- Fitch pertahankan rating INA di BBB dengan outlook negatif.
- Fitch nilai dukungan pemerintah ke INA nyaris pasti.
- Pendapatan INA 2025 naik jadi Rp8,5 triliun.
Suara.com - Fitch Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia Investment Authority (INA) pada level BBB dengan outlook negatif. Peringkat tersebut berlaku untuk Long-Term Issuer Default Ratings (IDR) dalam mata uang asing dan lokal.
Fitch juga mempertahankan Short-Term Foreign-Currency IDR INA pada level F2.
Sementara itu, Fitch Ratings Indonesia mempertahankan peringkat nasional jangka panjang INA di level AAA(idn) dengan outlook stabil. Peringkat nasional jangka pendek juga dipertahankan di level F1+(idn).
Fitch menyebut keputusan tersebut mencerminkan penilaian bahwa kemungkinan dukungan luar biasa dari pemerintah Indonesia kepada INA dalam kondisi membutuhkan bantuan masih "virtually certain" atau nyaris pasti.
Dengan penilaian tersebut, peringkat internasional INA disetarakan dengan peringkat pemerintah Indonesia yang saat ini berada di level BBB dengan outlook negatif. Outlook negatif INA juga mengikuti outlook sovereign Indonesia.
"Fitch tidak memberikan Standalone Credit Profile kepada INA karena entitas tersebut tidak dapat dipisahkan secara efektif dari pemerintah," tulis Fitch dalam laporan pemeringkatannya.
Menurut Fitch, INA terutama menjalankan mandat berbasis kebijakan pemerintah dengan keterkaitan operasional dan keuangan yang erat dengan negara.
Penilaian dukungan pemerintah terhadap INA memperoleh skor 45 dari maksimal 60 berdasarkan kriteria Government-Related Entities (GRE) Fitch.
Salah satu faktor yang mendukung penilaian tersebut adalah kuatnya pengawasan pemerintah. INA bertanggung jawab langsung kepada Presiden, sementara Dewan Pengawasnya mencakup Menteri Keuangan dan Kepala Badan Pengaturan BUMN.
Dewan Pengawas juga berwenang mengangkat direksi, menyetujui rencana bisnis dan indikator kinerja utama, serta menerima laporan operasional dan keuangan secara berkala.
Dukungan pemerintah juga dinilai terlihat sejak INA berdiri. Pemerintah memberikan suntikan kas awal sebesar Rp30 triliun, ditambah kontribusi ekuitas senilai Rp45 triliun melalui kepemilikan saham di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Kepemilikan saham tersebut menjadi salah satu sumber pendapatan berulang INA. Dividen dari kedua bank tersebut mencapai Rp4,6 triliun pada 2025, atau sekitar 55% dari total pendapatan INA.
Di sisi lain, Fitch menilai posisi INA sangat berkaitan dengan peran kebijakan pemerintah. INA bersama mitra investornya menanamkan sekitar Rp15,7 triliun pada sektor strategis sepanjang 2025.
Investasi tersebut mencakup sektor yang menjadi prioritas pemerintah, antara lain infrastruktur, energi, transformasi digital, kesehatan, serta material dan industri maju.
Dari sisi keuangan, kinerja INA juga menguat sepanjang 2025. Pendapatan meningkat menjadi Rp8,5 triliun dari Rp5,9 triliun pada 2024. Laba bersih naik menjadi Rp7,4 triliun dari Rp5,4 triliun.
Pendapatan investasi INA meningkat menjadi Rp866,3 miliar dari Rp504,4 miliar pada 2024. Kenaikan tersebut turut didukung peningkatan pendapatan dividen dari saham yang diberikan pemerintah sebagai setoran modal nonkas.
Meski mempercepat investasi ke sejumlah sektor prioritas, Fitch menilai leverage INA masih rendah. Pertumbuhan portofolio terutama dibiayai melalui ekuitas, sumber daya internal, dan dana investor, bukan utang.
Likuiditas INA juga dinilai memadai. Namun, saldo kas dan setara kas turun menjadi Rp9,8 triliun pada 2025 dari Rp12,8 triliun pada tahun sebelumnya seiring peningkatan penempatan dana untuk investasi.
Fitch menilai potensi kegagalan INA dapat berdampak terhadap ketersediaan dan biaya pendanaan pemerintah pusat serta entitas terkait pemerintah lainnya. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi kepercayaan investor terhadap iklim investasi Indonesia.
Meski demikian, risiko tersebut dibatasi oleh rendahnya utang INA dan posisi entitas tersebut yang belum menjadi penerbit acuan bagi pemerintah di pasar surat utang.
Untuk peringkat nasional, AAA(idn) merupakan level tertinggi dalam skala nasional Fitch di Indonesia. Peringkat tersebut menunjukkan ekspektasi risiko gagal bayar paling rendah dibandingkan penerbit atau kewajiban lain dalam negara yang sama.
Fitch menegaskan penurunan peringkat sovereign Indonesia akan berpotensi diikuti langkah serupa terhadap peringkat internasional INA.
Sebaliknya, outlook INA dapat berubah menjadi stabil apabila outlook sovereign Indonesia berubah menjadi stabil, dengan catatan tidak terdapat perubahan signifikan pada faktor pemeringkatan lainnya.