- Wulan Guritno menegur Shalom Razade mengenai pengeluaran harian setelah melihat langsung kemiskinan di Manggarai, NTT.
- Pengalaman di NTT membuat Shalom menyadari kurangnya rasa syukur terhadap fasilitas yang dimilikinya selama ini.
- Sebagai dampak, Shalom kini bergabung dalam program sponsor anak dan menyisihkan uang saku untuk anak asuh.
Suara.com - Wulan Guritno memberikan teguran keras kepada putrinya, Shalom Razade mengenai cara menghargai uang.
Teguran ini muncul setelah keduanya melihat langsung realitas kemiskinan saat melakukan perjalanan sosial ke Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Perempuan 44 tahun tersebut mengaku langsung menginterogasi gaya hidup sang putri sesampainya mereka di Jakarta.
Wulan membandingkan pengeluaran harian Shalom di ibu kota dengan biaya hidup anak-anak di pedalaman NTT yang serba terbatas.
"Pulang dari sana, aku tanya Shalom 'uang jajan berapa? Makan di restoran berapa? Mabok berapa? Jangan bohong', enggak munafik ya kan," ujar Wulan Guritno menirukan ucapannya kepada Shalom saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat pada Jumat, 6 Maret 2026.
Bintang film Norma: Antara Mertua dan Menantu ini meminta putrinya untuk membayangkan berapa lama uang yang dihabiskan untuk gaya hidup mewah tersebut bisa menghidupi satu anak di NTT.
Hal itu dipicu setelah Wulan melihat anak-anak di salah satu sekolah di NTT bahkan tidak memiliki botol minum dan harus menahan haus seharian karena sulitnya akses air bersih.
"Bayangin anak itu uang segitu bisa buat apa, berapa lama, kak," imbuh Wulan menekankan pesannya kepada sang putri.
Mendapat teguran tersebut, Shalom Razade mengaku merasa tertampar.
Baca Juga: Wulan Guritno Syok! Sekolah di NTT Tak Punya Toilet Layak, Siswi Harus Tahan Malu dan Haus
Cewek kelahiran 1998 ini menyadari bahwa selama ini dirinya kurang bersyukur dengan kemudahan fasilitas yang dia miliki di Jakarta.
![Shaloom Razade kini memiliki anak asuh di NTT. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/07/11498-shaloom-razade.jpg)
Perjalanan ke Manggarai membuka matanya bahwa di pelosok Indonesia, banyak anak yang tetap semangat bersekolah meski fasilitasnya tidak layak.
"Aku ketampar banget karena dengan fasilitas yang sangat tidak layak mereka tuh masih semangat banget. Bahkan dulu waktu aku sekolah ada malasnya, ada apa gitu. Kita jadi ketampar banget," ucap Shalom.
Shalom juga mengakui bahwa perspektifnya berubah total setelah melihat anak-anak di NTT yang tetap bahagia meski harus berjalan kaki tiga kilometer demi air bersih.
"Mungkin selama ini aku tuh sangat enggak grateful (bersyukur) ya, dan aku ketampar banget. Kita bisa kok berbagi kebaikan dengan mereka yang kurang punya," tuturnya.
Efek dari teguran Wulan dan pengalaman di lapangan tersebut, Shalom akhirnya memutuskan untuk bergabung dalam program Child Sponsorship.