- Mayoritas pencari rumah usia produktif di Indonesia mengincar hunian suburban penyangga Jakarta pada paruh pertama 2026.
- Pemerintah New South Wales menerapkan tata kota terbaru yang membatasi ekspansi geografis dan memicu pengembangan wilayah pinggiran Sydney.
- Keterbatasan lahan dan regulasi ketat membatasi pilihan pembeli asing terhadap proyek properti baru di wilayah suburban Sydney.
Suara.com - Di Indonesia, tren pergeseran preferensi hunian ke kawasan pinggiran kota (suburban) terus menunjukkan grafik yang meningkat.
Berdasarkan data tren pencarian platform properti nasional pada paruh pertama tahun 2026, lebih dari 60 persen pencari rumah dari kalangan usia produktif memusatkan perburuannya pada rumah tapak (landed house) di wilayah penyangga ibu kota seperti Tangerang, Bogor, Bekasi, dan Depok.
Keterbatasan ketersediaan lahan kosong serta melambungnya harga properti di pusat kota Jakarta memaksa masyarakat urban untuk melirik kawasan pinggiran yang mulai ditopang oleh fasilitas transportasi massal terintegrasi.
Fenomena pergeseran orientasi pembangunan akibat keterbatasan lahan di pusat kota ini rupanya tidak hanya menjadi tantangan di dalam negeri, tetapi juga dialami oleh kota-kota besar global, salah satunya Sydney, Australia.
Dinamika pasar properti di Sydney mengalami perubahan arah pengembangan seiring dengan diterapkannya cetak biru tata kota terbaru (The Sydney Plan) oleh Pemerintah New South Wales (NSW).
Kebijakan tersebut memfokuskan pembangunan hunian vertikal seperti apartemen dan kondominium di wilayah timur serta pusat kota.
Sementara itu, kawasan suburban di koridor barat, barat daya, dan selatan kini dialokasikan sebagai pusat kerja baru dan area pengembangan rumah tapak serta townhouse.
Pergeseran ini terjadi di tengah keterbatasan lahan yang makin ketat di wilayah metropolitan Sydney. Kondisi geografis menjadi faktor utama yang membatasi ekspansi fisik kota.
Wilayah timur berbatasan langsung dengan Samudra Pasifik, sisi utara dibatasi oleh Ku-ring-gai Chase National Park dan Sungai Hawkesbury, sisi selatan terhalang oleh Royal National Park serta area lindung Woronora, sedangkan batas di sisi barat dikelilingi oleh pegunungan Blue Mountains National Park.
Keterbatasan bentang alam tersebut menyebabkan ketersediaan lahan kosong berskala besar dalam radius 30 menit dari Sydney Harbour makin sulit ditemukan. Situasi ini memicu penerapan infill development, urban renewal, dan densifikasi vertikal di sejumlah kawasan strategis seperti Parramatta, Macquarie Park, serta sepanjang koridor transportasi metro.
Di sisi lain, ekspansi hunian ke wilayah yang lebih jauh seperti Penrith, Wilton, dan Marsden Park yang berjarak 50 hingga 70 kilometer dari pusat bisnis (Central Business District/CBD) membawa konsekuensi berupa peningkatan waktu tempuh harian dan tingginya kebutuhan investasi infrastruktur pendukung.
Kondisi pasokan tanah yang terbatas menciptakan tantangan tersendiri bagi pembeli internasional, termasuk dari Indonesia. Regulasi pasar properti Australia memberlakukan batasan bagi foreign buyers, di mana mereka hanya diizinkan mengakses properti bangunan baru dan proyek off-the-plan.
Ketentuan ini menutup akses pembeli asing terhadap pasar hunian sekunder (existing property), sehingga ruang pilihan transaksi bagi investor luar negeri menjadi makin terbatas di tengah kelangkaan proyek baru di wilayah suburban yang sudah matang.
“Kelangkaan properti Sydney bukan hanya persoalan tingginya permintaan, tetapi juga keterbatasan geografis yang membuat kota ini sulit terus berkembang ke luar,” ungkap Chandra Leonardi, Director & CEO Capital Value International Group (CVIG).
Chandra menambahkan bahwa indikator utama dalam membaca prospek properti di wilayah tersebut berkaitan erat dengan daya tampung lahan yang tersisa.