Studi: Pemanis Buatan Memicu Risiko Diabetes Tipe-2

Esti Utami

Kamis, 18 September 2014 | 08:59 WIB
Studi: Pemanis Buatan Memicu Risiko Diabetes Tipe-2
Ilustrasi. (Shutterstock)

Suara.com - Banyak orang memilih pemanis buatan dengan tujuan untuk menurunkan berat badan dan menghindari diabetes. Tetapi penelitian terbaru justru menemukan pemanis buatan dapat mempengaruhi bakteri dalam usus, dan membuat orang lebih rentan terhadap penumpukan berat badan dan diabetes tipe 2.

Penelitian itu menemukan, mereka yang mengonsumsi makanan dan minuman kemasan yang menggunakan gula seperti sakarin, aspartam sucralose menunjukkan tanda-tanda intoleransi glukosa, tahap awal dari diabetes tipe 2.

"Bagaimana tubuh bereaksi dengan bakteri usus merupakan faktor besar dalam menentukan bagaimana makanan yang kita makan mempengaruhi kita." terang Dr. Eran Elinav, dari Weizmann Institute of Science, Israel.

Yang menarik dari temuan ini adalah hubungan antara pemanis buatan dan bakteri dalam mengembangkan gangguan yang sebenarnya ingin dicegah. Para peneliti menyerukan pengkajian ulang dari konsumsi besar-besaran dari pemanis buatan.

Dalam uji coba terhadap tikus dan manusia menunjukkan pemanis buatan dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat. Pada tikus, peningkatan gula darah jauh lebih besar dibandingkan dengan gula biasa. Para peneliti juga menguji coba konsumsi pemanis buatan pada tujuh orang yang tidak biasanya makan pemanis selama tujuh hari. Hasilnya, hanya dalam waktu empat hari, gula darah telah meningkat dan bakteri usus telah berubah.

Para peneliti menduga, beberapa bakteri usus bereaksi terhadap pemanis, memprovokasi respon yang mirip ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi gula.  Penelitian yang dirilis di jurnal Nature itu, juga mengungkap pemanis buatan bisa, juga berkontribusi terhadap kondisi yang berhubungan dengan obesitas.

"Kita menemukan ada perubahan yang disebabkan pemanis buatan pada beberapa individu. Temuan ini mengkhawatirkan dan perlu dikuatkan. Kami terkejut oleh hasilnya, itu sebabnya laporannya kami replikasi berkali-kali," tambah Profesor Eran Segal.

Namun Gavin Partington, direktur jenderal British Soft Drinks Association, meragukan kesahihan penelitian ini. "Sebagian besar klaim penelitian ini didasarkan pada penelitian terhadap tikus dan bertentangan dengan tubuh besar bukti ilmiah. Lebih dari 40 penelitian telah menyimpulkan bahwa penggunaan pemanis rendah kalori tidak menyebabkan baik peningkatan risiko obesitas atau diabetes." ujarnya.

Puluhan tahun, tambahnya, penelitian klinis menunjukkan bahwa pemanis rendah kalori efektif mengontrol berat badan. (metro.co.uk)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Yogurt dan Susu Bisa Turunkan Risiko Diabetes

Yogurt dan Susu Bisa Turunkan Risiko Diabetes

Health | Rabu, 17 September 2014 | 13:39 WIB

Remaja Kurang Tidur Berisiko Obesitas Saat Dewasa

Remaja Kurang Tidur Berisiko Obesitas Saat Dewasa

Health | Selasa, 26 Agustus 2014 | 07:57 WIB

Studi: Beban Kerja Bisa Memicu Diabetes

Studi: Beban Kerja Bisa Memicu Diabetes

Health | Senin, 18 Agustus 2014 | 10:54 WIB

Terkini

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Health | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:01 WIB

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 21:32 WIB

Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance

Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 19:00 WIB

Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum

Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum

Health | Minggu, 14 Juni 2026 | 19:05 WIB

Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis  Redakan Wasir dengan Cara Alami

Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami

Health | Minggu, 14 Juni 2026 | 15:55 WIB

Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun

Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun

Health | Sabtu, 13 Juni 2026 | 20:18 WIB

Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya

Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya

Health | Sabtu, 13 Juni 2026 | 10:29 WIB

Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi

Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi

Health | Jum'at, 12 Juni 2026 | 12:50 WIB

Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW

Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW

Health | Jum'at, 12 Juni 2026 | 09:06 WIB

Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia

Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia

Health | Kamis, 11 Juni 2026 | 21:51 WIB