- Carlo Ancelotti resmi melatih Timnas Brasil sejak Juni 2025 dengan mengandalkan strategi menyerang agresif formasi 4-2-4 untuk Piala Dunia.
- Neymar kembali dipanggil ke skuad Brasil setelah absen panjang guna memperkuat lini serang bersama bintang produktif lainnya.
- Marquinhos dan Gabriel Magalhães memimpin barisan pertahanan Brasil yang stabil untuk mendukung efektivitas serangan balik cepat dalam pertandingan.
Suara.com - Timnas Brasil memasuki siklus Piala Dunia 2026 dengan ekspektasi besar yang melekat pada reputasi mentereng dan deretan bintang di jersey kuning ikonik mereka.
Pelatih kawakan Carlo Ancelotti telah merancang skuad yang sangat condong ke lini serang demi mengembalikan kejayaan tim berjuluk Seleção tersebut di kancah internasional.
Keputusan Ancelotti untuk memanggil banyak penyerang memicu diskusi hangat mengenai efektivitas strategi menyerang habis-habisan dalam upaya memenangkan trofi Piala Dunia keenam mereka.
Sejak 2023, Timnas Brasil tercatat telah mengganti empat pelatih berbeda dan menurunkan total 84 pemain dalam berbagai pertandingan.
Era kepemimpinan Carlo Ancelotti secara resmi dimulai pada Juni 2025 dengan agenda kualifikasi CONMEBOL yang sangat singkat.
![Carlo Ancelotti Murka Usai Brasil Dipermalukan Jepang: Kami Harus Belajar Lagi [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/15/21626-carlo-ancelotti.jpg)
Juru taktik asal Italia itu umumnya lebih menyukai sistem permainan menyerang dengan hanya menempatkan dua gelandang dan empat penyerang sekaligus di lapangan.
Formasi 4-2-4 ini dianggap sebagai refleksi dari ketidakseimbangan komposisi pemain yang tersedia di bawah arahan sang manajer.
Casemiro dan Bruno Guimarães sejauh ini menjadi pasangan gelandang yang paling sering diturunkan sebagai starter untuk menjaga keseimbangan lini tengah.
Teka-teki utama justru muncul di empat slot lini depan menyusul cederanya Rodrygo dan talenta muda Estêvão yang selama ini menjadi mesin gol.
Paradoks Performa Bintang Eropa di Tim Nasional
Vinícius Júnior dan Raphinha menjadi nama paling produktif di skuad, meski performa gemilang mereka di level klub belum sepenuhnya menular saat berseragam tim nasional.
Menyitat Opta, Vinícius mengemas 183 keterlibatan gol dalam 257 laga untuk Real Madrid selama lima musim terakhir. Namun, rasionya merosot tajam saat membela Brasil.
Statistik menunjukkan kontribusi gol Vinícius di Madrid mencapai 0,79 per laga, sementara di Timnas Brasil hanya menyentuh angka 0,36 per pertandingan.
Kondisi serupa dialami Raphinha yang memiliki rasio kontribusi 0,72 per laga bersama Barcelona, tetapi turun menjadi 0,47 per laga untuk Seleção.
Tanpa kehadiran penyerang tengah murni yang dominan, Ancelotti kerap mendorong Vinícius atau Raphinha bermain lebih ke tengah sebagai striker.