- Investor global mulai mengalirkan kembali modalnya ke pasar keuangan Indonesia setelah sempat hengkang akibat gejolak awal tahun 2026.
- Indikator pemulihan terlihat dari pasar obligasi, penguatan nilai tukar rupiah, serta kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan pada Agustus 2026.
- Pemerintah dan regulator melakukan intervensi kebijakan, namun investor asing masih menantikan konsistensi eksekusi serta peninjauan ulang MSCI pada November mendatang.
"Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir kita sering melihat kebijakan yang maju-mundur," kata Natalia Gurushina, Chief Economist Emerging Markets di Van Eck Associates, New York.
Risiko memang nyata. Apa lagi tantangan eksternal dari perang di Timur Tengah yang memicu naiknya harga minyak tak bisa diabaikan. Belum lagi menguatnya spekulasi kenaikan suku bunga oleh The Fed.
"Kami perlu melihat konsistensi eksekusi kebijakan serta lingkungan eksternal yang lebih mendukung sebelum kembali membangun posisi investasi yang signifikan," ujar Yiping Liao, Fund Manager Templeton Global di Singapura.
"Saya masih cukup berhati-hati. Kuncinya ada pada eksekusi," imbuh dia.
Trauma dari aksi jual masif di awal tahun belum pulih. IHSG telah melesat 25 persen dari level terendah Juni lalu—memenuhi kriteria teknis bull market—secara year-to-date indeks acuan ini masih terkoreksi hampir 23 persen.
Angka tersebut mencatatkan penurunan tertajam di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau Bloomberg.
Arus modal masuk asing di pasar saham yang mencapai 296 juta dolar AS sepanjang kuartal ini pun baru mengikis sebagian kecil dari total modal keluar (outflow) yang mendekati angka 4 miliar dolar AS sejak awal tahun.
William Yuen, Investment Director Invesco di Hong Kong, menyebut pihaknya hanya memangkas posisi underweight secara tipis seiring membaiknya profil risk-reward.
"Kami terus memantau perkembangan isu-isu kunci sebelum mengambil penyesuaian lanjutan," tegasnya.