- Sutradara Ronny Gani membawa pengalaman belasan tahun dari Hollywood untuk merombak Garuda di Dadaku menjadi film animasi fantasi berkualitas dunia.
- Berbeda dari versi asli, film ini memperkenalkan elemen magis seperti jersei mistis dan karakter burung Garuda ajaib bernama Gaga yang diisi suara oleh Kristo Immanuel.
- Melibatkan talenta seperti Quinn Salman dan Revalina S. Temat, film ini bertujuan menginspirasi penonton untuk berani mengejar mimpi di tengah berbagai keterbatasan.
Suara.com - Setelah belasan tahun berkarier di industri visual effects Singapura dan terlibat dalam proyek Hollywood sekelas Avengers, sutradara Ronny Gani akhirnya kembali ke Indonesia.
Dia pulang membawa misi besar, yakni menyutradarai film animasi Garuda di Dadaku yang siap tayang di bioskop pada 11 Juni mendatang.
Proyek ini menjadi ajang pembuktian bahwa sineas lokal mampu meracik animasi berkualitas dunia dengan kedekatan budaya khas Nusantara.
Diproduksi oleh BASE Entertainment dan KAWI Animation, serta ko-produksi dengan Robot Playground Media, film yang diproduseri Shanty Harmayn dan Aoura Lovenson Chandra ini bukan sekadar remake versi live-action tahun 2009.
Mengembangkan semesta cerita dengan sentuhan fantasi, animasinya berpusat pada Putra (Keanu Azka), bocah penderita asma yang mimpinya menjadi pesepak bola nyaris kandas sebelum menemukan jersei mistis.
Perjalanannya berubah ketika dia bertemu Gaga (Kristo Immanuel), burung Garuda ajaib, dan pelatih cilik tegas bernama Naya (Quinn Salman).
Bersama-sama, mereka membuktikan kemampuan dan melawan keraguan. Film ini turut menghadirkan Revalina S. Temat sebagai pengisi suara Dewi Garuda.
Keputusan Ronny menggarap proyek ini lahir dari idealisme yang sudah dipupuknya sejak lama. Pengalamannya bekerja di industri visual effects di Singapura selalu ia anggap sebagai masa persiapan untuk membangun animasi Indonesia.
"Saya selalu menganggap dan memiliki pemikiran di kepala saya selama belasan tahun berkarier di luar itu adalah momen saya menimba ilmu. Dengan harapan dan sama seperti cerita dari film ini, saya juga punya mimpi," kata Ronny Gani saat berkunjung ke kantor Suara.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Selasa, 21 April 2026.
"Satu saat akan tiba waktunya penonton Indonesia menginginkan ada film Indonesia, dan pada saat itu, saya akan pulang. Saya akan bawa pulang ilmu dan pengalaman untuk kita bikin satu karya kolaboratif yang sangat relevan dan relatable buat penonton Indonesia," tambahnya.
Pemilihan Garuda di Dadaku sebagai proyek perdananya di Indonesia pun melalui proses diskusi matang dengan Shanty Harmayn selaku kreator kekayaan intelektual (IP) aslinya.
Bagi Ronny, IP ini sudah memiliki basis penggemar yang kuat, ditambah lagu temanya yang sudah melekat bagai anthem nasional. Namun, dia memberi syarat, yakni eksekusinya harus memberikan pengalaman yang jauh berbeda dari versi live-action.
"Kita membahas dan menyimpulkan bahwa format dan medium animasi ini harus lebih out of this world, harus lebih elevated dari reality. Harus lebih ekspresif, dari ide, dari komedi, dari storytelling, dari desain karakter. Makanya itu akhirnya muncul karakter seperti si Gaga," jelas Ronny
Gaga: Sang "Cabai Rawit" Pembawa Tawa