Glukoma Penyebab Utama Tingginya Kebutaan

Ririn Indriani

Minggu, 24 Agustus 2014 | 11:34 WIB
Glukoma Penyebab Utama Tingginya Kebutaan
Ilustrasi (Foto: shutterstock).

Suara.com - Penyakit glukoma menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka kebutaan di dunia dengan persentase mencapai 10 persen.

Demikian yang dikemukakan oleh dokter spesialis mata RSUD dr Saiful Anwar dan dr Soni Agung Santoso di Kota Blitar, Jawa Timur.

"Di Indonesia, kasus glukoma tergolong paling tinggi setelah katarak, akibat kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap jenis penyakit satu ini," kata Saiful yang diamini oleh Soni di Blitar belum lama ini.

Sayangnya ia tidak merinci jumlah kasus penyakit yang disebabkan meningkatnya tekanan pada bola mata tersebut di Indonesia, namun data yang pernah dirilis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada akhir 2013 mencatat, kasus glukoma di Indonesia mendekati angka 500.000 penderita.

Penyakit mata yang bisa menyebabkan kebutaan sejauh ini masih didominasi kasus katarak dengan persentase mencapai 39 persen.

"Sebaran kedua yang bisa memicu kebutaan adalah kasus mata refraktif atau kelainan pada bola mata sehingga bayangan benda tidak bisa jatuh pada makula retina," kata Saiful.

Menurut dia, kasus refraksi mata mencapai 18 persen di bawah katarak, namun kedua jenis penyakit mata tersebut pada dasarnya masih bisa disembuhkan atau dipulihkan untuk penglihatan penderita dengan syarat segera dilakukan tindakan medis dan tidak ada penyakit bawaan lain.

Kondisi sebaliknya terjadi pada penderita glukoma. "Penderita glukoma yang sudah mengalami penurunan lapang pandang tidak bisa disembuhkan. Tindakan medis ataupun pengobatan hanya bisa dilakukan untuk mempertahankan kemampuan melihat yang masih ada," terang Soni.

Namun, lanjut dia, penyakit yang disebabkan meningkatnya tekanan cairan pada bola mata yang berdampak pada rusaknya sistem saraf penglihatan itu masih bisa dicegah (preventable blindness) atau setidaknya diperlambat melalui deteksi dini dan pengobatan yang benar.

"Meningkatnya tekanan pada bola mata disebabkan cairan (nutrisi) yang masuk ke dalam bola mata tidak diimbangi dengan cairan keluar akibat tersumbatnya saluran buang pada bola mata tadi. Obat ataupun tindakan medis membuat saluran buatan dimaksudkan untuk membantu keseimbangan antara cairan masuk dan keluar ini," urai Saiful.

Secara ilmu kedokteran, kata Soni, tekanan mata dikatakan normal apabila masih di bawah 20 mmhg.

"Di atas itu sudah bisa dikatakan glukoma, sekalipun mungkin seorang penderita baru memiliki tekanan (bolamata) sebesar 22 mmhg dan belum mengalami penurunan lapang pandang secara langsung," ujarnya.

Pada kondisi berlanjut dan tidak segera tertangani, glukoma tersebut bisa semakin parah. Akibatnya, semakin tinggi tekanan pada bola mata akan menyebabkan sistem saraf penglihatan rusak dan akhirnya mati, karena tekanan yang terlalu tinggi.

Selain tekanan, terang dia, glukoma juga bisa dipicu oleh penyakit hipertensi dan diabetes melitus.

"Dalam beberapa kasus yang pernah ditemukan dalam dunia kedokteran, glukoma juga bisa dipicu faktor lainnya seperti emosi yang tidak stabil, migrain, penyempitan pembuluh darah ataupun lainnya," papar Soni.

Karenanya, ia mengimbau kepada penderita glukoma untuk aktif melakukan kontrol rutin ke dokter untuk memantau perkembangan tekanan bola mata secara periodik.

Keluarga dari penderita glukoma oleh Soni juga disarankan untuk aktif melakukan pemeriksaan diri, karena selain penyakit bersifat geneitis atau menurun, glukoma biasanya banyak menyerang calon penderita yang telah berusia 40 tahun ke atas. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Andrie Yunus Nyaris Buta, Bakal Dikirim ke Profesor India yang Tangani Novel Baswedan

Andrie Yunus Nyaris Buta, Bakal Dikirim ke Profesor India yang Tangani Novel Baswedan

News | Rabu, 20 Mei 2026 | 19:08 WIB

Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta: Menyelami Makna dari Cahaya yang Tak Terlihat

Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta: Menyelami Makna dari Cahaya yang Tak Terlihat

Your Say | Rabu, 01 April 2026 | 13:20 WIB

Glaukoma Bisa Sebabkan Kebutaan Tanpa Gejala, Ini Hal-Hal yang Perlu Diketahui

Glaukoma Bisa Sebabkan Kebutaan Tanpa Gejala, Ini Hal-Hal yang Perlu Diketahui

Health | Selasa, 10 Maret 2026 | 23:22 WIB

3 Fakta Perubahan Proyek Bumilangit, Si Buta dari Gua Hantu Kok Jadi Film Pertama?

3 Fakta Perubahan Proyek Bumilangit, Si Buta dari Gua Hantu Kok Jadi Film Pertama?

Entertainment | Selasa, 02 Desember 2025 | 20:00 WIB

Terobosan Baru Atasi Kebutaan: Obat Faricimab Kurangi Suntikan Mata Hingga 75%!

Terobosan Baru Atasi Kebutaan: Obat Faricimab Kurangi Suntikan Mata Hingga 75%!

Health | Rabu, 05 November 2025 | 19:42 WIB

Kelamin Suami Dipotong Istri Gara-gara Chat, Korban Naik Motor Sendiri ke RSCM Bawa Potongannya

Kelamin Suami Dipotong Istri Gara-gara Chat, Korban Naik Motor Sendiri ke RSCM Bawa Potongannya

News | Kamis, 23 Oktober 2025 | 11:53 WIB

Cinta Buta Pada Yance Berujung Tragis! Istri Lindungi Suami Buronan Justru Dibakar Hidup-hidup

Cinta Buta Pada Yance Berujung Tragis! Istri Lindungi Suami Buronan Justru Dibakar Hidup-hidup

News | Jum'at, 17 Oktober 2025 | 11:52 WIB

Dari Kegelapan Menuju Cahaya: Bagaimana Operasi Katarak Gratis Mengubah Hidup Pasien

Dari Kegelapan Menuju Cahaya: Bagaimana Operasi Katarak Gratis Mengubah Hidup Pasien

Health | Selasa, 02 September 2025 | 20:30 WIB

5 Fakta Gugatan Jurnalis Buta Warna terhadap Lampu Merah: Mengancam Keselamatan Jiwa

5 Fakta Gugatan Jurnalis Buta Warna terhadap Lampu Merah: Mengancam Keselamatan Jiwa

News | Rabu, 20 Agustus 2025 | 20:15 WIB

Harta Kekayaan Bella Shofie yang Dituding Makan Gaji Buta Anggota DPRD

Harta Kekayaan Bella Shofie yang Dituding Makan Gaji Buta Anggota DPRD

Entertainment | Rabu, 06 Agustus 2025 | 07:30 WIB

Terkini

Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup

Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup

Health | Senin, 01 Juni 2026 | 14:13 WIB

Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf

Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf

Health | Minggu, 31 Mei 2026 | 17:57 WIB

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 21:33 WIB

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 11:18 WIB

Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 23:06 WIB

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 17:41 WIB

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:27 WIB

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:44 WIB

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 11:09 WIB

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 09:22 WIB