Array

Studi: Perokok Kurang Mampu Atasi Rasa Takut

Minggu, 30 Juli 2017 | 13:16 WIB
Studi: Perokok Kurang Mampu Atasi Rasa Takut
Peserta Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau (FCTC) menggelar aksi Deklarasi 10 Mei FCTC untuk Indonesia di depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (10/5/2017). [suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Suara.com - Untuk kesekian kalinya, anjuran berhenti merokok mungkin sebaiknya harus dipertimbangkan.

Sebuah penelitian telah mengungkapkan bahwa merokok dapat membuat orang lebih rentan terkena fobia dan jenis ketakutan kronis lainnya seperti gangguan stres pasca trauma (PTSD).

Para peneliti telah menemukan bukti bahwa asap rokok dapat mengganggu kemampuan otak untuk menekan kenangan yang berhubungan dengan rasa takut, sehingga perokok kurang mampu mengatasi rasa takut dan cemas setelah peristiwa traumatis.

Ini bisa berdampak serius bagi orang-orang dalam pekerjaan di mana mereka paling berisiko menderita PTSD, seperti anggota angkatan bersenjata.

Dalam sebuah survei dikatakan, sekitar 33 persen tentara diyakini merupakan seorang perokok.

Para peneliti di balik penelitian ini percaya bahwa bahan kimia dalam tembakau dapat mengganggu pesan antara neuron di otak, yang juga dikenal sebagai neurotransmitter yang terlibat dalam mengendalikan rasa takut.

Peneliti utama Dr Jan Haaker dari University Medical Center di Hamburg, Jerman mengatakan bahwa intervensi larangan rokok terhadap pasien PTSD dapat membantu pemulihan mereka lebih baik.

Haaker menambahkan, intervensi awal untuk menghentikan kebiasaan merokok pada orang-orang yang berisiko, seperti tentara yang sedang bertempur, petugas pemadam kebakaran dan polisi, mungkin juga dapat mengurangi risiko timbulnya gangguan kecemasan.

Ini mungkin juga berperan dalam masalah fobia. Tim peneliti menguji tanggapan ketakutan pada 376 sukarelawan yang sehat, seperlima dari mereka adalah perokok biasa.

Baca Juga: Mau Merokok, Remaja di Bekasi Nekat Todong Pakai Airsoft Gun

Peneliti juga meminta peserta untuk menilai stres, ketakutan dan ketegangan mereka selama tes berlangsung.

Mereka menemukan bahwa perokok cenderung memiliki respons ketakutan yang lebih besar terhadap simbol setelah mereka diajari untuk menghubungkannya dengan sengatan listrik daripada orang yang bukan perokok.

Haaker mengatakan bahwa lebih banyak merokok, maka semakin sedikit kemampuan menghambat rasa takut. Hasilnya menunjukkan bahwa merokok mengganggu ingatan terkait rasa takut.

Hasilnya menunjukkan bahwa semakin lama orang merokok, semakin tinggi defisit dalam menghambat respons ketakutan. Para periset mencatat bahwa merokok mengubah keseimbangan neurotransmitter di otak, yang diperlukan untuk menjalani proses belajar yang baik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI