Kasus Stunting di NTB Ternyata Lebih Dipicu Masalah Ini

Dythia Novianty, Firsta Nodia

Jum'at, 09 Juni 2017 | 09:30 WIB
Kasus Stunting di NTB Ternyata Lebih Dipicu Masalah Ini
Pathurrahman, SKM, MAP, Doktor Ilmu Gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia saat promosi doktornya di FKUI, Kamis (8/6/2017). [Suara.com/Firsta Nodia]

Suara.com - Kasus stunting atau bertubuh pendek masih tinggi di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, prevalensi anak-anak di Indonesia yang tergolong stunting mencapai 37,2 persen. Meningkat jika dibandingkan tahun 2010 sebesar 35,6 persen.

Bahkan, di beberapa provinsi, seperti di Nusa Tenggara Barat misalnya, prevalensi stunting lebih tinggi dari prevalensi nasional, mencapai 46,60 persen pada tahun 2013 dan 48,20 persen pada tahun 2010.

Umumnya, stunting disebabkan karena asupan makanan yang tidak memadai dan munculnya penyakit infeksi seperti diare.

Namun studi terkini yang dilakukan Pathurrahman, SKM, MAP, Doktor Ilmu Gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menemukan bahwa 90 persen kejadian diare pada anak dipicu oleh masalah nonrotavirus seperti sanitasi, kebersihan individu dan air minum (SHAW).

"Diare berulang menyebabkan anak kehilangan 70 persen cairan sehingga dia mengalami gangguan usus. Nah gangguan usus ini bisa berkembang jadi gangguan pencernaan yang menyebabkan anak menjadi kurus san rentan mengalami stunting," ujar dia pada promosi doktornya di FKUI, Kamis (8/6/2017).

Untuk mendapatkan temuan ini, Pathurrahman mengobervasi panjang badan, berat badan, kejadian diare beserta pemeriksaan penyebabnya pada 340 anak normal berusia 6-12 bulan. Sampel terbagi atas 170 anak normal di daerah terpapar program SHAW dan 170 anak normal di daerah tidak terpapar program SHAW.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak-anak di daerah program yang tidak terpapar program SHAW cenderung akan mengalami stunting. Penelitian tersebut juga menyimpulkan bahwa diare memiliki efek langsung dan tidak langsung terhadap stunting dengan kontribusi minimal sebesar 5,8 persen.

"Saya menemukan bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan hanya oleh orang kesehatan tapi komponen lain seperti kementerian desa, ketahanan pangan, dan badan perencanaan daerah, ini harus terintegasi," tambah dia.

Pathurrahman berharap, penelitiannya dapat membuka mata para pengambil kebijakan untuk menekan angka stunting di Indonesia. Pasalnya stunting dapat menyebabkan gangguan kecerdasan, rentan terhadap penyakit menular saat dewasa dan akan sulit disembuhkan ketika anak telah berusia lebih dari dua tahun.

baca juga

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kasus Bayi Lahir Pendek Tinggi di NTT, Ini Komentar Menkes

Kasus Bayi Lahir Pendek Tinggi di NTT, Ini Komentar Menkes

Health | Selasa, 02 Mei 2017 | 21:28 WIB

Orangtua Pendek, Bisakah Anaknya Tinggi?

Orangtua Pendek, Bisakah Anaknya Tinggi?

Health | Rabu, 26 April 2017 | 19:13 WIB

Bikin Anak Bahagia, Yuk Panen Manfaatnya

Bikin Anak Bahagia, Yuk Panen Manfaatnya

Health | Minggu, 18 September 2016 | 06:33 WIB

Terkini

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:49 WIB

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:07 WIB

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:05 WIB

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:00 WIB

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Health | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:41 WIB

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:51 WIB

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03 WIB

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:14 WIB

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:45 WIB

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Health | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:01 WIB