- Ahli ITB Ali Ashat menyatakan eksplorasi PLTP Gunung Ungaran berpotensi 55 MW layak dilanjutkan di Jakarta pada Senin (7/9/2026).
- Proyek energi domestik tersebut dinilai mampu memperkuat ketahanan energi serta memasok listrik secara stabil tanpa bahan bakar impor.
- Pemerintah dan pengembang wajib menjawab kekhawatiran masyarakat melalui mitigasi lingkungan, perlindungan cagar budaya, serta transparansi data yang akurat.
Suara.com - Potensi pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Gunung Ungaran sebesar 55 megawatt (MW) masih perlu dibuktikan melalui pengeboran eksplorasi. Meski demikian, ahli panas bumi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ali Ashat menilai eksplorasi proyek tersebut layak dilanjutkan.
Ali mengatakan PLTP Gunung Ungaran memiliki sejumlah manfaat strategis, terutama untuk memperkuat ketahanan energi dan keandalan pasokan listrik.
"Menurut saya, PLTP Gunung Ungaran memiliki sejumlah manfaat strategis sehingga layak untuk dieksplorasi dan dikaji lebih lanjut," ujar Ali di Jakarta, Senin (7/9/2026).
Potensi sekitar 55 MW tersebut tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Namun, angka tersebut belum dapat langsung dianggap sebagai kapasitas pembangkit yang bisa direalisasikan.

Menurut Ali, potensi panas bumi perlu dibuktikan terlebih dahulu melalui pengeboran eksplorasi. Hasil pengeboran nantinya akan menjadi dasar untuk mengetahui besaran sumber daya panas bumi yang benar-benar dapat dikembangkan.
Jika potensi 55 MW tersebut terbukti, PLTP Gunung Ungaran dinilai dapat ikut memperkuat keandalan pasokan listrik, khususnya di Jawa Tengah.
Ali menjelaskan panas bumi memiliki karakteristik berbeda dibandingkan sejumlah sumber energi terbarukan lainnya. Pembangkit panas bumi dapat menghasilkan listrik secara stabil selama 24 jam dan tidak bergantung pada kondisi cuaca.
"Karakteristik tersebut membuat panas bumi dapat menjadi pemasok beban dasar sekaligus melengkapi energi terbarukan seperti surya dan angin yang bersifat fluktuatif," katanya.
Karakteristik tersebut membuat pengembangan panas bumi memiliki nilai strategis dalam sistem kelistrikan. PLTP dapat berfungsi sebagai pemasok beban dasar (base load), sementara pembangkit surya dan angin dapat melengkapi kebutuhan listrik ketika kondisi sumber energinya tersedia.
Selain itu, panas bumi merupakan sumber energi domestik yang tidak membutuhkan bahan bakar impor. Pengembangannya dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.
Hal ini menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian geopolitik dan rantai pasok energi global.
Meski memiliki potensi energi, pengembangan PLTP Gunung Ungaran tidak terlepas dari tantangan lingkungan dan sosial.
Kawasan Gunung Ungaran juga memiliki aktivitas wisata dan pertanian, termasuk keberadaan Candi Gedong Songo. Ali menilai kondisi tersebut tidak serta-merta membuat pengembangan panas bumi harus berhadapan dengan kepentingan pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Dengan perencanaan ruang serta perlindungan yang baik, pengembangan energi dan aktivitas ekonomi maupun wisata dinilai tetap dapat berjalan berdampingan.
Dari sisi lingkungan, emisi gas rumah kaca pembangkit panas bumi pada umumnya lebih rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil. Namun, Ali mengingatkan bahwa pengembangan panas bumi tetap memiliki dampak lingkungan yang harus dikelola.