Suara.com - Sal Priadi dihujat warganet setelah beredarnya foto dirinya berpose bersama Sitok Srengenge yang memiliki riwayat kasus kekerasan seksual.
Foto tersebut kembali ramai diperbincangkan usai ditemukan dalam unggahan Sitok Srengenge pada 17 November 2025.
Dalam foto itu, Sal Priadi tampak berdiri santai di depan budayawan sekaligus penyair yang namanya pernah terseret perkara hukum.
Unggahan tersebut memicu reaksi keras publik karena Sitok Srengenge diketahui memiliki rekam jejak dugaan kekerasan seksual serius.
Sitok Srengenge menuliskan caption panjang yang menggambarkan pertemuan mereka sebagai diskusi seni dan obrolan santai.
"Lalu kami ngobrol tentang lirik lagu, puisi, dan sisi 'bahaya' kesenian," tulis Sitok dalam unggahan tersebut.
Dia juga menambahkan bahwa Sal Priadi sempat membaca puisi, sementara dirinya menyimak sambil berbaring santai.
Caption itu justru memperkuat kemarahan warganet karena dinilai menormalkan figur dengan rekam jejak kasus sensitif.
Tak sedikit warganet mempertanyakan sikap Sal Priadi yang dianggap kurang peka terhadap isu kekerasan seksual.
Nama Sal Priadi pun menjadi trending di media sosial X dengan beragam kritik bernada keras.
Menanggapi hujatan tersebut, Sal Priadi akhirnya menyampaikan klarifikasi melalui akun X pribadinya.
Pernyataan itu dirilis pada Rabu, 31 Desember 2025, sebagai respons langsung atas polemik yang berkembang.
"Ngasih konteks doang," tulis Sal Priadi membuka penjelasan singkat namun tegas.
Dia menjelaskan bahwa kunjungannya terjadi di rumah anak Sitok, bukan dalam konteks acara publik.
"Saya main ke rumah anaknya, masuk rumahnya ada bapak dan ibunya, ngobrol selayaknya tamu," tulisnya.
Sal Priadi mengaku saat itu diajak berfoto tanpa mengetahui detail persoalan hukum yang kembali ramai.
Setelah mengetahui konteks yang beredar, Sal menegaskan sikapnya tidak membela Sitok Srengenge.
Pelantun hits Gala Bunga Matahari itu juga menyatakan tidak bertanggung jawab atas pihak-pihak yang memelintir situasi tersebut.
"Kalau ada pihak yang melintir-melintir itu urusan dia," tulis Sal dengan nada kesal.
Dalam pernyataannya, Sal Priadi menegaskan sikap pribadi yang sangat keras terhadap pelaku kekerasan seksual.
Sal juga menyampaikan pelajaran penting dari kejadian ini untuk lebih berhati-hati ke depan.
Sitok Srengenge sendiri diketahui pernah terjerat kasus dugaan kekerasan seksual sejak 2013.
Kasus bermula dari laporan mahasiswi UI berinisial RW ke Polda Metro Jaya.
Korban mengaku dihamili Sitok setelah pertemuan yang berkaitan dengan aktivitas akademik dan seni.
Pada 6 Oktober 2014, Sitok Srengenge resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian.
Dia dijerat pasal berlapis, termasuk Pasal 286 KUHP tentang persetubuhan dalam kondisi tidak berdaya.
Selain itu, Sitok juga dijerat Pasal 294 ayat 2 KUHP terkait perbuatan cabul.
Kasus tersebut sempat berjalan lambat karena kendala pembuktian dan berkas yang berulang kali dikembalikan.
Akibat tekanan publik, Sitok mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kurator Komunitas Salihara.
Dia juga mengalami penolakan sosial dalam berbagai kegiatan seni setelah kasus mencuat.
Hingga kini, kasus Sitok Srengenge kerap dijadikan contoh sulitnya penegakan hukum kekerasan seksual.
Kontributor : Chusnul Chotimah