Ini yang Terjadi pada Tubuh Saat Terkena HIV

Ririn Indriani | Suara.com

Jum'at, 02 Desember 2016 | 20:15 WIB
Ini yang Terjadi pada Tubuh Saat Terkena HIV
Ilustrasi HIV. (Shutterstock)

Suara.com - Orang yang terinfeksi HIV mungkin tidak menunjukkan gejala apapun selama bertahun-tahun. Namun, kecuali jika diobati, jumlah sel-sel pada sistem imun akan terus menurun.

Tanpa sel-sel tersebut (yang fungsinya membunuh sel yang telah terinfeksi dengan kuman), akan muncul berbagai penyakit berbahaya.

Lantas, bagaimana cara virus HIV menyerang sistem imun?
Human immunodeficiency virus (HIV) menginfeksi sel-sel dari sistem imun. HIV menyebabkan AIDS karena virus menghancurkan sel-sel imun penting yaitu sel CD4 T, namun bagaimana tepatnya sel-sel ini terbunuh tidak diketahui secara pasti.

Setiap harinya, tubuh Anda menghasilkan jutaan sel CD4 T untuk membantu menjaga imunitas dan melawan serangan virus dan kuman. Begitu HIV berada di tubuh Anda, virus dapat membuat salinan terus menerus, meningkatkan kemampuan untuk membunuh sel CD4 T. Kemudian, sel yang terinfeksi mendominasi sel T yang sehat.

Empat Tahapan infeksi HIV
Infeksi HIV menurut data yang dihimpun hellosehat.com biasanya terbagi dalam empat tahap, tergantung bagaimana efek HIV pada sistem imun Anda: infeksi primer akut, infeksi laten klinis, infeksi HIV simptomatis dan perkembangan HIV menjadi AIDS.

1. Tahap infeksi HIV akut
Dalam 2-4 minggu setelah infeksi HIV, banyak orang (namun tidak semua) mengalami gejala yang menyerupai flu, yang merupakan respon alami tubuh terhadap infeksi HIV, seperti demam, pembengkakan kelenjar, radang tenggorokan, ruam, nyeri otot dan sendi, nyeri dan sakit kepala.

Selama periode awal infeksi ini, virus dalam jumlah besar dihasilkan dalam tubuh. Tubuh Anda merespon dengan menghasilkan antibodi HIV dan limfosit sitotoksik (sel T pembunuh yang mencari dan menghancurkan virus atau bakteri). Maka, kadar HIV pada darah akan sangat menurun, serta jumlah sel T CD4+ sedikit melambung.

Selama tahap infeksi HIV akut, Anda berisiko tinggi menularkan HIV pada pasangan seksual dan pengguna obat karena kadar HIV pada aliran darah sangat tinggi. Untuk alasan ini, sangat penting untuk mengurangi risiko penularan.

2. Tahap laten klinis
“Latensi” merupakan periode di mana virus tinggal atau berkembang pada tubuh manusia tanpa menghasilkan gejala atau hanya gejala ringan, karena infeksi tidak menyebabkan gejala atau komplikasi lainnya. Tahap kedua dari infeksi HIV memiliki rata-rata durasi 10 tahun untuk orang yang tidak menjalani pengobatan antiretroviral (ART).

Jika Anda menjalani ART, Anda dapat hidup dengan latensi klinis selama beberapa dekade karena perawatan membantu menjaga virus.

Walau berjumlah sangat sedikit di dalam darah, HIV sangat aktif pada sistem limfa tubuh. Jika Anda memiliki HIV dan tidak menjalani ART, jumlah virus akan mulai meningkat dan jumlah CD4 akan menurun.

Jika hal ini terjadi, Anda dapat mulai memiliki gejala konstitusional dari HIV begitu kadar virus meningkat pada tubuh Anda.

Namun, orang dengan HIV tetap terinfeksi dan dapat menularkan HIV ke orang lain pada fase ini.

3. Infeksi HIV simptomatis
Seiringnya waktu, HIV menghancurkan sistem imun Anda. Apabila jumlah virus terus meningkat ke level yang lebih tinggi, sistem imun akan memburuk. Kondisi kesehatan Anda mencapai tahap yang lebih serius.

Gejala dari tahap infeksi HIV ini meliputi penurunan berat badan dengan cepat, kehilangan ingatan, demam yang kambuh, serta diare yang berlangsung lebih dari seminggu. Apabila perawatan obat anti-HIV tidak bekerja, atau jika seseorang tidak melakukan perawatan, sistem imun akan mulai memburuk dengan cepat.

Dalam tahap ini, infeksi oportunistik juga akan meningkat. Infeksi ini tidak akan menjadi masalah pada orang dengan sistem imun normal, namun pada orang dengan sistem imun yang lemah, infeksi dapat sangat berbahaya. Infeksi dapat disembuhkan, tapi perkembangan penyakit tidak dapat dihentikan.

4. AIDS
AIDS merupakan tahap infeksi HIV yang terjadi saat sistem imun sudah rusak dengan parah dan Anda rentan terhadap infeksi oportunistik. Jumlah sel T CD4+ merosot, serta jumlah virus meningkat dengan signifikan.

Apabila jumlah sel T CD4+ seseorang jatuh di bawah 200 sel per milimeter kubik darah dan pasien didiagnosis dengan kondisi terkait HIV tahap 4 (seperti tuberkulosis, kanker, dan pneumonia),

Begitu HIV berkembang menjadi AIDS, pasien lebih mudah mengalami kematian. Tanpa pengobatan, orang yang mengalami AIDS biasanya bertahan sekitar 3 tahun. Begitu Anda memiliki penyakit oportunistik berbahaya, harapan hidup tanpa perawatan menurun menjadi sekitar 1 tahun.

Untunglah dengan perkembangan pengobatan, harapan hidup orang dengan AIDS meningkat.

Jadi, seperti itulah yang akan terjadi dalam tubuh bila terkena HIV.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Tekan Jumlah Penderita, WHO Serukan Pentingnya Tes HIV

Tekan Jumlah Penderita, WHO Serukan Pentingnya Tes HIV

Health | Jum'at, 02 Desember 2016 | 14:34 WIB

HIV Bukan Penyakit Kutukan

HIV Bukan Penyakit Kutukan

Health | Kamis, 01 Desember 2016 | 19:19 WIB

Ini Risikonya Bila Obat ARV Tak Lagi Disubsidi

Ini Risikonya Bila Obat ARV Tak Lagi Disubsidi

Health | Kamis, 01 Desember 2016 | 18:10 WIB

Terkini

Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini

Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini

Health | Jum'at, 20 Maret 2026 | 13:04 WIB

Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi

Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi

Health | Kamis, 19 Maret 2026 | 13:49 WIB

Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!

Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!

Health | Rabu, 18 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?

Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?

Health | Selasa, 17 Maret 2026 | 15:31 WIB

Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung

Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung

Health | Senin, 16 Maret 2026 | 17:14 WIB

Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman

Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman

Health | Senin, 16 Maret 2026 | 16:49 WIB

Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi

Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi

Health | Senin, 16 Maret 2026 | 15:52 WIB

Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga

Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga

Health | Senin, 16 Maret 2026 | 11:54 WIB

Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan

Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan

Health | Senin, 16 Maret 2026 | 09:18 WIB

Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal

Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal

Health | Sabtu, 14 Maret 2026 | 14:38 WIB