Angkie Yudistia, Sosok Anak Muda Inspiratif Pejuang Kaum Disabilitas

M. Reza Sulaiman | Firsta Nodia
Angkie Yudistia, Sosok Anak Muda Inspiratif Pejuang Kaum Disabilitas
Penyandang tunarungu Angkie Yudistia berjuang untuk kaum disabilitas. (Suara.com/Firsta Nodia)

Mengidap gangguan pendengaran tak bikin Angkie Yudistia patah semangat menjalani kehidupan.

Suara.com - Angkie Yudistia, Sosok Anak Muda Inspiratif Pejuang Kaum Disabilitas

Sosok Angkie Yudistia mungkin sudah tak asing lagi di telinga Anda. Apalagi wajahnya kini sudah sering menghiasi media massa sebagai sosok yang inspiratif.

Dalam acara Youth Town Hall Nasional yang dihelat Kementerian Kesehatan RI bersama Badan Kesehatan Dunia (WHO) Angkie kembali menyemangati kaum disabilitas agar tak menyerah dengan keterbatasan yang ada.

Sejak kecil Angkie sudah mengalami gangguan pendengaran atau tunarungu karena terserang malaria. Tak terhitung hinaan dari teman-teman atau orang yang mengetahui kekurangannya ini. Perasaan minder ada di benaknya, namun Angkie memutuskan untuk menembus batas.

"Teman disabilitas mungkin bingung mengenali potensinya karena selama ini fokus pada masalah kesehatannya. Tapi kita juga menentukan hidup kita. Kalau kita ingin biasa-biasa saja ya seperti ini. Tapi kalau mau jadi leader kita juga harus berupaya karena setiap orang terlahir jadi leader," ujar Angkie dalam pemaparannya di Youth Town Hall, Kamis (21/3/2019).

Angkie menambahkan bahwa siapapun, termasuk penyandang disabilitas berhak memiliki cita-cita yang tinggi. Ia mengimbau agar teman-teman disabilitas tidak membandingkan dirinya dengan orang lain karena setiap orang sebenarnya diciptakan berbeda.

Ia pun mencontohkan bahwa meski tuli, tidak menyurutkan keinginannya mengambil jurusan komunikasi saat kuliah. Angkie menunjukkan bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin selama kita yakin dan mau berusaha.

"Semua 'possible' selama kita yakin. Saya tidak bisa mendengar, tapi saya bisa lulus S1 dan S2 dengan cumlaude. Saya memang nggak bisa mendengar tapi saya bisa melihat. Saya berusaha menggunakan mata untuk mengakses informasi," imbuhnya.

Begitu juga saat memasuki dunia kerja, Angkie mengatakan bahwa tidak semua perusahaan percaya dengan kemampuan disabilitas. Ini menjadi tantangan tersendiri yang membuat Angkie melepaskan pekerjaannya dan memulai bisnis baru untuk menciptakan lapangan kerja bagi para disabilitas.

Angkie Yudistia berjuang agar kaum disabilitas tak menyerah dengan keterbatasan yang ada. (Suara.com/Firsta Nodia)
Angkie Yudistia berjuang agar kaum disabilitas tak menyerah dengan keterbatasan yang ada. (Suara.com/Firsta Nodia)

Saya sempet bekerja tapi saya merasa banyak komunitas disabilitas yang susah dapat pekerjaan. Hingga akhirnya saya merasa harus membuat perubahan. Kalau mau bergantung dengan pemerintah kita sebagai rakyat harus lebih banyak solusi daripada komplain," ujarnya.

Lewat usahanya yang bernama Thisable Enterprise, Angkie berusaha membuat program pengembangan skill bagi penyandang disabilitas.

"Aku percaya kita memiliki kesamaan hak untuk mendapatkan pekerjaan. Banyak teman-teman sesama disabilitas yang butuh kerjaan agar bisa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain," ujar dia.

Melalui program ini, Angkie ingin penyandang disabilitas tidak lagi dikasihani saat menjual produk atau jasa mereka, namun karena keberadaan mereka sangat dibutuhkan masyarakat.

"Selama lima tahun berdiri kita sudah memberi akses pada 3.000 disabilitas. Bahkan di tahun keenam siapa sangka dari yayasan sekarang bisa jadi perusahaan," tandas dia.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS