- Dean James tampil impresif saat Go Ahead Eagles mengalahkan Aston Villa
- Perjalanan karier Dean James penuh lika-liku, mulai dari masa mudanya di akademi Ajax hingga akhirnya menemukan kembali kepercayaan diri
- Kisah hidup Dean James mencerminkan ketekunan dan semangat pantang menyerah
Suara.com - Full back Timnas Indonesia, Dean James bermain impresif saat mengantarkan Go Ahead Eagles meraih kemenangan 2-1 atas Aston Villa, Jumat (24/10) dinihari WIB.
Meski sempat dituding melakukan blunder di gol pertama Aston Villa, Dean James bermain full 90 menit.
Dilansir dari data Fotmob, pemain Timnas Indonesia ini mendapatkan nilai 6,5
Dean James melepaskan 94 persen umpan akrut, 15 kali suskes dari 16 percobaan.
Umpan crossing Dean James juga mencapai 67 persen serta 100 persen untuk umpan bola panjang.
Mundur beberapa tahun ke belakang sebelum ia menjadi WNI dan jadi bagian dari Timnas Indonesia, perjalanan karier Dean James ternyata penuh lika liku.
![Dean James bikin dua assist untuk kemenangan dramatis Go Ahead Eagles 2-1 atas Panathinaikos. [Dok. Go Ahead Eagles]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/03/46522-dean-james.jpg)
James menghabiskan masa remajanya di akademi Ajax, bermain bersama nama-nama besar seperti Sven Botman, Sergino Dest, Mitchel Bakker, dan Jay Gorter.
Namun, saat Ajax memutuskan melepasnya, James harus memulai lagi dari nol.
Padahal sebelum diusir Ajax, Dean James membuat tato di tubuhnya dengan gambar anak kecil berbaju Ajax bernomor 11.
“Anak itu punya rambut keriting seperti aku dulu,” katanya sambil tertawa.
“Itu lambang perjalanan karierku. Kalau ditanya sudah sampai di mana di tangga itu, aku rasa belum setengahnya.” kata Dean James seperti dilansir dari Elf Voetbal.
Nomor 11 bukan angka sembarangan. Itu adalah nomor keberuntungan keluarga James.
“Kakakku, Denzel, selalu jadi panutanku. Dia juga pemain Ajax dan memakai nomor 11. Aku pun memakai nomor itu waktu masih bermain sebagai winger sebelum akhirnya jadi bek kiri di Volendam,” ujarnya.
Untuk bisa menembus ke Ajax hingga berakhir pahit, Dean James menceritakan bahwa ia dan kakaknya menempuh perjalanan panjang ke akademi Ajax.
Dean James menceritakan bahwa ia beberapa kali satu mobil dengan pemain Manchester United, Noussair Mazraoui.
“Aku dan Denzel sering jadi yang terakhir turun dari bus klub. Dalam perjalanan, kami biasa satu mobil dengan Ricardo Kishna dan Noussair Mazraoui,” kenangnya.
James mengaku punya kenangan tak terlupakan selama di akademi Ajax, terutama dari turnamen-turnamen luar negeri.
“Aku tak akan pernah lupa turnamen Mundialito di Spanyol dan turnamen di Qatar. Lapangan di sana adalah rumput terbaik yang pernah aku injak,” katanya.
Setelah dilepas Ajax, James bergabung dengan FC Volendam, di mana ia mendapat kesempatan bermain reguler dan diubah posisinya menjadi bek kiri.
Perubahan itu menjadi titik balik kariernya.
“Awalnya aneh, tapi akhirnya aku menyukai posisi itu karena memberiku ruang untuk berlari dan menembak dari belakang,” ujar James.
Namun, perjalanan di Volendam tak sepenuhnya mulus.
Saat performanya sedang bagus, kontraknya justru tidak diperpanjang karena faktor non-teknis. James sempat merasa kecewa.
“Go Ahead memberiku kepercayaan. Aku merasa di sini aku bisa menjadi versi terbaik dari diriku,” katanya.
“Setiap tato di tubuhku adalah pengingat perjalanan panjang ini, tentang keluarga, mimpi, dan keyakinan.”
Kontributor: Adam Ali