Bahayanya Bila Anak Sering Terpapar Pencemaran Lingkungan

Ririn Indriani, Firsta Nodia

Senin, 24 Agustus 2015 | 17:08 WIB
Bahayanya Bila Anak Sering Terpapar Pencemaran Lingkungan
Ilustrasi anak-anak yang berada di lingkungan yang tercemar. (Shutterstock)

Suara.com - Data WHO menyebutkan sepertiga dari kematian 6.6 juta anak di bawah usia lima tahun akibat terpapar pencemaran lingkungan. Jika anak tersebut mampu bertahan hidup maka gangguan tumbuh kembang hingga kecerdasan mengintai seumur hidupnya.

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Bina Gizi Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes RI, dr. Anung Sugihantono, M. Kes. di Jakarta, Senin, (24/8/2015).

Ia menambahkan bahwa peningkatan aktivitas manusia seperti pemakaian pupuk dan pestisida golongan organophosphate di sektor pertanian, pemakaian merkuri oleh industri pertambangan, peleburan aki bekas dan penggunaan timbal dalam cat, bisa menyebabkan pencemaran lingkungan.

"Jika zat beracun ini dihirup atau tertelan anak-anak, maka bisa menganggu sistem kecerdasannya," kata Anung.

Penelitian yang dilakukan oleh Balitbangkes Kemenkes RI pada 2014 di Bekasi, Bogor, Tanggerang dan Depok, menemukan bahwa 240 anak terpapar kadar timah yang melebihi ambang yang ditetapkan WHO sebesar 36-65 mcg/dL. Bahkan 12 diantaranya memiliki IQ di bawah rata-rata atau idiot.
 
Padahal anak-anak yang cerdas merupakan aset bagi tercapainya pembangunan bangsa. Oleh karena itu, Anung mengimbau agar orangtua melindungi buah hatinya dari bahaya pencemaran lingkungan.

"Bicara anak saat ini kita tak hanya bicara yang sudah lahir, tapi juga kelak yang akan menjadi generasi pengganti. Oleh karena itu, kita harus bergandeng tangan untuk melindungi buah hati dari bahaya pencemaran lingkungan," imbuhnya.

Suasana sebagian kali item yang dipenuhi busa di belakang Wisma Atlet, Jakarta Pusat, Selasa (1/1). [Suara.com/Fakhri Hermansyah]
Suasana sebagian kali item yang dipenuhi busa di belakang Wisma Atlet, Jakarta Pusat, Selasa (1/1). [Suara.com/Fakhri Hermansyah]

Hal senada juga disampaikan Kepala Pusat Teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat Kemenkes Anwar Musadad. Menurut Anwar, tanpa disadari, pencemaran lingkungan  bisa membahayakan perkembangan otak anak. Berdasarkan penelitian, ditemukan sejumlah anak usia 7-12 tahun yang terpapar bahan berbahaya seperti timbal dan peleburan aki bekas.

“Kandungan (bahan berbahaya) terdeteksi di darah, rambut. Kalau sudah ada pertanda itu, tapi secara gejala belum  belum begitu kelihatan, itu sudah jadi bom waktu  karena ini akumulasi terus," kata Anwar.

Dampak yang terjadi sangat banyak. Antara lain akan menganggu pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk kecerdasan anak terganggu.

Anwar melanjutkan, ada laporan penelitian yang pernah dilakukan LSM Black Smith dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tahun 2011, tercatat 70 hotspot sentra peleburan aki bekas ilegal di wilayah Jabodetabek.

Lokasi tersebut salah satunya di Desa Cinangka, Bogor dengan  paparan kadar timbal di sekitar area peleburan aki bekas sebesar 7 kali lipat ambang yang ditetapkan WHO yakni 10 mcg/dL.

Sementara itu, dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Irene Yuniar menambahkan, penelitian terhadap 240 anak di Desa Cinangka, Bogor itu didapati 5 persen anak memiliki keterbelakangan mental.

Penelitian yang dilakukan Balitbangkes sebelumnya juga menemukan 32 orang di Desa Giripurno, Kota Batu, Jawa Timur menderita cerebal palsy atau lumpuh otak yang diduga karena pencemaran pestisida.

“Anak bisa terkena melalui pernapasan, kulit, dan saluran cerna. Tapi sulit mengenali penyakit lingkungan karena anak datang tidak dengan gejala spesifik,” kata Irene.

Bahan-bahan kimia tersebut bisa mengganggu tumbuh kembang anak, pembentukan tulang, perkembangan otak, hingga gangguan pada saraf. Selain itu, anak-anak juga bisa tercemar zat berbahaya tersebut sejak dalam kandungan ibu. Untuk itu, ibu hamil juga harus menghindari paparan pencemaran lingkungan.

Greenpeace melakukan aksi di depan Gedung Kementerian Kesehatan, di Jakarta, Kamis (28/9).
Greenpeace melakukan aksi di depan Gedung Kementerian Kesehatan, di Jakarta, Kamis (28/9).

Pendapat lain disampaikan Frederica Perera dari Universitas Kolombia. Ia menunjukkan dampak kesehatan bagi anak-anak belum sepenuhnya menjadi pertimbangan dalam pembuatan kebijakan pencemaran lingkungan, khususnya pencemaran kualitas udara.

Sepuluh persen dari populasi dunia adalah anak-anak berusia di bawah lima tahun. Namun, menurut World Health Organization (WHO) anak-anak menanggung 40 persen beban penyakit yang disebabkan dari pencemaran lingkungan.

Polutan udara seperti PM 2,5, PAH, nitrogen dioksida, dan karbon dioksida merupakan ancaman yang berbahaya bagi anak-anak. Namun, para pembuat kebijakan tidak pernah memberikan perhatian terhadap efek yang didapat anak-anak saat mengevaluasi pengurangan bahan bakar fosil yang menyebabkan pencemaran lingkungan.

“Hal ini berpengaruh kepada anak-anak bahkan sebelum mereka dilahirkan,” ucap Frederica Perera.

Sebagai pembanding, Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerikas Serikat dan institusi-instusi pemerintah pembuat kebijakan lingkungan seperti WHO dan Institut Pengawasan Kesehatan Publik Prancis, hanya menggunakan parameter kesehatan dan ekonomi terhadap kebijakan dari pencemaran kualitas udara. 

Padahal menurut Perera, kebijakan tersebut hanya langkah kecil untuk melindungi anak-anak dari pencemaran udara. Misalnya, angka kematian bayi dan gejala asma yang memburuk.

Ilustrasi dampak pencemaran udara bagi anak. [Shutterstock]
Ilustrasi dampak pencemaran udara bagi anak. [Shutterstock]

Para pembuat kebijakan tidak memasukkan misalnya hasil perkembangan saraf atau kelahiran yang merugikan, seperti kelahiran prematur. 

“Dampak dan efek dari kebijakan pencemaran polusi udara kemudian terlalu diremehkan,” ucap Perera.

Efek dari polutan udara dari pembakaran bahan bakar fosil berpengaruh terhadap kesehatan anak-anak seperti kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, autisme, dan asma. Penelitian selengkapnya telah diunggah di Jurnal Environmental Research.

Perera mengatakan sudah banyak data tersedia untuk memasukkannya dalam pertimbangan kebijakan untuk pencemaran polusi udara. Misalnya, 18 persen kelahiran prematur disebabkan karena polutan udara di rahim dan di Amerika Serikat 70 ribu bayi lahir prematur.

Kesimpulan Perera dan ketiga koleganya dalam penelitian ini, mengatakan, memasukkan pertimbangan dampak kesehatan terhadap anak-anak terhadap kebijakan pencemaran lingkungan menjadi penting untuk pencegahan pencemaran lingkungan, khususnya untuk mencapai kualitas udara bersih.

Pada anak-anak, bayi yang lahir prematur atau dengan berat badan lebih rendah akibat paparan polusi udara, tidak hanya berisiko pada kesehatan, namun juga kesempatan lain.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

8 Fakta Tentang Polusi yang Bikin Merinding

8 Fakta Tentang Polusi yang Bikin Merinding

Health | Jum'at, 21 Agustus 2015 | 10:14 WIB

Hati-hati, Anak Juga Bisa Alami Gangguan Bipolar

Hati-hati, Anak Juga Bisa Alami Gangguan Bipolar

Health | Kamis, 20 Agustus 2015 | 18:20 WIB

Ini Bahaya Polusi Udara dari PLTU Batubara

Ini Bahaya Polusi Udara dari PLTU Batubara

Health | Kamis, 13 Agustus 2015 | 15:46 WIB

Ini Manfaatnya Ajak Bayi Bercanda

Ini Manfaatnya Ajak Bayi Bercanda

Health | Selasa, 04 Agustus 2015 | 15:27 WIB

Terkini

Pencernaan Sehat Ikut Dukung Anak Siap Belajar

Pencernaan Sehat Ikut Dukung Anak Siap Belajar

Health | Minggu, 06 September 2026 | 00:17 WIB

Regulasi Kehutanan Dinilai Mandul, Hutan Indonesia Terancam Karhutla

Regulasi Kehutanan Dinilai Mandul, Hutan Indonesia Terancam Karhutla

News | Sabtu, 05 September 2026 | 23:05 WIB

AHY: Jabatan Tak Abadi, Fasilitas Negara Jangan Dipakai Politik

AHY: Jabatan Tak Abadi, Fasilitas Negara Jangan Dipakai Politik

News | Sabtu, 05 September 2026 | 22:35 WIB

Persija Sikat Borneo FC, Ini Klasemen Sementara Pekan I Super League 2026/2027

Persija Sikat Borneo FC, Ini Klasemen Sementara Pekan I Super League 2026/2027

Bola | Sabtu, 05 September 2026 | 22:21 WIB

Kapolda-Pangdam Cek Karhutla Siak, Empat Wilayah Riau Jadi Atensi

Kapolda-Pangdam Cek Karhutla Siak, Empat Wilayah Riau Jadi Atensi

Riau | Sabtu, 05 September 2026 | 22:15 WIB

Lantik Pengurus Golkar Jateng, Bahlil Lahadalia Targetkan Penambahan Kursi di Pemilu 2029

Lantik Pengurus Golkar Jateng, Bahlil Lahadalia Targetkan Penambahan Kursi di Pemilu 2029

Surakarta | Sabtu, 05 September 2026 | 22:10 WIB

Jumenengan Hangabehi Sebatas Melengkapi Adat, Gusti Neno: Belum Ada Raja Definitif

Jumenengan Hangabehi Sebatas Melengkapi Adat, Gusti Neno: Belum Ada Raja Definitif

Surakarta | Sabtu, 05 September 2026 | 22:06 WIB

Erupsi Gunung Anak Krakatau: Lampung Selatan Siaga, Masyarakat Diminta Tak Terpancing Hoaks

Erupsi Gunung Anak Krakatau: Lampung Selatan Siaga, Masyarakat Diminta Tak Terpancing Hoaks

Lampung | Sabtu, 05 September 2026 | 22:04 WIB

Terungkap! Sebelum Audiensi dengan Pimpinan DPR, Botok Ditelpon Prabowo

Terungkap! Sebelum Audiensi dengan Pimpinan DPR, Botok Ditelpon Prabowo

Jawa Tengah | Sabtu, 05 September 2026 | 22:01 WIB

Link Streaming Debut Emil Audero Malam Ini Rayo Vallecano vs Racing Santander

Link Streaming Debut Emil Audero Malam Ini Rayo Vallecano vs Racing Santander

Bola | Sabtu, 05 September 2026 | 22:00 WIB

×