-
Nikita Mirzani dilaporkan oleh dr. Reza Gladys atas dugaan pemerasan senilai Rp 5 miliar pada November 2024.
-
Setelah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan, Nikita dituntut 11 tahun penjara karena dianggap melakukan pemerasan dan pencucian uang.
-
Pada 28 Oktober 2025, ia divonis 4 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar, terbukti melakukan pemerasan tapi bebas dari dakwaan TPPU.
Suara.com - Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjadi saksi bisu babak akhir dari drama hukum yang menjerat artis kontroversial, Nikita Mirzani.
Setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan, Nikita Mirzani divonis bersalah atas kasus terhadap dokter sekaligus pengusaha skincare, Reza Gladys.
Nikita Mirzani diganjar hukuman empat tahun penjara. Vonis ini lebih ringan dari tuntutan jaksa yang mencapai 11 tahun penjara.
Berikut adalah 5 tahap penting perjalanan kasus ini, dari awal laporan hingga ketukan palu hakim.
1. Awal Mula Kasus
![Nikita Mirzani di sidang vonis kasus pemerasan terhadap Reza Gladys di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, 28 Oktober 2025. [Suara.com/Adiyoga Priyambodo]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/28/95155-nikita-mirzani.jpg)
Semua berawal pada 13 November 2024, ketika dokter kecantikan Reza Gladys, pemilik brand kecantikan Glafidsya, melaporkan Nikita Mirzani ke Polda Metro Jaya.
Laporan tersebut berisi tuduhan pemerasan dan pengancaman. Nikita, bersama asistennya, dituding meminta uang senilai Rp 5 miliar kepada Reza Gladys.
Uang tersebut diduga sebagai syarat agar Nikita berhenti mengunggah konten negatif tentang produk dan pribadi Reza di media sosialnya. Meski sempat ada negosiasi, kasus ini akhirnya tetap menempuh jalur hukum.
2. Status Naik Menjadi Tersangka
Setelah melalui serangkaian penyelidikan, Polda Metro Jaya akhirnya menetapkan Nikita Mirzani dan asistennya, Mail, sebagai tersangka.
Puncaknya, pada Selasa, 5 Maret 2025, keduanya resmi ditahan oleh Direktorat Reserse Kriminal Siber (Ditressiber) Polda Metro Jaya.
Penahanan dilakukan setelah Nikita menjalani pemeriksaan intensif, di mana ia dicecar 109 pertanyaan oleh penyidik.
Polisi menjeratnya dengan pasal berlapis, mulai dari UU ITE, KUHP tentang pemerasan, hingga UU Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).
3. Proses Persidangan
![Nikita Mirzani hadir sidang lanjutan kasus pemerasan dan TPPU di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis, 11 September 2025. [Suara.com/Adiyoga Priyambodo]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/09/11/14536-nikita-mirzani.jpg)
Sidang perdana Nikita Mirzani menjadi sorotan media. Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa Nikita dengan dakwaan berlapis.
Selama persidangan, jaksa menilai Nikita tidak kooperatif dan memberikan keterangan yang berbelit-belit.
Hal ini menjadi salah satu pertimbangan jaksa untuk menuntutnya dengan hukuman yang sangat berat, yaitu 11 tahun penjara, karena dianggap terbukti melakukan pemerasan sekaligus pencucian uang.
4. Pledoi Nikita Berharap Divonis Bebas
Menjelang putusan, Nikita Mirzani diberikan kesempatan untuk melakukan pembelaan lewat pledoi.
Dengan suara bergetar, ia membantah semua tuduhan jaksa. Nikita merasa dirinya dizalimi dan dipenjara selama delapan bulan padahal tidak pernah melakukan pemerasan apalagi pencucian uang.
"Saya bukan penjahat," ujarnya sambil memohon kepada majelis hakim agar dibebaskan dari seluruh tuntutan karena merasa tidak bersalah.
5. Vonis
Pada Selasa, 28 Oktober 2025, Hakim Ketua Khairul Soleh mengetuk palu. Hasilnya, Nikita Mirzani divonis 4 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 3 bulan kurungan.
Hakim menyatakan Nikita terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan pemerasan melalui media elektronik.
Namun, hakim membebaskan Nikita dari dakwaan TPPU, sehingga vonisnya jauh lebih ringan dari tuntutan jaksa.
Di luar dugaan, Nikita yang mengenakan busana serba hitam tampak sangat santai mendengar putusan tersebut.
Ia hanya menganggukkan kepalanya, sebuah reaksi tenang yang menutup perjalanan panjang kasus yang menjeratnya.
Meski palu hakim telah diketuk, babak akhir dari saga hukum Nikita Mirzani mungkin belum sepenuhnya tertulis.
Dengan putusan yang jauh lebih ringan dari tuntutan jaksa, pintu untuk proses banding masih terbuka lebar, baik dari pihak Nikita yang mencari kebebasan maupun jaksa yang menginginkan hukuman lebih berat.