id]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2016/06/30/o_1amg7lt25fn1fkb1hjlim4mo2a.jpg)
"Dalam situasi seperti ini, pelaku usaha membutuhkan referensi harga yang dapat dipercaya. Harga tersebut menjadi dasar dalam menyusun strategi penjualan, menjaga margin usaha, hingga melakukan lindung nilai terhadap fluktuasi harga. Semakin baik proses price discovery, semakin kuat pula dasar pengambilan keputusan bagi dunia usaha," ungkapnya.
Selain itu, aktivitas perdagangan komoditas lain di JFX juga mencatatkan kinerja positif. Sepanjang Juli 2026, transaksi timah ekspor mencapai 2.855 lot dengan nilai transaksi sekitar Rp2,66 triliun, meskipun harga acuan timah di London Metal Exchange (LME) hanya mengalami koreksi tipis sebesar 0,19 persen pada periode 19–25 Juli 2026.
Sementara itu, aktivitas Perdagangan Akses Luar Negeri (PALN) membukukan nilai transaksi sekitar Rp54,45 triliundengan volume lebih dari 3,92 juta lot pada periode yang sama.
Secara keseluruhan, nilai transaksi perdagangan di JFX sepanjang Juli 2026 mencapai sekitar Rp3.268 triliun, yang berasal dari transaksi multilateral, bilateral, dan PALN.
Yazid menilai, meningkatnya aktivitas perdagangan tersebut menunjukkan mekanisme bursa semakin dimanfaatkan tidak hanya sebagai sarana transaksi, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan harga yang transparan dan dapat dipercaya oleh pelaku pasar.
"Tujuan akhirnya bukan sekadar memiliki harga referensi domestik. Yang lebih penting adalah membangun proses pembentukan harga yang dipercaya oleh pelaku pasar karena lahir dari transaksi yang nyata dan transparan. Ketika proses tersebut semakin kuat, manfaatnya tidak hanya dirasakan pelaku usaha melalui pengelolaan risiko yang lebih baik, tetapi juga mendukung transparansi perdagangan komoditas nasional secara keseluruhan," beber Yazid.