- Hong Myung-bo resmi mengundurkan diri sebagai pelatih Timnas Korea Selatan pada 28 Juni 2026 setelah tersingkir di fase grup.
- Keputusan Hong meninggalkan Korea Selatan menuju Amerika Serikat dilakukan demi melindungi keluarga dari ancaman pembunuhan yang serius.
- Hong menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan kesiapan memberikan penjelasan terkait kegagalan tim di parlemen secara terbuka.
Suara.com - Mantan pelatih Timnas Korea Selatan, Hong Myung-bo, akhirnya angkat bicara setelah dua pekan bungkam usai kegagalan di Piala Dunia 2026.
Ia mengungkap alasan di balik kepergiannya dari negara tersebut, yakni ancaman serius terhadap dirinya dan keluarga.
Hong mengundurkan diri pada 28 Juni 2026, sehari setelah Korea Selatan tersingkir di fase grup.
Hasil buruk itu memicu gelombang kritik tajam dari publik dan bahkan tekanan dari kalangan pemerintah.
Dalam pernyataan resminya, Hong menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Korea Selatan.
“Saya dengan tulus meminta maaf kepada seluruh warga yang telah mendukung sepak bola Korea. Saya gagal memenuhi harapan bangsa,” ujarnya dikutip dari media Korsel.

Ia juga menegaskan bahwa dirinya bertanggung jawab penuh atas kegagalan tersebut.
“Sebagai pelatih, saya menerima tanggung jawab ini dengan sangat serius,” tambahnya.
Hong menjelaskan bahwa ia sengaja tidak memberikan komentar selama dua pekan.
Menurutnya, hasil buruk tim adalah beban yang harus ia tanggung sendiri sebagai pelatih kepala.
Namun, keheningan tersebut justru memicu spekulasi liar.
Ia menyebut banyak informasi tidak benar dan rumor yang berkembang tanpa dasar.
Kontroversi semakin membesar ketika Hong diketahui meninggalkan Korea Selatan menuju Amerika Serikat.
Keputusan itu menuai kritik dan dianggap sebagai upaya menghindari tekanan publik.
Hong membantah tudingan tersebut. Ia menegaskan kepergiannya semata-mata demi alasan keamanan.
“Ini bukan untuk lari dari tanggung jawab. Ada ancaman pembunuhan terhadap saya dan keluarga. Sebagai kepala keluarga, saya harus melindungi mereka,” tegasnya.
Kegagalan di Piala Dunia 2026 memang menjadi pukulan besar bagi Korea Selatan.
Korsel hanya meraih satu kemenangan dari tiga laga dan tersingkir setelah kalah dari Afrika Selatan di pertandingan terakhir.
Situasi ini memicu tuntutan reformasi di tubuh federasi sepak bola Korea Selatan.
Bahkan, isu tersebut telah merambah ke ranah politik dengan wacana pemanggilan Hong ke parlemen.
Menanggapi hal itu, Hong menyatakan kesiapannya untuk memberikan penjelasan secara terbuka.
“Jika ada sidang parlemen, itu adalah tempat yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Saya akan menyampaikan fakta apa adanya,” pungkasnya.
